GAZA/KAiro — Angka resmi menunjukkan adanya peningkatan cukup berarti dalam volume barang dan bantuan yang masuk ke Jalur Gaza dalam beberapa bulan terakhir. Namun, perbaikan itu belum banyak terasa dalam kehidupan sehari-hari warga maupun perekonomian Gaza.
Barang yang masuk belum mampu memulihkan keseimbangan pasar. Daya beli warga tetap terpuruk, lapangan kerja belum pulih, dan roda produksi belum kembali bergerak untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Pasokan yang tersedia masih didominasi bantuan kemanusiaan yang jumlahnya belum mencukupi seluruh kebutuhan serta barang komersial yang sebagian besar bersifat konsumtif. Masalahnya, banyak warga Gaza sudah kehilangan kemampuan untuk membeli barang tersebut. Pada saat yang sama, bahan baku, generator listrik, suku cadang, serta peralatan produksi masih masuk dalam jumlah terbatas.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar berapa banyak truk yang masuk ke Gaza. Yang lebih menentukan adalah apa yang dibawa truk-truk itu, barang apa yang dilarang atau tertahan, siapa yang bisa mengaksesnya, berapa biayanya, dan apakah pasokan tersebut hanya cukup untuk mempertahankan kehidupan atau juga memungkinkan warga kembali bekerja, berproduksi, dan memperoleh pendapatan.
Israel mengendalikan pergerakan barang menuju Gaza. Kebijakan itu bukan hanya memengaruhi ketersediaan dan harga barang di pasar, tetapi juga menentukan sejauh mana perekonomian Gaza dapat memulihkan kembali perangkat produksinya.
Jalur Masuk Barang ke Gaza
Saat ini, Kerem Shalom menjadi satu-satunya titik operasional bagi truk yang membawa barang dan bantuan ke Jalur Gaza. Pasokan tersebut datang melalui sejumlah jalur, antara lain dari Israel, Mesir, Yordania, dan Tepi Barat, dengan mengikuti mekanisme koordinasi serta persetujuan yang berlaku.
Secara umum, truk yang masuk terbagi menjadi dua kategori.
Pertama, bantuan kemanusiaan, yang dibawa truk milik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), organisasi internasional, serta lembaga-lembaga yang telah mendapat izin dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait.
Kedua, barang komersial, yang masuk melalui sejumlah pedagang dan perusahaan yang telah mendapat persetujuan, dengan mekanisme dan prosedur khusus.
Pertanyaannya kemudian: apa sebenarnya yang masuk ke Gaza?
Bantuan Baru Memenuhi 15 Persen Kebutuhan
Kementerian Pembangunan Sosial Gaza mengatakan kepada Al Jazeera bahwa bantuan yang masuk saat ini baru memenuhi sekitar 15 persen kebutuhan. Lebih dari 95 persen penduduk Gaza, menurut kementerian tersebut, sepenuhnya bergantung pada bantuan, sementara lebih dari 90 persen warga telah kehilangan kemampuan untuk membeli kebutuhan mereka sendiri.
Juru bicara kementerian, Aziza al-Kahlout, mengatakan basis data mereka mencatat sekitar 513 ribu keluarga yang membutuhkan bantuan.
Kebutuhan yang menjadi prioritas saat ini meliputi makanan, air minum, bantuan tunai, tempat tinggal, obat-obatan, perlengkapan medis, bahan bakar, kebutuhan kebersihan, perlindungan, serta dukungan psikologis dan sosial.
Menurut al-Kahlout, persoalan bantuan di Gaza berlangsung pada tiga lapis yang saling berkaitan.
Pertama, jumlah bantuan yang masuk masih kurang dan belum berkelanjutan. Kedua, bantuan yang sudah tiba pun sulit didistribusikan kepada penerima karena keterbatasan bahan bakar dan sarana transportasi, serta kerusakan infrastruktur. Ketiga, jenis bantuan yang tersedia belum cukup beragam untuk mengikuti kebutuhan warga yang terus berubah.
