GAZA — Di lapangan Al-Anan, Gaza tengah, sejumlah perempuan dengan kaki yang telah diamputasi saling mengoper bola. Dengan bertumpu pada kruk dan sisa tenaga yang mereka miliki, mereka berlari mengejar bola, berusaha mengumpan dan menjaga keseimbangan. Cedera dan keterbatasan fisik tak menghentikan mereka untuk bermain.

Di pinggir lapangan, Nelly al-Masri mengikuti pertandingan itu dengan kameranya. Fotografer olahraga tersebut sesekali berlari, lalu berjongkok untuk mengabadikan jalannya pertandingan dan kisah perjuangan para pemain.

Namun, tantangan yang direkam Nelly melalui kameranya kini juga menjadi bagian dari kehidupannya sendiri. Beberapa hari sebelumnya, ia baru mengetahui bahwa dirinya mengidap kanker payudara. Ia pun harus menghadapi perjuangan baru yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Nelly bekerja sebagai fotografer jurnalistik yang mengkhususkan diri pada olahraga. Ia juga menjadi pelatih olahraga di sebuah klub di Gaza.

Kepada Al Jazeera Net, Nelly bercerita bahwa ia sempat merasakan benjolan keras di salah satu sisi payudaranya. Ia mengira benjolan itu muncul karena mengangkat beban yang terlalu berat atau melakukan gerakan olahraga dengan teknik yang keliru.

Awalnya, ia mengabaikan benjolan tersebut. Namun, karena tidak kunjung hilang, ia memutuskan pergi ke rumah sakit.

Setelah menjalani pemeriksaan selama beberapa pekan, dokter memastikan bahwa ia mengidap kanker payudara.

Sejak saat itu, Nelly menghadapi dua persoalan sekaligus: kecemasan menghadapi rangkaian pengobatan yang belum sepenuhnya ia ketahui dan tekad untuk tidak membiarkan penyakit tersebut menghentikan aktivitas maupun pekerjaannya.

Ada satu kekhawatiran lain yang terus membayangi. Sebagai jurnalis, Nelly mengetahui betapa terbatasnya persediaan obat dan fasilitas medis di Gaza. Ia sadar, perjuangannya bukan hanya melawan kanker, melainkan juga mencari jalan agar bisa memperoleh pengobatan.

Karena itu, ia berupaya mengajukan rujukan medis untuk menjalani perawatan di luar Gaza. Sambil menunggu, ia tetap menjalani aktivitas sehari-hari dan tidak ingin menghentikan hidupnya hanya karena diagnosis tersebut.

Fasilitas Diagnosis dan Pengobatan Menyusut

Nelly merupakan satu dari 947 perempuan penderita kanker payudara di Gaza. Data yang disampaikan Kementerian Kesehatan Gaza kepada Al Jazeera Net itu merupakan bagian dari total 11.230 pasien kanker di wilayah tersebut.

Direktur medis Pusat Kanker Gaza, Dr. Muhammad Abu Nada, mengatakan perang telah melemahkan kemampuan fasilitas kesehatan untuk mendiagnosis dan mengobati kanker payudara.

Sebelum perang, Gaza memiliki sekitar 20 unit mamografi untuk mendeteksi kelainan pada payudara. Kini, menurut Abu Nada, hanya tiga unit yang masih tersisa, itu pun dengan kemampuan terbatas.

Pemeriksaan jaringan yang diperlukan untuk mengetahui karakteristik tumor juga tidak seluruhnya dapat dilakukan. Salah satunya adalah pemeriksaan reseptor hormon yang membantu dokter menentukan karakteristik kanker dan pilihan terapi.

Keterbatasan fasilitas tidak berhenti pada tahap diagnosis. Abu Nada mengatakan sekitar 40 persen pasien kanker membutuhkan radioterapi, sementara layanan tersebut tidak tersedia di Gaza.

Ketiadaan radioterapi turut memengaruhi keputusan dokter dalam menentukan tindakan operasi. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat terpaksa mengangkat seluruh payudara, bukan hanya jaringan tumor, karena khawatir pasien tidak dapat melanjutkan radioterapi setelah operasi.

Bagi pasien, keputusan tersebut berarti menghadapi tindakan bedah yang lebih berat akibat terbatasnya pilihan pengobatan.

Masalah lain muncul dalam terapi kemoterapi. Menurut Abu Nada, kekurangan obat membuat dokter harus mencari alternatif. Dalam sejumlah kasus, tenaga medis bahkan terpaksa menggunakan obat yang telah melewati tanggal kedaluwarsa setelah berkonsultasi dengan otoritas kesehatan terkait.

