NEW YORK — Ruang Sidang Majelis Umum PBB di New York tidak sepenuhnya menjadi panggung yang diharapkan Perdana Menteri penjajah Israel Benjamin Netanyahu. Ketika ia naik ke podium untuk membela Israel dan menjelaskan perang di Gaza, delegasi dari sejumlah negara justru meninggalkan ruangan.
Netanyahu tetap melanjutkan pidatonya di tengah kursi-kursi yang kosong. Pemandangan itu menjadi salah satu gambaran paling mencolok dari penolakan yang mengiringi pidatonya.
Ia berbicara sebagai kepala pemerintahan yang kebijakannya di Gaza telah menjadi sorotan lembaga-lembaga internasional. Pada September 2025, Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
Di saat yang sama, Netanyahu secara pribadi menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Namun, alih-alih membahas tuduhan tersebut secara langsung, Netanyahu menggunakan sebagian besar pidatonya untuk menyerang para pengkritik Israel. Ia menolak tuduhan genosida, membela militer Israel, dan menggambarkan perang di Gaza sebagai perang untuk mempertahankan Israel.
Ia juga menyerang Wali Kota New York Zohran Mamdani serta mengkritik Qatar, Turki, Prancis, dan Inggris.
Temuan PBB yang Dibantah Netanyahu
Penolakan Netanyahu tidak menghapus kesimpulan Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB yang diumumkan pada September 2025.
Komisi tersebut menyatakan Israel telah melakukan empat tindakan yang termasuk dalam unsur kejahatan genosida. Di antaranya adalah membunuh anggota kelompok, menimbulkan penderitaan fisik dan mental yang serius, menciptakan kondisi kehidupan yang dimaksudkan untuk menghancurkan kelompok tersebut secara keseluruhan atau sebagian, serta menerapkan langkah-langkah yang ditujukan untuk mencegah kelahiran.
Dalam laporan berikutnya yang diterbitkan pada Juni 2026, komisi tersebut mengatakan Israel masih melakukan genosida dan kejahatan serius lainnya di Gaza.
Komisi itu juga menyebut penargetan anak-anak secara sengaja sebagai salah satu unsur yang dipertimbangkan dalam menilai adanya niat melakukan genosida.
Temuan komisi tidak hanya menyangkut tanggung jawab negara. Dalam laporannya, komisi menyatakan tindakan otoritas dan pasukan Israel dapat diatribusikan kepada Negara Israel.
Komisi tersebut juga menyatakan Netanyahu, mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, dan Presiden Israel Isaac Herzog telah melakukan hasutan untuk melakukan genosida berdasarkan analisis komisi dan ketentuan Konvensi Genosida.
Israel sendiri terus menolak tuduhan tersebut. Pemerintah Israel mempertahankan klaim bahwa operasi militernya ditujukan kepada Hamas, bukan kepada rakyat Palestina.
Narasi itu kembali dibawa Netanyahu ke forum internasional ketika ia berusaha membantah tuduhan atas besarnya jumlah korban dan kehancuran yang terjadi di Gaza.
Netanyahu Hadapi Surat Perintah Penangkapan ICC
Kehadiran Netanyahu di Majelis Umum PBB juga memiliki dimensi hukum yang tidak bisa dilepaskan dari pidatonya.
Pada 21 November 2024, ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan Yoav Gallant. Pengadilan tersebut menyatakan terdapat alasan yang masuk akal untuk meyakini keduanya bertanggung jawab atas sejumlah kejahatan, termasuk penggunaan kelaparan terhadap warga sipil sebagai metode perang, pembunuhan, penganiayaan, tindakan tidak manusiawi, serta pengarahan serangan terhadap penduduk sipil.
Karena itu, pidato Netanyahu di podium PBB berlangsung ketika ia sendiri menghadapi proses hukum di tingkat internasional.
Alih-alih menjadikan tuduhan terhadap pemerintahannya sebagai pusat pembelaan, Netanyahu justru mengarahkan serangannya kepada pihak-pihak yang mengkritik Israel.
Ia menuduh para pengkritik menyebarkan apa yang disebutnya sebagai kebohongan terhadap Israel dan militernya.
Delegasi Tinggalkan Ruangan
Sesaat setelah Netanyahu mulai berbicara, sejumlah delegasi diplomatik meninggalkan ruang sidang Majelis Umum PBB.
Netanyahu tetap berbicara dan bahkan menyerang mereka yang meninggalkan ruangan. Ia menyebut mereka yang pergi setelah sebelumnya berada di dalam sidang sebagai orang-orang yang pengecut secara moral.
Ruangan yang kemudian tampak kosong menjadi latar yang kontras dengan pesan yang ingin disampaikan Netanyahu. Ia berusaha menggambarkan Israel sebagai negara yang sedang membela diri, sementara sebagian delegasi memilih tidak berada di dalam ruangan ketika ia menyampaikan pidatonya.
Protes juga berlangsung di luar gedung PBB. Di New York, aktivis pro-Palestina, kelompok Yahudi, dan organisasi hak asasi manusia menggelar aksi yang mengecam kebijakan pemerintah Israel dan perang di Gaza.
Pidato untuk Dunia atau untuk Pemilih Israel
Pidato Netanyahu juga dinilai tidak semata-mata ditujukan kepada komunitas internasional.
Media yang dikutip dalam laporan tersebut menyebut sebagian isi pidatonya membawa pesan politik untuk masyarakat Israel, terutama ketika negara itu bersiap menghadapi pemilu berikutnya.
Netanyahu juga memperpendek kunjungannya ke New York. Ia tiba pada Kamis pagi, menyampaikan pidato di PBB, lalu meninggalkan kota itu pada hari yang sama.
Tidak ada pertemuan dengan sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat yang sebelumnya diharapkan berlangsung selama kunjungan tersebut.
Situasi itu menjadi bagian dari gambaran yang lebih luas di sekitar Netanyahu: perang Gaza yang berkepanjangan, tuduhan internasional mengenai genosida dan kejahatan perang, surat perintah penangkapan ICC, aksi protes di dalam dan luar gedung PBB, serta kritik terhadap kebijakan pemerintahannya di Gaza dan Tepi Barat.
Di tengah semua itu, Netanyahu tetap berusaha menempatkan dirinya sebagai pihak yang sedang membela kebenaran dari apa yang ia sebut sebagai kampanye kebohongan terhadap Israel.
Namun, klaim tersebut berhadapan dengan temuan Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB mengenai tindakan Israel di Gaza dan surat perintah penangkapan ICC yang masih berlaku terhadap dirinya.
Di antara pidato penyangkalan dan barisan delegasi yang meninggalkan ruangan, Netanyahu menyampaikan pembelaannya dari podium PBB. Sementara itu, tuduhan mengenai kejahatan yang dilakukan dalam perang Gaza terus menjadi bagian dari agenda internasional yang membayangi pemerintahannya.
Sumber: Palestinian Information Center









