GAZA — Setelah tiga tahun perang genosida Israel dan pengungsian berkepanjangan, muncul tragedi lain yang mengancam kehidupan anak-anak Gaza. Sebagian dari mereka tumbuh tanpa benar-benar mengenal rumah, apartemen berdinding beton, atau fasilitas dasar yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

Sejak membuka mata, mereka hanya mengenal tenda, tempat penampungan sementara, dan perpindahan dari satu lokasi ke lokasi lain. Akibatnya, rumah berdinding beton justru terasa asing. Ada anak yang gembira bermain di lantai keramik, tetapi ada pula yang ketakutan, menangis ketika masuk ke dalam rumah, bahkan menolak menaiki tangga.

Bagi generasi ini, tenda bukan lagi tempat berlindung sementara. Itulah satu-satunya bentuk rumah yang mereka kenal.

Tenda menjadi satu-satunya rumah

Palestina Hasnain menceritakan bahwa keempat anaknya, Mahmoud, Hassan, Ibrahim, dan Haitham, tidak pernah merasakan kehidupan yang stabil di rumah dengan dapur dan ruang keluarga.

Anak bungsunya bahkan belum memahami fungsi stopkontak listrik. Ketidaktahuan itu nyaris membuatnya celaka ketika berada di sebuah rumah tetangga.

“Kepada saya, anak-anak bertanya mengapa kami tidak tinggal di rumah beton seperti orang lain. Sementara itu, saya menahan kerinduan untuk kembali, membersihkan rumah, dan menjalani kehidupan yang layak seperti dulu, jauh dari kerasnya hidup di tenda,” kata Palestina kepada Al Jazeera.

Kerinduan untuk kembali ke rumah bercampur dengan kenyataan bahwa anak-anaknya tumbuh dalam lingkungan yang jauh berbeda dari kehidupan sebelum perang. Hal-hal yang dulu dianggap biasa kini justru menjadi sesuatu yang tidak mereka pahami.

Berkunjung ke rumah terasa seperti rekreasi

Muhammad Abu al-Kas juga melihat bagaimana pengungsian berkepanjangan mengubah cara anak-anak memahami rumah. Mereka tidak mengenal banyak hal mendasar di dalam hunian, termasuk keran air.

Menurut Muhammad, harapan sederhana anak-anak saat ini berkisar pada kehidupan di tenda dan upaya mengambil air dari luar menggunakan jeriken.

Ketika diajak mengunjungi kerabat yang tinggal di apartemen berlantai keramik, anak-anak itu justru menganggap kunjungan tersebut sebagai kegiatan rekreasi. Mereka bermain di lantai yang keras, sesuatu yang jarang mereka rasakan selama tinggal di tenda.

Muhammad menunjuk Tala, seorang anak perempuan yang kehilangan ayahnya akibat perang. Rumahnya juga hancur, hingga ia tidak lagi mengingat seperti apa tempat tinggalnya dahulu. Dalam usia yang masih belia, Tala bahkan terpaksa tumbuh lebih cepat daripada anak-anak seusianya. Ia pernah menggendong bayi di pangkuannya dan ikut merawatnya.

“Bahkan kami yang sudah dewasa pun melupakan kehidupan di rumah,” ujar Muhammad. Ia mengatakan, mereka telah terbiasa dengan tenda beserta seluruh kesulitan di dalamnya. Bagi banyak pengungsi, harapan terbesar kini sesederhana memiliki tenda dan mendapatkan air.

Rumah dianggap taman bermain atau hotel

Fida Sukkar menceritakan pengalaman serupa yang dialami putranya, Ahmad. Anak itu lahir beberapa bulan sebelum perang pecah dan sejak kecil hanya mengenal kehidupan di tenda serta perpindahan berulang kali.

Melihat tangga dan dinding beton bisa membuat Ahmad panik. Ia bahkan berusaha membenturkan tubuhnya ke dinding karena mengira permukaan keras itu hanya lembaran kain seperti dinding tenda. Ia juga bisa menangis histeris dan menolak berada di ruangan beratap beton karena tidak terbiasa dengan lingkungan tersebut.

