GAZA — Tumpukan reruntuhan masih mengepung warga lingkungan Zaitun, utara Jalur Gaza. Jalan-jalan hancur akibat serangan Israel, sementara alat berat untuk membersihkannya nyaris tak tersedia. Dalam kondisi itu, warga terpaksa mengangkat puing dengan tangan kosong agar jalan bisa dilalui dan kehidupan sehari-hari sedikit lebih mudah dijalani.
Hampir seluruh jalan di Zaitun hancur akibat genosida. Warga kini hanya bisa mencapai pasar melalui Jalan Salahuddin, jalur utama yang menurut seorang penduduk juga menjadi lokasi berbahaya karena pasukan penjajah Israel menargetkan orang-orang yang melintas di sana.
Untuk menghindari risiko tersebut, warga berusaha membuka jalur alternatif dengan memindahkan puing secara manual. Sebagian bahkan membongkar sisa rumah mereka yang masih berdiri. Mereka terpaksa berpindah dari satu rumah ke rumah lain atau berjalan di atas timbunan reruntuhan karena jalanan tak lagi bisa digunakan.
Dalam laporan Al Jazeera Mubasher, sejumlah warga meminta lembaga internasional mengirimkan peralatan untuk membersihkan puing-puing yang menutup jalan. Mereka berharap akses antarkawasan dapat kembali terbuka sehingga aktivitas sehari-hari tidak lagi bergantung pada jalur yang berada dalam jangkauan pasukan Israel.
Seorang warga lain mengatakan, Zaitun yang berbatasan dengan Garis Kuning mengalami kehancuran parah. Penduduk yang masih bertahan di sana menghadapi ancaman keamanan sekaligus kekurangan kebutuhan pokok.
Situasi itu membuat sebagian warga memilih membersihkan reruntuhan dengan tangan sendiri, bahkan merobohkan sisa bangunan, demi membuka jalan secara terbatas.
Material dari bangunan yang dihancurkan juga dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga mereka, termasuk menghidupi anak-anak.
Tanpa jalan, tanpa tenda
Terletak di bagian utara Gaza, Zaitun menghadapi kekurangan hampir segala hal. Sebagian besar penduduknya tercerai-berai, sementara banyak keluarga tidak memiliki tenda untuk berlindung ketika musim dingin tiba. Mereka juga tidak bisa mendekati Garis Kuning yang berada di bawah kendali pasukan Israel.
Untuk mendapatkan bahan bakar, makanan, atau air, warga harus berjalan melewati timbunan puing dan bangunan yang ambruk. Mendapatkan kebutuhan paling mendasar pun berubah menjadi perjuangan yang melelahkan sekaligus berbahaya.
Sejumlah pemilik alat berat berusaha membantu membersihkan reruntuhan. Namun, mereka terbentur keterbatasan peralatan, suku cadang, dan oli. Seorang operator buldoser mengatakan, satu unit alat berat membutuhkan sekitar empat kilogram oli setiap pekan. Biayanya mencapai 15.000 shekel Israel atau sekitar US$4.880.
Biaya perbaikan satu ban juga mencapai 1.500 shekel, setara sekitar US$488. Menurut operator tersebut, ongkos perawatan yang tinggi hampir menghabiskan seluruh pendapatannya sehingga pekerjaan membersihkan jalan nyaris tidak memberinya keuntungan.
Risiko yang dihadapi bukan hanya persoalan biaya. Operator itu mengatakan pernah menjadi sasaran serangan pesawat nirawak jenis quad-copter Israel, meskipun pekerjaan yang dilakukannya telah dikoordinasikan dengan militer Israel.
Ia menegaskan bahwa pekerjaannya semata-mata membuka jalan dan mengangkat puing untuk mengurangi penderitaan warga. Ia tidak melakukan kegiatan militer maupun menimbulkan ancaman, tetapi tetap menghadapi serangan.
Alat berat terbatas, kerusakan meluas
Warga kesulitan membersihkan puing dan membuka jalan karena minimnya truk pengangkut, buldoser, dan ekskavator. Di tengah keterbatasan itu, mereka berusaha mengurangi penderitaan yang semakin berat akibat berbagai persoalan di pengungsian, termasuk menyebarnya tikus di antara tenda-tenda.
Sejak hari pertama gencatan senjata, Pemerintah Kota Gaza mulai mengangkat puing dan membuka kembali jalan, terutama jalur utama. Upaya tersebut ditujukan untuk mempermudah pergerakan ambulans dan tim pertahanan sipil, sekaligus memungkinkan warga mencapai rumah sakit.
Seorang pegawai pemerintah kota mengatakan, pihaknya juga berupaya membantu membuka jalan-jalan di Zaitun. Namun, pekerjaan itu terkendala minimnya alat berat serta mahalnya biaya penyewaan peralatan dari sektor swasta.
Hingga saat laporan Al Jazeera diterbitkan, sekitar 100 ribu ton puing telah diangkat dari kawasan tersebut. Pegawai itu menyebut capaian tersebut masih seperti “setetes air di lautan” jika dibandingkan dengan skala kehancuran yang harus ditangani.
Di Kota Gaza, wilayah tengah Jalur Gaza, pemerintah kota bersama sejumlah organisasi internasional telah mengangkat hingga 1,5 juta ton puing dari total sekitar 2,4 juta ton. Mereka juga telah meratakan lebih dari 200 ribu meter persegi lahan dari sekitar satu juta meter persegi yang masih membutuhkan pengerjaan.
Puing yang berhasil dikumpulkan sebagian didaur ulang dan digunakan untuk meratakan serta memperbaiki permukaan jalan. Langkah ini diharapkan mempermudah warga menjangkau rumah mereka. Namun, proses pemulihan masih membutuhkan alat berat seperti buldoser dan ekskavator, serta pasokan suku cadang dan oli.
Skala kerusakan infrastruktur jalan di Gaza menunjukkan beratnya pekerjaan tersebut. Menurut pegawai pemerintah kota itu, sekitar 800 kilometer dari total jaringan jalan sepanjang 910 kilometer di Jalur Gaza hancur selama genosida.
Di Zaitun, dampak kehancuran itu terasa dalam kehidupan sehari-hari. Warga bukan hanya kehilangan rumah dan akses jalan, tetapi juga harus mempertaruhkan keselamatan untuk mendapatkan makanan, air, dan bahan bakar.
Ketika alat berat dan bantuan belum mencukupi, mereka terpaksa membersihkan reruntuhan dengan tangan kosong, sementara ancaman serangan masih membayangi.
Sumber: Al Jazeera










