RAMALLAH — Selama tiga pekan bertepatan dengan rangkaian hari raya Yahudi, ritual keagamaan dan doa-doa Taurat mendominasi suasana di kompleks Masjid Al-Aqsa. Pada saat yang sama, ratusan warga Palestina justru dijauhkan secara paksa dari masjid melalui keputusan pelarangan masuk yang dikeluarkan otoritas Israel.
Pelanggaran terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa kini tak lagi sebatas aksi ratusan pemukim yang memasuki kompleks melalui rute tertentu. Selama tiga pekan musim hari raya, lebih dari 11 ribu pemukim Israel tercatat melakukan penyerbuan, berhenti di sejumlah titik, dan menjalankan ritual keagamaan di dalam kompleks.
Menurut pemantauan Pusat Informasi Wadi Hilweh di Al-Quds, sebagian besar pemukim menempuh rute lengkap di dalam kompleks. Mereka masuk melalui Gerbang Maghariba di sisi selatan tembok barat, kemudian bergerak melewati bagian selatan, timur, utara, dan barat kompleks sebelum keluar melalui Gerbang As-Silsilah di bagian tengah tembok barat.
Sebagian lainnya menggunakan rute lebih pendek dari Gerbang Maghariba menuju Gerbang As-Silsilah. Pola ini memungkinkan lebih banyak pemukim masuk selama sekitar enam setengah jam waktu penyerbuan.
Rombongan datang secara bergelombang. Setiap kelompok berjumlah sekitar 70 hingga 120 orang. Hingga empat kelompok dapat berada di dalam kompleks secara bersamaan di titik berbeda. Dengan pola tersebut, arus pemukim dapat terus berlangsung sepanjang jam penyerbuan.
Di sisi lain, pemandangan jamaah Muslim yang biasanya memenuhi Al-Aqsa nyaris menghilang. Akses warga Al-Quds untuk menunaikan salat dibatasi sehingga kompleks yang semestinya dipenuhi jamaah justru terlihat sepi, sementara pemukim leluasa menjalankan aktivitas keagamaannya.
Bagaimana penyerbuan berlangsung?
Aksi masuk ke Al-Aqsa secara terorganisasi dengan pengawalan polisi Israel dimulai pada 2003. Penyerbuan dilakukan melalui Gerbang Maghariba, yang kuncinya dikuasai Israel setelah menduduki wilayah Al-Quds yang tersisa pada 1967.
Aksi tersebut berlangsung pada dua periode, sebelum dan sesudah tengah hari, dari Ahad hingga Kamis.
Selama penyerbuan, sebagian pemukim tidak sekadar berjalan mengikuti rute yang telah ditentukan. Mereka berhenti di sejumlah lokasi untuk melakukan doa dan ritual keagamaan.
Kawasan timur kompleks menjadi salah satu titik utama. Kelompok-kelompok pemukim terlihat berkumpul, duduk, bersujud, menyanyikan nyanyian keagamaan, dan melakukan ritual dengan suara keras.
Menurut Pusat Informasi Wadi Hilweh dan data Pemerintah Kota Al-Quds, rangkaian tindakan tersebut menjadi lebih terbuka selama musim hari raya tahun ini. Sejumlah menteri, rabi, dan pejabat Israel turut hadir, antara lain Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, pemimpin Partai Zehut Moshe Feiglin, dan Rabbi Yehuda Glick.
Lebih dari 11 ribu pemukim dalam tiga pekan
Istilah “musim hari raya Yahudi” merujuk pada rangkaian perayaan yang berlangsung sepanjang September hingga awal Oktober. Berdasarkan data Pemerintah Kota Al-Quds, hingga Kamis, lebih dari 11.300 pemukim Israel tercatat melakukan penyerbuan ke Al-Aqsa.
Rinciannya:
Rosh Hashanah. Tahun baru Ibrani berlangsung pada 12 dan 13 September. Sebanyak 593 pemukim tercatat memasuki Al-Aqsa.
Yom Kippur. Hari Penebusan berlangsung pada 21 dan 22 September. Sebanyak 1.678 pemukim tercatat melakukan penyerbuan.
Sukkot. Perayaan Pondok Daun dimulai pada 26 September dan berlangsung hingga 2 Oktober. Pada periode ini terjadi peningkatan tajam jumlah pemukim yang masuk ke Al-Aqsa, mencapai 9.123 orang. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 7.119 orang.
Ritual keagamaan semakin terbuka
Besarnya jumlah pemukim yang masuk diikuti praktik ritual yang menurut pemantauan Pusat Informasi Wadi Hilweh dan Pemerintah Kota Al-Quds berlangsung semakin terbuka.
Doa dan ritual keagamaan dilakukan secara terbuka dan berkelompok sejak awal penyerbuan. Praktik tersebut tidak lagi terbatas pada kawasan timur, tetapi berlangsung di sejumlah bagian kompleks.
Di kawasan timur, kelompok pemukim terlihat melakukan nyanyian dan ritual keagamaan dengan suara keras.
Mereka juga menggelar tarian, nyanyian, dan ritual keagamaan. Sebagian membawa buku serta lembar doa, mengenakan pakaian keagamaan, dan memakai kaus dengan gambar atau simbol yang berkaitan dengan klaim mengenai Bait Suci.
Sejumlah pemukim juga membawa empat jenis tanaman yang digunakan dalam ritual Sukkot, yakni etrog, pelepah kurma, ranting murad hijau, dan ranting willow. Benda-benda tersebut ditemukan diletakkan di atas batu-batu di kawasan timur kompleks, bersama buku dan lembar doa.
Perlengkapan ritual lainnya juga dibawa masuk, termasuk tefillin, kotak kecil yang dikenakan di tangan atau kepala saat berdoa.
