JERICO — Sekelompok pemukim Israel, dengan perlindungan tentara penjajah Israel, merampas delapan rumah milik warga Palestina di kawasan Duyuk, sebelah barat Kota Jericho, Tepi Barat, Rabu malam (5/11). Pengambilalihan itu memicu kekhawatiran akan semakin meluasnya ekspansi permukiman ilegal Israel di wilayah tersebut.
Organisasi hak asasi Al-Baidar dalam pernyataannya menyebut delapan keluarga pemukim memasuki delapan rumah Palestina setelah menguasainya dalam kondisi yang disebut “misterius”. Organisasi itu menilai kejadian tersebut sebagai perkembangan serius yang mengancam keberadaan warga Palestina di Jericho.
Al-Baidar mendesak agar seluruh fakta di balik pengambilalihan rumah itu diungkap. Organisasi tersebut juga meminta perlindungan terhadap properti dan hak-hak warga Palestina, serta pemantauan terhadap dampak hukum dan kemanusiaan dari tindakan tersebut.
Pembelian rahasia dan serangan terhadap aktivis
Surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, melaporkan delapan keluarga Yahudi memasuki rumah-rumah di wilayah yang diklasifikasikan sebagai Area C setelah proses “pembelian rahasia” yang dipimpin gerakan permukiman Nahala, dengan dukungan Dewan Permukiman Israel di Tepi Barat bagian tengah.
Area C mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat. Kawasan ini umumnya berada di luar pusat-pusat permukiman Palestina dan sepenuhnya di bawah kendali Israel. Warga Palestina juga menghadapi pembatasan ketat untuk membangun rumah di wilayah tersebut.
Sementara itu, gerakan Peace Now menyebut para aktivis hak asasi manusia yang berada di lokasi melaporkan kedatangan sekitar 30 pemukim Israel pada siang hari. Sebagian di antara mereka membawa senjata dan didampingi tentara.
Kelompok tersebut kemudian menguasai sejumlah rumah di Ain Duyuk, menyerang aktivis Israel, merampas barang-barang mereka, serta menembak seorang warga Palestina hingga terluka di bagian kaki.
Serangan terhadap kawasan itu bukan kali pertama terjadi. Pada Februari lalu, lebih dari 50 pemukim Israel datang bersama sejumlah buldoser dan menghancurkan 15 rumah serta bangunan lainnya. Mereka juga mengambil berbagai barang milik warga, mulai dari emas, peralatan listrik, fasilitas pertanian, hingga ternak domba.
Dalam peristiwa tersebut, pemukim Israel turut mengancam akan membakar warga jika mereka kembali ke rumah masing-masing.
Puluhan rumah terancam dibongkar
Jihad Mahalis, anggota komite warga Duyuk Tahta, mengatakan kepada Al Jazeera Net bahwa pengambilalihan rumah kali ini merupakan kejadian pertama di kawasan tersebut. Meski demikian, wilayah itu selama ini berulang kali menjadi sasaran operasi militer Israel, terutama untuk menghancurkan rumah atau mengeluarkan pemberitahuan penghentian pembangunan dan pembongkaran.
Menurut Mahalis, delapan rumah yang kini dikuasai pemukim Israel sebenarnya telah menerima pemberitahuan pembongkaran. Para pemilik rumah sedang mengurus perkara tersebut melalui lembaga-lembaga Israel yang berwenang.
Namun, ia memperkirakan keputusan pembongkaran kemungkinan tidak akan dijalankan setelah rumah-rumah itu dikuasai pemukim.
Mahalis menjelaskan, kawasan Duyuk merupakan bagian dari Kota Jericho, berjarak sekitar 2.000 meter dari pusat kota. Wilayah tersebut dihuni sekitar 2.500 orang dan memperoleh pelayanan dari pemerintah kota Jericho. Namun, sebagian kawasan masuk dalam klasifikasi Area C, termasuk lokasi delapan rumah yang kini dikuasai pemukim.
Dalam empat tahun terakhir, tentara penjajah Israel telah menghancurkan lebih dari 50 rumah di kawasan tersebut. Selain itu, sekitar 50 rumah lainnya telah menerima pemberitahuan pembongkaran.
Pada Rabu malam, Bulan Sabit Merah Palestina juga mengumumkan telah membawa seorang warga Palestina dan seorang aktivis asing ke rumah sakit. Keduanya mengalami luka setelah dipukuli pemukim Israel di kawasan Duyuk.
Rangkaian pengambilalihan rumah, penghancuran bangunan, dan serangan terhadap warga serta aktivis menambah tekanan terhadap masyarakat Palestina di sekitar Jericho. Warga kini menghadapi ancaman kehilangan tempat tinggal sekaligus pembatasan yang semakin besar atas tanah dan ruang hidup mereka.
Sumber: Al Jazeera dan sejumlah kantor berita.










