Sedikitnya 12 warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka akibat gelombang serangan kelompok pemukim Israel di kawasan antara Desa Al-Mughayyir dan Abu Falah, sebelah timur laut Ramallah. Di saat bersamaan, militer Israel mengerahkan personel tambahan ke sekitar kawasan Qusra, sebelah selatan Nablus, Tepi Barat yang diduduki.
Bulan Sabit Merah Palestina mengonfirmasi telah memindahkan enam korban luka ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis darurat pascaserangan di Al-Mughayyir. Sebelumnya, kantor berita resmi Palestina, WAFA, melaporkan lima warga terluka dalam aksi kekerasan tersebut.
Wakil Kepala Dewan Desa Al-Mughayyir, Marzouq Abu Na’im, mengungkapkan bahwa sekelompok pemukim menyusup ke kawasan Marj Si’a di antara Desa Al-Mughayyir dan Abu Falah. Mereka menyerang sebuah kendaraan warga hingga terguling, sebelum akhirnya mengeroyok sejumlah penduduk lokal.
Tidak berhenti di situ, rekaman video yang beredar memperlihatkan alat berat buldozer milik militer Israel meratakan lahan-lahan pertanian warga. Puluhan pohon zaitun dicabut secara paksa di kawasan Bab Al-Kharja, Qalsoon, dan Jabal Darwish di Desa Al-Mughayyir.
Pengepungan Qusra dan Reaksi Keras Washington
Bergeser ke wilayah Nablus, armada bus yang mengangkut prajurit militer Israel dikerahkan ke pinggiran Kota Qusra. Di lokasi ini, pasukan Israel bersama kelompok pemukim terus mengepung tiga rumah milik keluarga Palestina yang telah berlangsung selama 12 hari berturut-turut.
Dinamika ini memicu sorotan internasional. Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, menyatakan kepada Reuters bahwa Washington membuka opsi penjatuhan sanksi terhadap para pemukim yang terlibat dalam pengepungan di Qusra.
Dia menegaskan bahwa AS mengecam keras insiden tersebut dan menyebut keluarga-keluarga Palestina yang terkepung sebagai korban aksi kriminal.
Perluasan Pemukiman dan Aksi Penerobosan
Di sebelah selatan Hebron, sumber-sumber lokal melaporkan bahwa kelompok pemukim mendirikan kembali pos pemukiman liar di kawasan Wadi Al-Rakhim, selatan Yatta, hanya beberapa hari setelah sempat dibongkar.
Sementara di Yerusalem, sebanyak 223 pemukim Israel menerobos masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa pada sesi pagi di bawah pengawalan ketat aparat keamanan Israel.
Rangkaian peristiwa ini menandai kian memuncaknya aksi kekerasan pemukim di Tepi Barat dengan perlindungan militer pendudukan. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat sejak awal tahun 2026 telah terjadi lebih dari 1.430 kasus serangan yang menyasar sekitar 260 komunitas warga Palestina.
Laporan PBB menegaskan bahwa kombinasi antara serangan pemukim, pembongkaran, dan penggusuran paksa telah memicu penderitaan mendalam dengan menyingkirkan sekitar 3.800 warga Palestina dari tanah mereka, hampir separuh di antaranya adalah anak-anak.
Bentuk kejahatan tersebut mencakup pembunuhan, penganiayaan, pembakaran kendaraan dan aset warga, hingga penutupan akses bagi para petani untuk mengolah tanah mereka sendiri.










