GAZA — Tangis haru dan sukacita bercampur menjadi satu ketika sejumlah warga Palestina yang sempat terjebak di Tepi Barat sejak pecahnya genosida pada Oktober 2023 akhirnya bisa kembali menjejakkan kaki di Jalur Gaza.

Sejumlah rekaman video yang terekam di lokasi mengabadikan momen-momen emosional kepulangan mereka. Salah satu pemandangan paling menyentuh memperlihatkan pelukan hangat nan erat antara seorang bocah perempuan dan ayahnya yang baru saja melangkah turun dari bus Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Tangis bahagia tak membendung di antara keduanya setelah sekian lama terpisah oleh benteng peperangan.

Dalam cuplikan lain, seorang wanita paruh baya seketika bersujud syukur di atas tanah begitu keluar dari bus yang membawanya dari Pintu Perbatasan Kerem Shalom menuju wilayah Gaza.

Keharuan serupa juga mewarnai pertemuan jurnalis Palestina, Yaffa Abu Akar, dengan sang ayah. Keduanya tak mampu menahan air mata saat kembali saling berdekapan setelah masa-masa pemisahan yang panjang.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memfasilitasi proses pemulangan sukarela dan penyatuan kembali keluarga (reunification) bagi 74 warga Palestina yang terpisah dari sanak saudara mereka sejak awal konflik.

Dalam pernyataan resminya, ICRC menjelaskan bahwa timnya berkolaborasi dengan kru Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) untuk memindahkan para warga dari Perbatasan Kerem Shalom menuju Kompleks Medis Nasser di Gaza.

Namun, ICRC memberikan catatan emosional atas kepulangan ini. “Gaza yang mereka datangi hari ini sudah jauh berbeda dari Gaza yang mereka tinggalkan dulu. Rumah-rumah telah hancur, orang-orang tercinta telah gugur, dan keluarga-keluarga terpecah belah,” tulis pernyataan resmi lembaga tersebut.

Sejak pecahnya perang, ratusan warga Gaza mendadak terjebak di Tepi Barat. Mereka sebelumnya berada di sana menggunakan izin resmi dari otoritas Israel untuk berbagai keperluan mendesak, termasuk menjalani perawatan medis di rumah sakit.

Selain itu, ribuan pekerja asal Gaza yang tadinya bekerja di dalam wilayah Garis Hijau (Green Line) dengan izin khusus juga turut menjadi korban isolasi. Begitu perang meletus, mereka sempat ditangkap oleh otoritas Israel sebelum akhirnya dibuang dan diasingkan ke Tepi Barat.

*Diterjemahkan dan diolah dari Al-Jazeera dan ICRC.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here