TEPI BARAT- Musim panen zaitun di Tepi Barat kembali diwarnai ketegangan. Militer teroris Israel menculik puluhan warga Palestina di berbagai wilayah. Di saat bersamaan, eskalasi teror pemukim ekstremis Yahudi terus menghantui para petani yang tengah memanen zaitun di kebun mereka.
Mengutip keterangan Kantor Informasi Tahanan (sebuah lembaga non-pemerintah) pasukan Penjajah Israel menculik sedikitnya 50 orang. Dua di antaranya perempuan, disusul sejumlah mantan tahanan politik. Puluhan warga lain sempat ditahan dan diinterogasi di lapangan sebelum akhirnya dilepaskan.
Lembaga tersebut menyoroti meluasnya jangkauan operasi militer di berbagai wilayah Tepi Barat yang secara khusus menargetkan mantan tahanan beserta keluarga mereka.
Sisir operasi militer ini merata. Di Hebron, wilayah selatan Tepi Barat, 22 warga diculik setelah tentara mengacak-acak rumah mereka di kawasan Idhna, Deir Samit, dan As-Samu. Di Bethlehem, lima warga Desa Husan diculik, termasuk Wali Kota Tuqu’ yang dijemput paksa dari kediamannya usai penggerebekan.
Di utara Tepi Barat, tepatnya Qalqilya, pasukan Israel menahan 11 warga. Sembilan di antaranya adalah mantan tahanan, ditambah seorang istri dan ibu dari mantan tahanan. Pemandangan serupa terjadi di Nablus, Jenin, dan Ramallah, di mana belasan pemuda digiring dari rumah mereka di tengah malam.
Di Jenin, operasi militer berujung pada penangkapan enam orang, sementara di Nablus lima pemuda ditahan dari Desa Madama. Di Ramallah, seorang pemuda diculik dari rumahnya di kawasan Al-Hashimiya, Al-Bireh.
Siasat Sistematis Melumpuhkan Petani
Di luar operasi militer, ancaman tak kalah mematikan datang dari kelompok pemukim Yahudi. Koresponden Al Jazeera melaporkan sejumlah petani Palestina terluka akibat serangan pemukim saat sedang memetik zaitun di kawasan Wadi Al-Sha’er, Distrik Salfit.
Insiden lain dilaporkan oleh media lokal di Wadi ‘Abwein, utara Ramallah, ketika tentara Israel menggunakan pengeras suara untuk mengusir paksa para petani dan pemetik zaitun dari lahan mereka.
Komisi Perlawanan Tembok dan Pemukiman Palestina menegaskan bahwa teror pemukim ini bukan kekerasan acak, melainkan instrumen sistematis. Tujuannya jelas: melumpuhkan akses warga Palestina terhadap lahan mereka sendiri sekaligus memuluskan jalan bagi perluasan permukiman ilegal.
“Praktik bertani dan menggembala kini menjadi aktivitas yang sangat berbahaya dan berisiko tinggi,” tulis lembaga pemerintah tersebut dalam pernyataannya, Rabu lalu.
Intimidasi ini datang dalam berbagai wujud,mulai dari penembakan tembakan, pemukulan, penangkapan, perampasan hasil panen, hingga pembabatan pohon zaitun dan penyerbuan desa. Sejak musim panen zaitun dimulai awal Oktober, teror pemukim dan pembatasan oleh Israel kian tak terkendali.
Kekerasan di Tepi Barat dan Al-Quds Timur ini bak api yang tersulut oleh genosida di Gaza. Eskalasi penyerangan telah merenggut nyawa 1.210 warga Palestina, melukai 13.350 orang, dan menjebloskan 26 ribu lainnya ke balik jeruji besi.
Angka kerusakan properti dan lahan pertanian pun tak kalah mengerikan. Data Komisi Perlawanan mencatat, sejak Oktober 2023, pemukim telah melancarkan lebih dari 14.742 serangan yang menewaskan 66 warga Palestina di Tepi Barat.
Teror ini juga menyasar urat nadi ekonomi warga. Lebih dari 147.111 pohon (dengan 100.485 di antaranya adalah pohon zaitun) hancur akibat ditebang, dibakar, diracuni, maupun dicabut hingga ke akar-akarnya.
Sumber: Al Jazeera & Kantor Berita Internasional










