PALESTINA- Suhu yang merosot hingga titik beku dan ancaman banjir bandang siap menerjang Jalur Gaza serta Tepi Barat. Bagi 540 ribu anak-anak dan keluarga pengungsi yang bertahan di balik tenda-tenda darurat, cuaca ekstrem bukan cuma urusan menggigil. Tapi, musim dingin soal hidup dan mati.
UNICEF memperkirakan Gaza membutuhkan US$ 97,5 juta untuk menghadapi musim dingin kali ini.
“Bagi ratusan ribu anak, musim dingin bukan kesulitan musiman, melainkan ancaman nyata terhadap kelangsungan hidup dan keselamatan mereka,” ujar Jonathan Fitch, Perwakilan Khusus UNICEF untuk Negara Palestina, dikutip Al Jazeera.
Program bantuan musim dingin ini dirancang mengover periode kritis dari Oktober 2026 hingga Maret 2027. UNICEF memprioritaskan keluarga pengungsi yang mendiami tempat penampungan seadanya dan berisiko tinggi diterjang banjir, paparan suhu ekstrem, serta terputusnya akses layanan dasar.
Paket bantuan mendesak mencakup pakaian hangat, selimut termal, serta penguatan struktur tenda darurat. Tak kalah krusial, UNICEF menggenjot pembersihan saluran drainase, pengangkutan sampah padat, dan perlindungan fasilitas sanitasi agar air banjir tak tercemar limbah yang memicu wabah penyakit.
Namun, urusan perlengkapan musim dingin baru separuh cerita. Ketersediaan air bersih dan pasokan medis yang konstan menjadi penentu utama apakah warga Gaza mampu melewati musim dingin ini atau tidak.