Inflasi Masih 200 Persen
Jika bantuan kemanusiaan berkaitan dengan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar, barang komersial bergantung pada kemampuan warga untuk membelinya. Kehadiran barang di pasar tidak otomatis membuat barang tersebut terjangkau.
Data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menunjukkan inflasi di Gaza masih berada sekitar 200 persen di atas tingkat sebelum Oktober 2023. Pada akhir Agustus lalu, inflasi tercatat mencapai 206 persen.
Ekonom Muhammad Abu Jiab menyebut situasi tersebut sebagai krisis ganda. Di satu sisi, barang yang masuk ke pasar memiliki biaya tinggi. Di sisi lain, kemampuan masyarakat untuk membeli telah runtuh.
Kenaikan harga, kata dia, bukan semata-mata disebabkan kelangkaan barang. Biaya transportasi, penyimpanan, energi, serta risiko yang menyertai proses distribusi ikut mendorong harga naik. Pada akhirnya, seluruh biaya tersebut dibebankan kepada konsumen.
Dengan demikian, membaiknya arus barang tidak cukup diukur dari ada atau tidaknya barang di rak toko. Ukurannya juga harus dilihat dari kemampuan keluarga Gaza untuk mengakses dan membelinya.
Baru Seperlima dari Kebutuhan Barang Komersial
Data Kamar Dagang Gaza menunjukkan rata-rata barang komersial yang benar-benar masuk hanya sekitar 200 truk per hari. Angka itu jauh di bawah batas minimum sekitar 600 truk per hari yang sebelumnya disepakati.
Untuk menciptakan kondisi pasar yang relatif stabil dan mendukung pemulihan ekonomi, Gaza diperkirakan membutuhkan sekitar 1.000 truk komersial setiap hari.
Namun, jumlah truk bukan satu-satunya persoalan.
Direktur Hubungan Masyarakat dan Media Kamar Dagang Gaza, Khalil Atallah, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa komposisi barang di dalam truk justru menjadi persoalan yang lebih penting. Sekitar 95 persen barang yang diizinkan masuk, menurut perkiraannya, merupakan barang konsumsi. Hanya sekitar 5 persen yang berkaitan dengan kegiatan produksi.
Data OCHA mencatat sebanyak 3.627 truk komersial masuk ke sektor swasta Gaza pada Agustus lalu. Jumlah itu naik 116 truk dibandingkan Juli.
Namun, kebutuhan penting masih belum terpenuhi. Di antaranya bahan bakar dan minyak, suku cadang kendaraan dan mesin, perlengkapan energi, peralatan desalinasi air, bahan baku pertanian dan industri, serta peralatan operasional.
Kondisi tersebut membuat pasar Gaza menerima barang untuk dikonsumsi, tetapi kekurangan perangkat yang diperlukan untuk kembali menghasilkan barang.
Daftar Barang yang Ditolak
Kesenjangan pasokan tidak berhenti pada jumlah barang yang masuk atau kemampuan warga membelinya. Daftar barang yang diizinkan dan barang yang dikategorikan otoritas Israel sebagai “barang penggunaan ganda” juga menentukan volume serta jenis pasokan yang dapat masuk ke Gaza.
Menurut OCHA, masuknya barang yang dikategorikan Israel sebagai barang “penggunaan ganda” masih sangat terbatas. Barang-barang tersebut harus melalui proses persetujuan yang lebih panjang dan dalam banyak kasus berakhir dengan penolakan.
PBB menyebut sejumlah barang yang dapat terdampak pembatasan tersebut, antara lain tenda, terpal, kayu, tali, pita, peralatan, perlengkapan memasak, serta sistem energi surya.
Pembatasan ini pada akhirnya membatasi kemampuan lembaga kemanusiaan untuk memperluas bantuan tempat tinggal dan mempersiapkan warga menghadapi musim dingin.