Situasi itu menempatkan pasien kanker pada pilihan yang sulit ketika mereka berusaha menyelesaikan rangkaian terapi yang telah ditentukan.

Abu Nada memperkirakan kekurangan obat meningkat dari sekitar 50 persen sebelum perang menjadi 70–80 persen saat ini. Kekurangan tersebut mencakup obat kemoterapi, obat pereda nyeri, dan obat-obatan yang berkaitan dengan terapi imun.

Perang juga mengurangi ketersediaan tenaga medis spesialis. Sejumlah dokter dan pekerja kesehatan syahid, sementara yang lain meninggalkan Gaza atau ditahan. Akibatnya, layanan diagnosis dan pengobatan kanker ikut terganggu, termasuk pemeriksaan jaringan yang dibutuhkan untuk menentukan penanganan pasien.

Sebelum perang, Gaza mencatat sekitar 360 kasus baru kanker payudara setiap tahun, menurut Abu Nada. Jumlah kasus yang tercatat turun menjadi 250 pada 2024 dan 260 pada 2025.

Namun, ia menilai penurunan itu tidak serta-merta menunjukkan berkurangnya kasus kanker. Banyak perempuan kesulitan mengakses layanan kesehatan, sedangkan sistem pencatatan dan pemantauan pasien juga mengalami kerusakan.

Artinya, sebagian pasien berisiko tidak terdiagnosis atau tidak tercatat. Di saat yang sama, perempuan yang berhasil mencapai pusat pengobatan masih harus menghadapi persoalan lain: keterbatasan fasilitas dan ketidakpastian ketersediaan obat.

Kemoterapi Terhenti karena Obat Tak Tersedia

Dari rumah sakit khusus kanker yang sebelumnya menjadi rujukan pasien dari Gaza utara hingga selatan, layanan pengobatan kini dipindahkan ke bangunan sementara berukuran kecil di kompleks medis Al-Shifa.

Bangunan semacam barak itu hanya terdiri atas beberapa ruangan sempit dan sebuah lorong kecil. Di tempat tersebut, pasien yang menunggu giliran kemoterapi bercampur dengan mereka yang sedang menjalani pengobatan.

Al Jazeera Net menemui Zainab Anbar ketika ia menjalani kemoterapi di fasilitas tersebut.

Saat itu pukul satu siang. Zainab mengatakan ia telah berangkat dari Kamp Shati pada pukul setengah delapan pagi agar bisa menaiki bus yang mengangkut pasien kanker menuju kompleks medis Al-Shifa.

Zainab sebelumnya menjalani operasi pengangkatan payudara sekaligus pengangkatan tiga kelenjar getah bening. Hasil pemeriksaan menunjukkan salah satu kelenjar tersebut telah terkena kanker.

Menurut Zainab, dokter merekomendasikan pengangkatan seluruh payudara karena radioterapi tidak tersedia. Biaya operasi yang harus ia tanggung mencapai sekitar 5.000 shekel, atau sekitar US$1.350.

Namun, operasi tersebut bukan akhir dari rangkaian pengobatannya.

Zainab telah menyelesaikan empat dosis kemoterapi jenis yang disebut sebagai kemoterapi putih. Sesuai rencana terapi, ia seharusnya melanjutkan dengan empat dosis kemoterapi berikutnya yang dikenal sebagai kemoterapi merah.

Rencana itu terancam gagal karena obat yang dibutuhkannya tidak tersedia di Gaza.

Bagi Zainab, operasi pengangkatan payudara dan empat dosis kemoterapi yang telah dijalani belum cukup untuk menyelesaikan pengobatan. Ia masih membutuhkan terapi lanjutan, tetapi ketersediaan obat berada di luar kendalinya.

Kisah Zainab menunjukkan bahwa mendapatkan diagnosis dan menjalani operasi tidak menjamin seorang pasien dapat menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatan. Ketika obat tidak tersedia, proses pemulihan yang telah dimulai bisa terhenti.

Dua Tahun Menunggu Rujukan Medis

Tidak semua pasien kanker payudara di Gaza bersedia menjalani pengobatan di dalam wilayah tersebut. Susan al-Nahal memilih menolak perawatan di Gaza dan terus berupaya mendapatkan rujukan medis agar dapat menjalani pengobatan di luar negeri.

