Perjalanan menuju satu kisah di Gaza kali ini terasa berbeda. Setiap langkah seperti tertahan. Di benak, satu pertanyaan terus berulang: bagaimana menemui Afnan, perempuan yang kehilangan rumahnya sebulan sebelum pernikahan, lalu kehilangan tunangannya hanya sebulan kemudian?
Ketika memasuki rumah duka, jawabannya hadir dalam suasana yang sunyi dan berat. Wajah-wajah tertunduk, air mata mendahului kata-kata. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ucapan selamat justru dipenuhi pelayat. Ruang yang mestinya membicarakan gaun pengantin dan resepsi, berubah menjadi ruang kehilangan.
Rumah hilang, pengantin menyusul
Setelah satu tahun lebih masa pertunangan, Mahmoud Al-Brim (37) mempersiapkan rumahnya untuk memulai hidup baru. Ia memperbaiki bagian yang rusak, menata ruang, membayangkan hari ketika ia dan Afnan Al-Najjar memulai kehidupan bersama.
Namun rencana itu runtuh ketika perluasan zona militer yang dikenal sebagai “garis kuning” mendekati wilayah mereka. Rumah yang hampir siap dihuni hancur, tepat sebulan sebelum hari pernikahan.
Saat itu, Afnan masih mencoba bertahan pada satu hal yang tersisa.
“Tidak apa-apa, yang penting Mahmoud selamat. Di mana pun dia tinggal, saya akan ikut,” katanya.
Pernyataan itu mencerminkan prioritas yang sederhana, pengantin lebih penting daripada rumah. Namun perang tidak berhenti di situ.
Pada 9 April 2026, Mahmoud berjalan di Jalan Salahuddin, Khan Younis, sambil menghubungi keluarganya. Ia memberi kabar akan segera pulang dan mengajak mereka berkumpul untuk menentukan lokasi resepsi.
Tak lama setelah panggilan itu berakhir, ledakan besar terdengar. Beberapa saat kemudian, kabar yang datang mengakhiri segalanya: Mahmoud syahid.
Afnan bergegas ke Rumah Sakit Nasser. Di sana, ia berdiri di hadapan tubuh tunangannya yang beberapa menit sebelumnya masih berbicara tentang pernikahan.
“Saya memegang kepalanya. Bau harum masih terasa. Wajahnya seperti biasa. Saya tidak percaya dia sudah syahid, bahkan ketika saya melihatnya langsung,” ujarnya.
Yang tersisa kini hanya cincin pertunangan. Gaun pengantin dibatalkan. Hari-hari yang semula menuju pesta berubah menjadi hari berkabung. Dalam hitungan minggu, keluarga itu kehilangan dua hal sekaligus: rumah dan calon mempelai pria.
Malam pernikahan yang berubah jadi pengungsian
Kisah lain datang dari Abdel Azim Daher. Sehari sebelum pernikahannya, ia masih memperbaiki rumah di kawasan Shujaiya, Gaza timur. Rumah itu belum sempurna, tapi cukup untuk memulai hidup.
Ia memasang jendela, menata ruang, membawa perabot sederhana. Malam itu, acara henna digelar, tradisi terakhir sebelum pernikahan.
Namun malam yang sama membawa perubahan mendadak. Perluasan “garis kuning” kembali terjadi. Wilayah mereka tiba-tiba menjadi zona berbahaya. Warga berlarian meninggalkan rumah.
Daher dan keluarganya ikut mengungsi. Rumah yang seharusnya menjadi tempat resepsi keesokan hari kemudian hancur akibat serangan.
Pernikahan tertunda tiga bulan. Ketika akhirnya terlaksana menjelang Ramadan, situasinya sudah berbeda. Ia tidak lagi memiliki rumah. Harga sewa melonjak hingga 700 dolar AS per bulan, angka yang sulit dijangkau, apalagi bagi pasangan baru.
Kini, ia tinggal bersama istri dan lebih dari sepuluh anggota keluarga lainnya dalam satu bangunan sempit tanpa privasi yang memadai.
Yang hilang bukan hanya rumah, tetapi juga momen untuk memulai hidup seperti yang direncanakan.
Kehilangan yang meluas: dari pabrik hingga mata pencaharian
Dampak perang juga memukul sektor ekonomi warga. Issam Al-Harazin (49), seorang penjahit, kehilangan pabrik yang ia bangun selama puluhan tahun di kawasan Zeitoun, Gaza timur.
Sejak usia 14 tahun, ia menekuni dunia jahit-menjahit hingga memiliki pabrik seluas 170 meter persegi dengan 40 mesin. Usahanya menghidupi sekitar 30 pekerja.
Setelah gencatan senjata Oktober lalu, ia sempat mencoba bangkit. Ia memperbaiki pabrik dan bahkan memasang sistem tenaga surya senilai lebih dari 21 ribu dolar AS.
Namun pada 30 Juni 2025, selebaran evakuasi dijatuhkan sebelum serangan dilakukan. Ia terpaksa meninggalkan pabrik dan rumahnya.
“Semua hilang. Mesin, kain, semuanya,” katanya.
Sebanyak tujuh ton kain musnah, sebagian terbakar, sisanya tertimbun reruntuhan. Tiga puluh pekerja kehilangan mata pencaharian dalam sekejap.
“Saya kehilangan sejarah hidup saya. Seperti hati saya dicabut,” ujarnya.
Kini ia hidup dengan kenangan, bau kain dan suara mesin jahit yang tak lagi ada.
Dari restoran ke kios kecil
Cerita serupa dialami Mohammed Yassin (42), ayah enam anak. Restorannya di Shujaiya dulu menjadi bagian dari kehidupan warga sekitar, tempat makan sekaligus ruang sosial.
Setelah kembali dari pengungsian pada akhir 2023, ia mencoba membuka kembali usahanya. Ia memperbaiki dapur seadanya dan bersiap menyambut Ramadan.
Namun sebelum sempat menjual satu porsi makanan pun, serangan kembali terjadi. Kerusakan terulang, dan kawasan itu perlahan kosong dari aktivitas warga.
Kini, ia hanya memiliki kios kecil di Zeitoun. Ia menjual makanan sederhana dengan harga yang tetap ia jaga terjangkau.
Meski begitu, ia tidak berbicara seperti orang yang menyerah. Bagi Yassin, Shujaiya masih bagian dari hidupnya. Restorannya, meski kini tinggal kenangan, tetap ia anggap ada, menunggu untuk kembali.
Sumber: Al Jazeera










