Di tengah reruntuhan Gaza, ketika azan magrib berkumandang di antara bangunan yang patah dan jalan-jalan yang retak, muncul gelombang lain yang tak kalah agresif: kampanye digital terorganisir dari Israel. Kampanye ini gencar menyebarkan foto meja-meja iftar di antara puing, pasar yang tampak ramai, serta rak-rak yang terlihat penuh, seolah ingin menegaskan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza hanyalah narasi berlebihan.

Akun-akun pro-Israel memproduksi dan mendistribusikan konten visual yang dipilih secara selektif, dengan satu tujuan: menggoyahkan kredibilitas laporan internasional yang memperingatkan memburuknya situasi kemanusiaan. Potongan-potongan gambar dipisahkan dari konteksnya, lalu dipromosikan sebagai “bukti” bahwa kehidupan telah kembali normal.

Laporan Unit Sumber Terbuka Al Jazeera menelusuri pola ini. Konten yang diambil dari sudut tertentu (sebuah pasar yang sibuk, keluarga yang berbuka puasa) disebar luas untuk membangun narasi tandingan yang menyangkal penderitaan warga Gaza. Padahal, potret-potret itu hanya serpihan kecil dari lanskap krisis yang jauh lebih luas.

Salah satu akun yang memimpin kampanye ini adalah HonestReporting, yang membagikan potongan laporan televisi tentang pasar di Gaza yang dipenuhi barang dan pembeli. Cuplikan itu disertai insinuasi bahwa klaim kekurangan bantuan atau ancaman kelaparan adalah tidak berdasar. Tidak ada penjelasan bahwa tayangan tersebut hanyalah fragmen dari realitas kompleks yang masih rapuh.

Akun lain seperti GAZAWOOD1 dan Imshin rutin mempublikasikan video bertagar “TheGazaYouDontSee”, menampilkan suasana Ramadan yang hangat dan keluarga yang berkumpul untuk berbuka. Narasi yang dibangun sederhana namun efektif: jika ada makanan dan aktivitas pasar, maka krisis dianggap tidak ada.

Kampanye ini bahkan melangkah lebih jauh, dari sekadar menyangkal menjadi menuduh pemalsuan. Sebuah unggahan viral dari akun Eyal Yakoby mengklaim foto keluarga Palestina yang berbuka puasa sebagai hasil kecerdasan buatan. Tuduhan itu terbantahkan: foto tersebut diambil fotografer kantor berita dan mendokumentasikan keluarga yang berbuka di atas reruntuhan Masjid Abu Abbas al-Mursi di Gaza, dengan versi asli tersebar di berbagai platform media terverifikasi.

Pergeseran ini menunjukkan strategi baru: bukan lagi penyangkalan total, melainkan pembongkaran kepercayaan terhadap setiap citra penderitaan. Foto-foto yang merekam derita diposisikan sebagai manipulasi, sehingga publik didorong untuk meragukan bahkan bukti visual yang sah.

Namun, laporan-laporan internasional berbicara dengan bahasa data. Analisis yang didukung PBB pada Desember 2025, berbasis sistem Klasifikasi Tahap Ketahanan Pangan Terpadu (IPC), menyebut gencatan senjata Oktober hanya memberi perbaikan terbatas dalam distribusi pangan. Lebih dari 75 persen penduduk Gaza masih menghadapi tingkat kelaparan akut dan malnutrisi. Risiko kembali ke jurang kelaparan tetap terbuka jika bantuan terhenti atau eskalasi berulang.

Di sinilah letak ironi yang menyayat: momen-momen berbuka puasa yang hangat di tengah puing bukanlah bukti kelimpahan, melainkan cermin ketahanan. Banyak di antaranya adalah inisiatif solidaritas yang digerakkan lembaga amal untuk memberi makan para pengungsi. Itu adalah upaya bertahan hidup, bukan tanda kemakmuran.

Ramadan tahun ini memang terasa sedikit lebih sunyi dari dentuman bom dibanding dua tahun sebelumnya. Namun jeda bukan berarti pulih. Di antara asap yang belum sepenuhnya hilang, warga Gaza berusaha merawat sisa-sisa kehidupan: memasak dengan bahan seadanya, menyusun meja sederhana, mengumpulkan keluarga di bawah langit yang masih menyimpan trauma.

Ketahanan itu nyata. Penderitaan pun nyata. Mengambil satu bingkai harapan lalu menggunakannya untuk meniadakan seluruh krisis adalah bentuk distorsi yang berbahaya. Sebab di balik setiap foto iftar yang hangat, ada cerita panjang tentang kehilangan, kelaparan, dan perjuangan untuk tetap hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here