RAMALLAH — Jaringan Samidoun untuk Pembelaan Tahanan Palestina mendesak masyarakat internasional bertindak menghentikan kekerasan terhadap tahanan perempuan Palestina di penjara-penjara Israel. Pelanggaran yang dilaporkan mencakup penyerbuan paksa, pemukulan, penyemprotan gas, pencopotan hijab secara paksa, isolasi berkepanjangan, hingga pengabaian layanan medis.

Samidoun secara khusus menyoroti kondisi jurnalis Palestina, Bushra al-Tawil, 33 tahun. Menurut jaringan tersebut, ia telah menjalani isolasi dan mengalami berbagai bentuk pembatasan selama sekitar 50 hari.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin, 19 Oktober, Samidoun menyebut sekitar 90 tahanan perempuan Palestina menghadapi pelanggaran sistematis. Mereka dinilai menjadi sasaran karena aktivitas jurnalistik, advokasi hak asasi manusia, kegiatan kemahasiswaan, serta sikap mereka mempertahankan hubungan dengan keluarga, tanah air, dan hak rakyat Palestina untuk merdeka.

Al-Tawil masih ditahan tanpa dakwaan maupun persidangan melalui mekanisme penahanan administratif. Pekan lalu, perintah penahanannya kembali diperpanjang selama empat bulan, meskipun kondisi fisik dan psikologisnya dilaporkan terus memburuk.

Bushra al-Tawil: Isolasi, pemukulan, dan akses pengobatan yang terbatas

Samidoun menjelaskan, al-Tawil kembali diculik pada 5 Februari 2026 di sebuah pos pemeriksaan militer dekat Ramallah. Ia kemudian dibawa ke pusat interogasi Moskobiya sebelum dipindahkan ke Penjara Damon dan dikenai penahanan administratif.

Selama ditahan, al-Tawil dilaporkan berulang kali dipindahkan ke sejumlah fasilitas isolasi. Ia juga mengalami pemukulan, penyemprotan gas, penghinaan verbal, serta pengawasan terus-menerus melalui kamera.

Dalam salah satu proses pemindahan, dua sipir dilaporkan memukul kepalanya menggunakan borgol logam. Serangan tersebut menyebabkan pembengkakan di sisi kanan kepalanya. Setelah itu, ia dibiarkan dalam kondisi terborgol selama dua jam di dalam sel yang sangat panas.

Menurut Samidoun, kondisi kesehatan al-Tawil juga terganggu akibat kudis, nyeri bahu berkepanjangan, serta kekeringan pada mata, kulit, dan tangan. Ia mengalami mati rasa pada kedua tangan akibat terlalu lama diborgol.

Kebutuhan dasarnya pun dilaporkan tidak terpenuhi secara layak. Ia menghadapi kekurangan makanan, air bersih, pakaian yang sesuai, dan perlengkapan kebersihan.

Al-Tawil bukan kali pertama ditahan. Samidoun mencatat, ia telah berulang kali diculik sejak 2011. Ia sempat dibebaskan dalam dua kesepakatan pertukaran tahanan, yakni kesepakatan Wafa al-Ahrar pada 2011 dan kesepakatan Taufan al-Ahrar pada Januari 2025. Namun, otoritas Israel kembali menculiknya.

Jaringan tersebut mengaitkan penindakan terhadap al-Tawil dengan pekerjaan jurnalistiknya, terutama peliputan mengenai tahanan Palestina dan keluarga mereka.

Secara terpisah, Perhimpunan Jurnalis Palestina menyerukan lembaga internasional dan organisasi profesi pers untuk turun tangan melindungi al-Tawil. Mereka meminta pemantauan terhadap kondisi kesehatan fisik dan mentalnya, penghentian isolasi, serta pembebasannya. Organisasi media juga didesak memberi perhatian lebih besar terhadap kasus tersebut.

Penyerbuan Penjara Damon: Gas, pemukulan, dan isolasi massal

Kekerasan terhadap tahanan perempuan juga dilaporkan terjadi di Penjara Damon. Kantor Media Tahanan Palestina mendokumentasikan sejumlah penyerbuan terhadap blok tahanan perempuan. Klub Tahanan Palestina menyatakan pasukan Israel menyerbu blok tersebut tiga kali pada 7 Oktober dan menggunakan gas air mata serta granat kejut. Sejumlah tahanan mengalami sesak napas akibat serangan itu.

Dalam insiden tersebut, para tahanan dilaporkan diseret ke halaman penjara, diborgol, lalu dipaksa berbaring di tanah. Petugas juga merekam mereka dan melontarkan penghinaan. Para tahanan perempuan dipaksa mengurai kepangan rambut, sementara 15 orang dipindahkan ke sel isolasi.

Serangan berlanjut pada hari berikutnya. Petugas menyemprotkan gas merica ke dalam kamar dan fasilitas mandi, menyebabkan sejumlah tahanan muntah dan kesulitan bernapas. Mereka juga dilaporkan dipukuli dan dipaksa tetap berbaring di lantai dalam kamar yang dipenuhi gas.

Dampaknya turut dirasakan tahanan lanjut usia. Seorang tahanan perempuan hamil juga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan hingga harus dibawa ke klinik penjara.

Desakan agar lembaga internasional bertindak

Samidoun menilai pelanggaran terhadap tahanan perempuan merupakan bagian dari pola penahanan, penyiksaan, dan represi yang lebih luas terhadap rakyat Palestina. Jaringan tersebut mendesak penghentian isolasi terhadap al-Tawil dan seluruh tahanan perempuan, penyediaan layanan medis independen, serta perlindungan dari kekerasan di dalam penjara.

Samidoun juga meminta pembebasan para tahanan Palestina yang masih berada di penjara-penjara Israel. Komite Internasional Palang Merah dan lembaga internasional lainnya didesak mengambil langkah konkret untuk menindaklanjuti berbagai pelanggaran yang telah dilaporkan.

Selain itu, jaringan tersebut menyerukan kelompok-kelompok Palestina, organisasi solidaritas, gerakan perempuan, serikat pekerja, dan organisasi kemahasiswaan untuk memperkuat kampanye pembelaan terhadap tahanan perempuan. Salah satu inisiatif yang disebut adalah kampanye Membongkar Damon (Tafkik al-Damon).

Samidoun juga mendorong penyelenggaraan aksi publik untuk menekan pihak berwenang agar menghentikan penyiksaan, isolasi, dan berbagai pelanggaran terhadap tahanan Palestina.

Sumber: Palinfo Arabic

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here