Ekonom Abu Jiab mengatakan pemulihan Gaza tidak cukup hanya dengan meningkatkan bantuan kemanusiaan. Perdagangan dan produksi juga harus kembali berjalan.
“Bantuan diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi perdagangan memungkinkan ekonomi kembali bergerak. Sementara itu, input produksi memungkinkan terciptanya pekerjaan dan pendapatan,” ujarnya.
Kamar Dagang Gaza mencatat jumlah importir yang sebelum perang mencapai lebih dari 2.000 orang kini menyusut menjadi hanya sekitar 10 hingga 13 importir. Penurunan tersebut terjadi di tengah pembatasan akses dan pergerakan, serta meningkatnya risiko dan biaya perdagangan.
Mesir Tingkatkan Bantuan ke Gaza
Di tengah keterbatasan tersebut, Mesir terus mengirim bantuan ke Gaza.
Data dari pihak Mesir menunjukkan sekitar 13 ribu ton bantuan dan 75 ribu paket makanan telah masuk ke Gaza dalam kurun sepekan.
Direktur Eksekutif Bulan Sabit Merah Mesir yang bertanggung jawab mengatur proses pengiriman bantuan ke Gaza, Amal Imam, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dalam beberapa waktu terakhir terdapat peningkatan keteraturan dalam masuknya truk bantuan.
Menurut dia, peran Bulan Sabit Merah Mesir terbatas pada proses pengiriman bantuan. Lembaga tersebut juga mengumumkan setiap hari jumlah bantuan yang telah berhasil disalurkan. Sekitar 75 ribu sukarelawan terlibat dalam proses pengiriman bantuan ke Gaza.
Bantuan yang dikirim setiap hari mencakup kebutuhan dasar warga Gaza, mulai dari makanan, pakaian, obat-obatan, hingga bahan bakar untuk mengoperasikan rumah sakit dan toko roti.
Saat ini, persiapan juga dilakukan untuk menghadapi musim dingin yang diperkirakan akan semakin menyulitkan warga yang masih tinggal di tenda dan tempat pengungsian.
Bersiap Menghadapi Musim Dingin
Juru bicara Komite Mesir di Jalur Gaza, Muhammad Mansour, mengatakan sebuah konvoi bantuan besar Mesir telah dikirim ke wilayah Gaza bagian tengah pada Ahad lalu. Pengiriman itu dilakukan menjelang musim dingin dan karena kondisi cuaca yang semakin berat.
Konvoi tersebut membawa paket makanan, tenda, paket obat-obatan, serta selimut tebal untuk dibagikan kepada keluarga yang mengungsi dan warga yang masih menjadikan tenda-tenda yang telah rusak sebagai tempat tinggal.
Dalam periode 27 September hingga 3 Oktober 2026, sekitar 13 ribu ton bantuan dan 75 ribu paket makanan masuk ke Gaza dari wilayah Mesir. Bantuan itu dikirim melalui enam konvoi dalam program “Zad al-Izzah”, sebuah inisiatif Mesir untuk Gaza yang disalurkan melalui Bulan Sabit Merah Mesir.
Menurut data Bulan Sabit Merah Mesir, hanya dalam sepekan terakhir sekitar 3.000 ton bahan bakar cair telah dikirim untuk mengoperasikan rumah sakit dan fasilitas vital lainnya.
Sejak perang di Gaza dimulai, total bantuan yang telah dikirim melalui Bulan Sabit Merah Mesir disebut mencapai sekitar 1 juta ton.
Namun, di tengah angka-angka tersebut, persoalan utama Gaza tetap belum berubah: bukan hanya berapa banyak bantuan yang masuk, melainkan apakah warga memiliki cukup makanan untuk bertahan, cukup daya beli untuk memenuhi kebutuhan, dan cukup bahan baku untuk kembali bekerja.
Sumber: Al Jazeera