Keputusan itu diambil karena ia khawatir fasilitas kesehatan di Gaza tidak mampu menyediakan seluruh kebutuhan terapinya. Susan mengatakan penyakitnya telah berkembang dan menyebar dari payudara ke paru-paru.

Ia telah menunggu rujukan medis selama hampir dua tahun, tetapi belum juga dapat berangkat. Sementara itu, penyakitnya terus berkembang dan penderitaannya semakin berat.

Al Jazeera Net menemui Susan di tenda tempat tinggalnya di Kamp Basmat Amal, sebuah kamp di Gaza tengah yang diperuntukkan bagi pasien kanker. Kamp itu dihuni 65 keluarga, yang masing-masing memiliki sedikitnya satu anggota keluarga penderita kanker.

Di dalam tenda, Susan berusaha mempertahankan keteraturan hidupnya. Ia menata barang-barang dengan rapi, seolah berupaya menjaga sebagian kebiasaan dari kehidupannya sebelum perang. Namun, menurutnya, perubahan yang dialami keluarga itu terlalu besar untuk ditutupi oleh hal-hal kecil tersebut.

Sebelum perang, keluarganya memiliki 10 unit apartemen yang tersebar di Rafah dan Beit Hanoun. Kini, sebagian bangunan itu telah hancur, sementara lainnya berada di kawasan yang termasuk dalam wilayah yang dikenal sebagai Garis Kuning.

Susan mengatakan keluarganya kehilangan seluruh properti tersebut. Ia mengaitkan kemunculan penyakitnya dengan kemerosotan kondisi psikologis setelah kehidupannya berubah drastis dan ia kehilangan apa yang selama ini dimiliki.

Kesaksiannya menggambarkan beban yang harus ditanggung pasien kanker di Gaza. Mereka tidak hanya berhadapan dengan penyakit, tetapi juga kehilangan tempat tinggal, ketidakpastian ekonomi, dan terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan.

Bagi Susan, persoalan utamanya bukan penolakan terhadap pengobatan. Ia justru ingin menjalani perawatan yang menurutnya dapat dilakukan secara memadai di luar Gaza. Namun, selama rujukan medis belum disetujui dan perjalanan belum dapat dilakukan, ia harus menunggu dalam kondisi penyakit yang terus berkembang.

Kanker Terus Berkembang, Pasien Menunggu Izin Keluar

Perempuan penderita kanker payudara di Gaza kini menghadapi rangkaian hambatan yang saling berkaitan. Fasilitas diagnosis menyusut, pilihan operasi menjadi lebih terbatas, obat kemoterapi sulit diperoleh, dan akses terhadap pengobatan di luar wilayah bergantung pada rujukan serta izin perjalanan.

Bagi sebagian pasien, kekurangan fasilitas dapat memengaruhi keputusan operasi. Bagi yang lain, obat yang tidak tersedia mengancam kelanjutan kemoterapi. Sementara itu, pasien yang membutuhkan perawatan di luar Gaza harus menunggu tanpa kepastian kapan mereka dapat berangkat.

Kondisi tersebut membuat waktu menjadi persoalan yang sangat menentukan. Kanker membutuhkan penanganan medis sesuai kondisi pasien, tetapi proses pengobatan mereka tersendat oleh keterbatasan fasilitas, obat, dan akses keluar dari Gaza.

Nelly al-Masri masih berusaha menjalani kehidupan dan pekerjaannya sembari mencari jalan untuk memperoleh pengobatan. Zainab Anbar telah menjalani operasi dan sejumlah dosis kemoterapi, tetapi harus menghadapi ketidakpastian karena obat lanjutan tidak tersedia. Susan al-Nahal menunggu rujukan selama hampir dua tahun ketika penyakitnya, menurut kesaksiannya, telah menyebar ke paru-paru.

Ketiganya menghadapi keadaan yang berbeda, tetapi berhadapan dengan persoalan yang sama: kemampuan memperoleh pengobatan tidak hanya ditentukan oleh diagnosis dan keputusan dokter. Ketersediaan fasilitas, obat, dan akses menuju layanan kesehatan di luar Gaza juga menentukan peluang mereka untuk melanjutkan terapi.

Di tengah perang dan kehancuran sistem kesehatan, pasien kanker payudara harus berjuang agar pengobatan mereka tidak berhenti di tengah jalan. Penyakit terus berkembang, sementara sebagian dari mereka masih menunggu obat atau izin untuk meninggalkan Gaza demi mendapatkan perawatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here