Gaza – Delapan bulan telah berlalu sejak kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza diketok pada 10 Oktober tahun lalu. Namun bagi dua juta lebih warga Palestina yang menyintas di sana, keheningan dari langit tidak otomatis menjelma menjadi rasa aman. Gencatan senjata terbukti hanya menjadi jeda teknis; operasi militer skala kecil, pembunuhan bertarget (targeted assassinations), serta blokade logistik yang masih mencekik, justru merawat neurosis massal ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Para praktisi kesehatan mental di lapangan berulang kali menegaskan satu tesis: dampak destruktif perang tidak berhenti saat artileri ditarik mundur. Fase pasca-bom justru menjadi awal dari krisis baru yang lebih rumit, akumulasi trauma, ketakutan kronis, dan hilangnya proyeksi masa depan (uncertainty).
Terjebak dalam Modus Siaga Jiwa
Di sepanjang koridor puing Gaza, hidup hari ini digambarkan warga seperti “bergantung di antara ruang perang dan ruang damai”. Ketiadaan jaminan keamanan membuat psikologis warga berada dalam status siaga penuh yang permanen, mencegah otak mereka kembali ke ritme fungsi normal.
Alaa Abdel Rahman, seorang ayah lima anak di kamp pengungsian Nuseirat, menceritakan bagaimana sistem sarafnya menolak percaya bahwa perang telah mereda.
“Pengeboman karpet yang masif memang berhenti. Tapi ketakutannya sama sekali tidak bergeser,” tutur Alaa. “Tiap kali dengar mesin drone atau dentuman kecil di kejauhan, tubuh ini langsung mengira perang dimulai lagi. Saya tidak bisa tidur normal. Sepanjang malam bisa terbangun berkali-kali cuma untuk meraba dada anak-anak saya, memastikan mereka masih bernapas.”
Kecemasan Alaa berbasis data objektif. Sejak kesepakatan gencatan senjata diteken, eskalasi minor di lapangan nyatanya tetap memakan korban. Data Kementerian Kesehatan Palestina mencatat, di masa “damai” ini, masih ada 936 korban jiwa baru dan 2.860 orang luka-luka, ditambah 781 jenazah yang baru berhasil dievakuasi dari balik reruntuhan beton.
Sementara itu, Ummu Mehran (35), ibu tiga anak yang dipaksa mengungsi berkali-kali sepanjang fase invasi, menyebut kesehariannya kini sebagai “perang urat saraf yang tak berkesudahan.”
“Saya cemas jatah makanan habis dan kelaparan massal berulang lagi. Saya takut bom jatuh lagi. Saya takut melihat masa depan anak-anak. Di depan mereka saya pura-pura tegap, tapi sering kali saya menangis tanpa alasan jelas. Rasanya seperti menua puluhan tahun hanya dalam hitungan bulan,” akunya.
Kondisi serupa mengkristal pada generasi muda. Hamada Rabi (22) melihat neurosis ini telah berkelindan dengan identitas generasinya. Menjadi sinis, mudah tersinggung, dan cemas adalah hal normal baru. “Kalau nongkrong sama teman-teman, tidak ada obrolan lain selain soal kehilangan, rumah yang hancur, dan utang. Mustahil menemukan anak muda di Gaza hari ini yang kepalanya masih waras seutuhnya.”
Normalisasi Trauma dan Angka yang Berbicara
Ada satu pergeseran sosiologis yang menarik di tengah runtuhnya layanan publik Gaza: meningkatnya kunjungan ke klinik-klinik psikologis darurat. Jika dulu isu kesehatan mental kerap dihambat oleh stigma sosial (social stigma), hari ini trauma begitu merata sehingga batas-batas tabu itu runtuh. Semua orang sadar mereka sedang sakit.
Laporan lapangan menunjukkan epidemi gejala klinis yang serupa pada anak-anak: mimpi buruk berulang, inkontinensia urin (ngompol) sekunder pada usia sekolah, degradasi kognitif (sulit fokus), hingga respons kejut berlebih (hyperarousal) terhadap suara mendadak.
Sejumlah badan internasional pada paruh pertama tahun 2026 ini merilis potret keparahan yang identik:
| Lembaga Internasional | Rilis Laporan (2026) | Temuan Utama / Estimasi Dampak |
| WHO | Health Emergency Appeal | ~1 juta orang di Gaza membutuhkan intervensi kesehatan mental dan dukungan psikososial spesifik. |
| UNICEF | The Gaza We Want (Februari) | ~1 miniun anak terpapar trauma berat akibat paparan langsung kekerasan ekstrem. |
| OCHA | Humanitarian Update (Mei) | Permintaan manajemen kasus gangguan jiwa berat jauh melampaui kapasitas fasilitas kesehatan yang tersisa. |
Menolak Pulih di Bawah Impunitas
Mengapa pemulihan psikologis (psychological recovery) mandek? Masalah utamanya ada pada ketiadaan kepastian politik dan rekonstruksi. Warga tidak pernah tahu apakah gencatan senjata ini akan bertahan hingga esok hari, kapan semen dan besi diizinkan masuk untuk membangun kembali rumah mereka, atau kapan listrik dan air bersih akan mengalir normal.
Selama bantuan kemanusiaan tetap dijadikan komoditas tawar-menawar politik oleh Tel Aviv, masyarakat Gaza dipaksa hidup dalam ruang liminal, sebuah ruang tunggu yang menyiksa tanpa batas waktu yang jelas.
Gencatan senjata, pada akhirnya, tidak bisa hanya dihitung dari jumlah hari tanpa ledakan fajar. Ia baru bermakna ketika detak jantung para penyintasnya kembali melambat ke frekuensi normal. Di Gaza hari ini, perdamaian psikologis itu masih menjadi kemewahan yang utopis. Jika dunia terus membiarkan pemulihan ini berjalan pincang tanpa tekanan politik yang riil, perang ini dipastikan akan mewariskan kerusakan genetik pada kesehatan mental generasi Palestina yang akan datang.










