JAKARTA – Gelombang kemarahan internasional terhadap tindakan sepihak militer Israel kian memuncak. Sebanyak 11 negara secara resmi mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk keras serangan “tak sah” angkatan laut Israel terhadap iring-iringan Global Sumud Flotilla di perairan internasional, Kamis (30/4).
Negara-negara yang terdiri dari Yordania, Spanyol, Pakistan, Brasil, Bangladesh, Turki, Afrika Selatan, Kolombia, Libya, Maladewa, dan Malaysia tersebut mengeluarkan pernyataan melalui platform X. Mereka mengecam aksi pencegatan armada yang sedianya membawa bantuan kemanusiaan murni untuk menembus blokade zalim di Jalur Gaza.
“Penargetan kapal sipil dan penahanan aktivis kemanusiaan secara ilegal di perairan internasional adalah pelanggaran telanjang terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional,” tegas para menteri luar negeri dalam pernyataan bersama tersebut.
Para diplomat senior dari lintas benua ini juga mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas keselamatan para relawan sipil yang kini berada dalam sekapan militer Israel. Mereka mendesak Tel Aviv untuk segera membebaskan seluruh peserta misi tanpa syarat.
Intervensi Militer 1.000 Kilometer dari Daratan
Aksi militer Israel ini tergolong sangat agresif dan melampaui batas kewajaran. Radio militer Israel (Galei Tzahal) mengonfirmasi bahwa operasi besar-besaran tersebut dilakukan di dekat Pulau Kreta, Yunani. Lokasi ini berada di perairan internasional yang jaraknya terpaut lebih dari 1.000 kilometer dari garis pantai Israel.
Dalam laporannya, pihak militer mengklaim telah menguasai sedikitnya 21 kapal yang tergabung dalam armada tersebut. Meski diklaim berlangsung tanpa “insiden luar biasa” atau jatuhnya korban jiwa, militer Israel melontarkan ancaman bahwa mereka akan melanjutkan operasi serupa terhadap sisa kapal lainnya yang menolak tunduk pada perintah untuk berbalik arah.
Panggilan Nurani Dunia
Di sisi lain, para penyelenggara Global Sumud Flotilla tidak gentar. Mereka justru menyerukan kepada seluruh pemerintahan di dunia untuk segera bergerak, bukan sekadar mengecam, tapi menuntut pertanggungjawaban nyata dari Israel atas pelanggaran hukum laut internasional ini.
Misi ini, menurut penyelenggara, adalah respon atas nurani dunia yang tersayat melihat genosida yang terus berlangsung di Gaza. Blokade yang telah berlangsung belasan tahun kian mencekik nyawa warga Palestina pasca-perang pemusnahan yang menghancurkan infrastruktur kehidupan di sana.
Dukungan dari 11 negara ini menjadi sinyal kuat bahwa narasi keamanan yang selalu digelorakan Israel mulai kehilangan taringnya di hadapan komunitas internasional. Kini, dunia menunggu apakah Dewan Keamanan PBB dan lembaga hukum internasional berani mengambil langkah nyata untuk menegakkan keadilan di laut bebas, atau membiarkan hukum rimba merajalela di Mediterania.
Sumber: Al-Jazeera










