PALESTINA — Mampukah teori politik internasional yang dirancang untuk menganalisis konstelasi negara-negara adidaya dipakai untuk membedah perang asimetris antara sebuah negara modern dan aktor non-negara?

Pertanyaan kritis inilah yang mendasari tesis magister karya Hafsa Fatih Mustafa Ahmad di Fakultas Hukum dan Ilmu Politik Universitas Kerkuk, Irak. Studi yang diterbitkan dalam bentuk buku oleh Pusat Studi Al Jazeera ini membedah perang antara militer Israel dan Hamas lewat kacamata Offensive Realism (Realisme Defensif-Hujum), sebuah teori logika kekuatan, serangan, dan hegemoni yang dipelopori John Mearsheimer.

Melalui pendekatan deskriptif-analitis, penelitian ini melacak dinamika doktrin militer kedua belah pihak sejak 7 Oktober 2023 hingga Maret 2026. Hasilnya mengungkapkan realitas yang mengejutkan: jurang perbedaan alutsista dan teknologi yang menganga lebar ternyata tidak menghalangi kedua belah pihak untuk tunduk pada logika strategis yang persis sama, yakni menggunakan tindakan preskriptif dan ofensif demi menjamin kelangsungan hidup.

Dari Realisme Klasik ke Perang Asimetris

Realisme Ofensif mendasarkan argumennya pada kondisi sistem internasional yang anarkis, ketiadaan jaminan keamanan global, serta ketidakpastian niat lawan. Kondisi ini memaksa setiap aktor untuk memaksimalkan kekuatan relatif demi bertahan hidup.

Namun, studi Hafsa melangkah lebih jauh. Dalam perang asimetris, pihak yang lebih lemah tidak mampu bertarung dengan instrumen konvensional yang setara. Aktor non-negara ini meredefinisi kekuatan itu sendiri melalui metode destruktif: perang konstan (attrition), serangan kilat lalu menghilang (hit and run), teknologi murah, perang psikologis, serta adaptasi taktis di lapangan.

Israel: Doktrin Perang Tetap dan Pembongkaran Akses

Studi ini menegaskan bahwa perilaku serang militer Israel pasca-7 Oktober bukanlah sekadar respons emosional yang mendadak. Tindakan tersebut merupakan manifestasi dari doktrin keamanan lama Israel yang dirumuskan sejak era David Ben-Gurion, yang bertumpu pada dua pilar utama: serangan preemtif (preemptive strike) dan memindahkan medan pertempuran ke wilayah musuh.

Serangan 7 Oktober memperlihatkan batas efektif penangkalan (deterrence) dan kontrol Israel. Kegagalan sistem pertahanan berteknologi tinggi memaksa Tel Aviv beralih dari strategi “penahanan” ke strategi pelepasan penuh dan pembongkaran total atas kapasitas lawan secara preemtif.

Langkah militer Israel ini dibagi ke dalam tiga fase utama:

  1. Fase Penghancuran Total (Iron Swords): Penerapan Dahiye Doctrine secara meluas melalui penggempuran intensif atas infrastruktur sipil, pemukiman, serta pemotongan jalur logistik dari utara Gaza hingga Khan Younis dan Rafah.
  2. Fase Pembunuhan Terarah: Perluasan target pimpinan strategis dan komando kelompok lawan, baik di dalam maupun di luar Gaza.
  3. Fase Tekanan Konstan: Pasca-gencatan senjata Oktober 2025, strategi berubah menjadi pengawasan ketat, operasi mikro, dan penetrasi jaringan bawah tanah guna mencegah konsolidasi ulang kekuatan lawan.

Meski demikian, studi ini menyoroti ironi besar: besarnya anggaran dan keunggulan alutsista tak berbanding lurus dengan pencapaian strategis. Sepanjang 2023 hingga 2025, target utama Israel untuk menghancurkan Hamas secara total, memulihkan daya tangkal, dan membebaskan seluruh sandera tidak pernah benar-benar tercapai secara mutlak. Keunggulan militer terbukti gagal menjamin keamanan yang berkelanjutan.

Hamas: Strategi Ofensif sebagai Pilihan Darurat

Di sisi lain, Hamas merespons ketimpangan kekuatan ini dengan melancarkan “adaptasi pragmatis”. Menyadari ketidakmampuannya menandingi kekuatan udara dan teknologi Israel, kelompok ini mengonversi kelemahan struktural menjadi keunggulan taktis.

Peristiwa 7 Oktober diposisikan sebagai puncak dari pergeseran dari defensif pasif ke aksi ofensif kompleks. Kerahasiaan ketat selama dua tahun, disinformasi terencana, serta pemutusan komunikasi dari jaringan digital berhasil melumpuhkan perkiraan intelijen Israel.

Dalam pertempuran darat, Hamas mengandalkan dua instrumen utama untuk menetralkan keunggulan teknologi Israel:

  • Taktik Zero Distance (Jarak Nol): Memaksa tentara lawan bertempur dalam jarak sangat dekat menggunakan senapan ringan dan bahan peledak buatan lokal. Cara ini secara efektif mengunci kebebasan Israel dalam menggunakan artileri berat dan jet tempur.
  • Jaringan Terowongan Bawah Tanah: Mengubah fungsi terowongan dari sekadar jalur logistik menjadi pusat kendali strategis, tempat perlindungan, dan arena tempur yang membatasi dominasi intelijen udara Israel.

Kesimpulan: Kekuatan dalam Wujud Baru

Temuan utama dari riset ini menyimpulkan bahwa Offensive Realism tidak lagi terbatas pada interaksi antar-negara adidaya. Di dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian dan ancaman eksistensial, baik pihak yang kuat maupun yang lemah akan terdorong menggunakan aksi ofensif demi bertahan hidup.

Pihak yang kuat (Israel) berusaha mengonversi keunggulan absolutnya menjadi dominasi total. Sementara pihak yang lemah (Hamas) memanfaatkan inovasi taktis, ketidakpastian, dan teknologi berbiaya murah untuk menggerus dominasi tersebut.

Pada akhirnya, ketimpangan alutsista yang mencolok tidak memadamkan persaingan strategis; ia hanya mengubah wujud perang itu sendiri.

SUMBER: Hafsa Fatih Mustafa Ahmad(Ringkasan Tesis Magister Ilmu Politik Universitas Kerkuk, Irak)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here