Teks sumber juga mencatat penggunaan shofar, atau terompet ritual, sebanyak 30 kali dalam perayaan Rosh Hashanah pada Ahad, 13 September 2015, yang disebut sebagai hari kedua Rosh Hashanah dan hari pertama penyerbuan dalam musim hari raya tersebut.
Pada saat yang sama, akses Muslim ke Al-Aqsa diperketat. Sebagian jamaah yang telah menunaikan salat Subuh diminta tidak kembali ke masjid sebelum pukul 15.30, ketika periode penyerbuan sore berakhir.
Kawasan timur Al-Aqsa menjadi titik utama ritual
Menurut Pusat Informasi Wadi Hilweh, rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan bahwa keberadaan pemukim di kawasan timur tidak lagi sebatas melewati jalur penyerbuan.
Pusat tersebut menilai praktik yang berlangsung mengarah pada pembentukan ruang ritual keagamaan yang bersifat tetap di dalam kompleks Al-Aqsa. Kawasan timur bahkan mulai disebut sebagai “sinagoga tidak resmi”.
Praktik doa dan duduk juga disebut telah meluas ke sepanjang rute penyerbuan, sejumlah mastaba dan kawasan berpohon hingga sekitar Musala Bab ar-Rahmah.
Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan timur menjadi lokasi berulang bagi doa dan ritual kelompok pemukim. Mereka tinggal lebih lama di kawasan tersebut, melakukan sujud dan salat secara terbuka.
Aktivitas meluas ke luar kompleks
Tekanan tidak hanya terjadi di dalam Al-Aqsa. Di sekitar kompleks dan Kota Tua Al-Quds, sejumlah aktivitas juga tercatat.
Pemukim menggelar doa bersama di sekitar gerbang dan kawasan Al-Aqsa. Konsentrasi besar terlihat di sekitar Gerbang As-Silsilah dan area Tembok Buraq.
Upacara “Birkat Kohanim” atau berkat imam juga digelar di lapangan Tembok Buraq dengan kehadiran lebih dari 50 ribu pemukim.
Sementara itu, pasukan Israel disebar dalam jumlah besar di gerbang Al-Aqsa dan pintu-pintu masuk Kota Tua. Penghalang besi dan berbagai barikade dipasang untuk membatasi keberadaan serta pergerakan warga di sejumlah titik sekitar kompleks.
Ratusan jamaah Palestina dilarang masuk
Sejak awal 2026, otoritas Israel memperluas daftar warga Palestina yang dilarang memasuki Al-Aqsa. Jumlahnya disebut telah melampaui 900 jamaah sepanjang 2026.
Sebagian besar mereka merupakan anak muda serta tokoh masyarakat yang dikenal rutin beribadah di Al-Aqsa.
Otoritas Israel juga mengejar jamaah yang dikenal melakukan takbir sebagai bentuk protes, kemudian menjauhkan mereka dari kompleks dan menjatuhkan sanksi.
Kebijakan tersebut berlangsung setelah pelarangan Gerakan Islam di wilayah Israel pada 2015. Sebelumnya, gerakan itu mengorganisasi ribuan jamaah untuk datang ke Al-Aqsa menggunakan bus. Pelarangan tersebut disebut turut menciptakan kekosongan jamaah di dalam kompleks.
Menurut Pusat Informasi Wadi Hilweh, pembatasan diperketat selama musim hari raya. Berbagai kelompok usia dilarang mencapai Al-Aqsa, sementara jamaah yang diperbolehkan masuk bahkan ditentukan lokasi mereka untuk duduk di dalam ruang-ruang salat tertutup.
Pada saat yang sama, bagian lain kompleks tetap terbuka bagi para pemukim yang melakukan penyerbuan.
Gambaran dari Al-Aqsa didominasi pihak Israel
Salah satu hal yang mencolok dalam penyerbuan tahun ini adalah minimnya dokumentasi dari pihak Palestina, media, maupun Departemen Wakaf Islam.
Menurut teks sumber, wartawan dan aktivis dilarang masuk, sementara sejumlah pegawai wakaf dijauhkan dari kompleks. Kondisi itu membuat dokumentasi visual mengenai apa yang berlangsung di dalam Al-Aqsa didominasi oleh materi yang berasal dari pihak Israel.
Publik akhirnya lebih banyak melihat rekaman penyerbuan dan ritual pemukim, sementara kehadiran warga Palestina serta aktivitas mereka di dalam kompleks semakin terbatas.
Respons dunia Islam
Respons dunia Islam yang terpantau sejauh ini terutama berupa pernyataan kecaman dan keprihatinan.
Lembaga Al-Quds Internasional pada Rabu menyerukan agar Jumat ditetapkan sebagai “hari kemarahan dan solidaritas untuk Masjid Al-Aqsa” di Palestina maupun di luar Palestina.
Lembaga tersebut menyerukan warga Al-Quds, Tepi Barat, serta wilayah Palestina yang diduduki sejak 1948 untuk memperbanyak kunjungan ke Al-Aqsa.
Mereka juga menyerukan para pemimpin Arab dan Muslim untuk mengambil tanggung jawab dalam menjaga salah satu tempat suci utama umat Islam serta mendukung warga Palestina yang bertahan di wilayah tersebut.
Yordania juga didesak mengambil langkah praktis menghadapi kebijakan Israel yang, menurut lembaga tersebut, mengancam status quo historis di Al-Aqsa, meminggirkan Departemen Wakaf Islam, dan mengurangi peran Yordania dalam pengelolaan kompleks tersebut.
Sumber: Al Jazeera dan kantor berita










