Jejak langkah warga Palestina memanfaatkan perut bumi untuk memukul mundur pasukan teroris Israel bukanlah taktik instan yang lahir kemarin sore. Penguasaan ruang bawah tanah itu ternyata sudah berakar jauh sejak dekade 1960-an silam.
Selepas tragedi Naksa 1967 hingga tahun 1971, faksi-faksi pejuang dan kelompok fedai yang bernaung di bawah payung Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) telah lebih dulu merintis operasi bawah tanah secara gerilya di Jalur Gaza.
Mereka menyusup dan bersembunyi lewat jaringan lorong rahasia yang tersembunyi rapat di balik lebatnya kebun-kebun jeruk dan lahan pertanian.
Berdasarkan dokumentasi episode perdana serial investigasi Gaza: Kisah yang Belum Terungkap bertajuk “Sejarah Sebuah Bangsa”, para pejuang masa itu memanfaatkan lubang-lubang tanah tersembunyi di antara pepohonan sebagai titik tolak penyergapan dan mobilitas taktis.
Gerilya bawah tanah ini baru berangsur surut setelah militer Israel mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menyisir, membongkar, hingga meledakkan mulut-mulut terowongan tersebut.
Pilihan ekstrem ini diambil bukan tanpa alasan. Tokoh perlawanan Palestina saat itu, Yasser Arafat, pernah menegaskan bahwa dunia internasional dan PBB terbukti mandul meski ditunggu sejak 1968. Di tengah impitan pendudukan dan penderitaan jutaan pengungsi, mengangkat senjata dan berjuang di medan laga menjadi satu-satunya jalan keluar yang tersisa.
Mengulas taktik klasik tersebut, Direktur Lembaga Riset Forensic Architecture London, Eyal Weizman, menilai ada ironi geopolitik yang tajam di balik strategi itu. Ketika Israel menguasai penuh wilayah udara dan sebagian besar daratan Gaza, para pejuang Palestina justru memegang kendali penuh di bawah permukaan tanah.
“Ruang di bawah tanah adalah satu-satunya bagian Palestina yang gagal direbut Israel,” ujar Weizman dalam dokumenter tersebut. “Ia adalah satu-satunya jengkal wilayah Palestina yang merdeka.”
Kenangan atas era itu turut dihidupkan kembali oleh jurnalis independen asal Gaza, Abu Bakr Bashir. Ia mengenang memori masa kecilnya tatkala menyaksikan para pejuang berkedok penutup wajah berlarian di antara lorong-lorong permukiman, menghindari buruan serdadu pendudukan.
Pola perlawanan bawah tanah itu terus berevolusi hingga dekade terakhir. Dalam dua dasawarsa belakangan, faksi perlawanan merajut labirin terowongan modern yang jauh lebih kompleks.
Jaringan bawah tanah inilah yang terbukti menjadi momok terbesar militer Israel pasca-operasi “Taufan Al-Aqsa”, di mana pertempuran jarak dekat dan taktik gerilya meremukkan formasi lapis baja musuh serta menelan ribuan korban jiwa di pihak tentara pendudukan.
Disarikan dari dokumenter Al Jazeera









