Dua warga Palestina syahid dan puluhan lainnya mengalami luka-luka setelah pasukan Israel menembaki berbagai wilayah di Gaza. Serangan ini berlangsung bersamaan dengan gempuran udara dan artileri Israel yang menyasar kawasan tengah dan selatan sektor tersebut.

Di selatan Gaza, Kompleks Medis Nasser melaporkan seorang warga syahid akibat tembakan pasukan Israel di luar zona penempatan mereka di Muwasi, Khan Younis. Sementara di utara, sumber dari Rumah Sakit Al-Masih melaporkan satu warga syahid dan beberapa lainnya terluka di kawasan Al-Tuffah, timur laut Kota Gaza. Serangan serupa juga menargetkan sebuah bangunan di kawasan Al-Rimal, barat Kota Gaza, menurut laporan Rumah Sakit Al-Shifa.

Meskipun kawasan ini seharusnya berada di bawah kendali penduduk sipil, mereka diserang di luar area yang biasanya dijaga pasukan Israel. Di Gaza Utara, termasuk kamp Jabaliya, beberapa warga terluka akibat serangan artileri yang menimpa klinik UNRWA. Selain itu, kendaraan militer Israel terlihat bergerak dan menembaki kawasan timur kamp Jabaliya, sambil menebar puing dan membuka jalur operasi militer baru.

Eskalasi Militer dan Infrastruktur Hancur

Di Khan Younis, tim Al Jazeera melaporkan bahwa Israel meningkatkan aktivitas militer di wilayah timur kota. Desa Bani Suhaila menjadi sasaran tembakan artileri, sementara pasukan Israel melakukan pembongkaran dan pengeboman bangunan, termasuk permukiman warga, untuk membangun posisi militer baru. Menara pengawas juga didirikan di beberapa titik strategis.

Reporter Al Jazeera, Rami Abu Taima, mengatakan, “Bani Suhaila yang kini berada di bawah kontrol Israel mengalami pembongkaran besar-besaran dan serangan artileri yang menargetkan rumah-rumah warga Palestina.”

Krisis Kemanusiaan Kian Berat

Situasi kemanusiaan di Gaza kian kritis. Philip Lazzarini, Komisaris UNRWA, menyebut Gaza sebagai “tempat paling berbahaya bagi jurnalis dan pekerja kemanusiaan di dunia.” Ia menekankan bahwa larangan masuk jurnalis independen sejak awal perang memperparah penyebaran informasi palsu dan narasi ekstrem.

Sementara itu, Dr. Mohammad Abu Afesh, Direktur Medical Relief Society Gaza, memperingatkan bahwa lebih dari 5.000 anak membutuhkan perawatan di luar Gaza akibat kekurangan obat dan fasilitas medis. “Kematian anak-anak terjadi setiap hari karena penyakit dan kelangkaan obat,” kata Abu Afesh dalam wawancara dengan Al Jazeera.

Meski kondisi kemanusiaan memburuk, Israel tetap menutup perlintasan Rafah, jalur vital bagi warga Gaza. Meski ada laporan persiapan pembukaan akibat tekanan AS, rencana Israel justru mengubah perlintasan dari pintu masuk warga Palestina ke dunia luar menjadi alat keamanan ketat, memperlihatkan upaya Tel Aviv mengatur pergerakan warga sesuai kepentingan politik dan militer mereka.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here