“Dia tumbuh dengan mengenal tenda dari kain dan nilon,” kata Fida kepada Al Jazeera.

Bagi Ahmad, bangunan yang bagi orang lain terasa biasa justru menjadi sumber ketakutan. Ia tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk memahami lingkungan rumah sebagaimana anak-anak yang tumbuh dalam kondisi normal.

Israa al-Kafarna, ibu lima anak, juga mengatakan bahwa tenda telah menjadi satu-satunya gambaran rumah dalam ingatan anak-anaknya.

Ketika dibawa ke bangunan berdinding beton, mereka memandang lampu dan berbagai fasilitas di dalamnya dengan takjub sekaligus heran. Mereka tidak terbiasa dengan detail kehidupan rumah tangga yang dikenal generasi sebelumnya. Bagi mereka, tempat itu lebih menyerupai taman bermain, wahana ayunan, atau bahkan sirkus.

“Pernah suatu kali saya membawa anak-anak ke rumah paman mereka di sebuah pusat pengungsian yang tidak jauh dari tempat kami. Mereka langsung bermain seluncuran di lantai. Mereka seperti tidak percaya sedang berada di luar tenda, seolah-olah masuk hotel,” tutur Israa.

Rumah tinggal dalam ingatan

Ala Rajab menghadapi kenyataan serupa bersama putranya, Yusuf. Ketika perang pecah, Yusuf baru berusia satu tahun. Ia belum memahami arti kamar, dapur, rak, perabot rumah tangga, kamar mandi, ataupun tempat tidur.

Bagi Ala, hal yang paling menyakitkan adalah melihat anak-anak tumbuh tanpa kestabilan dan rasa aman di sebuah rumah tetap.

“Yang lebih menyakitkan bagi kami adalah rumah kami sudah dihancurkan. Sebelum ini, kami tidak pernah hidup di tenda dan tidak pernah membayangkan akan mengalami keadaan seperti sekarang,” ujarnya.

Berbeda dengan anak-anak yang sama sekali tidak memiliki ingatan tentang rumah, Omar al-Harazin masih mengingat tempat tinggal keluarganya sebelum dihancurkan oleh Israel.

Ia mengenang lima kamar, tempat tidur miliknya sendiri, dan dapur keluarga di lantai tiga sebuah bangunan lima lantai di kawasan Syujaiya, sebelah timur Kota Gaza.

Kenangan itu kini berbanding terbalik dengan kehidupan yang ia jalani bersama keluarganya. Mereka tinggal di sebuah tenda usang yang tidak menyediakan kebutuhan dasar untuk hidup secara layak.

Bagi Omar, rumah masih hadir dalam ingatan. Namun, bagi anak-anak yang lahir menjelang atau selama perang, pengalaman tentang rumah yang kokoh, kamar sendiri, dan kehidupan keluarga yang stabil mungkin tak pernah mereka miliki.

Ratusan ribu unit hunian terdampak

Kisah anak-anak tersebut mencerminkan dampak panjang kehancuran tempat tinggal di Gaza. Menurut Biro Pusat Statistik Palestina, hingga 16 Juni lalu, sebanyak 201.290 bangunan terdampak perang genosida yang telah berlangsung selama tiga tahun. Bangunan-bangunan itu mencakup total 328.627 unit hunian.

Sekitar 2,15 juta orang dari total 2,4 juta penduduk Gaza hidup dalam kondisi kemanusiaan yang sangat berat, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza. Dari jumlah tersebut, sekitar 800 ribu orang tinggal di tenda yang dinilai tidak layak untuk kehidupan manusia.

Pada September lalu, kantor tersebut menyatakan bahwa 60 persen tenda pengungsian telah usang dan perlu segera diganti. Jumlahnya mencapai 162 ribu tenda dari total 270 ribu tenda yang digunakan warga.

Di tengah kerusakan rumah dan pengungsian yang berkepanjangan, dampak perang tidak hanya terlihat pada bangunan yang hancur. Anak-anak Gaza juga kehilangan kesempatan untuk tumbuh dalam lingkungan yang stabil, mengenal rumah sebagai tempat aman, dan menjalani masa kecil sebagaimana anak-anak lainnya.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here