PALESTINA — Rasa syok dan duka mendalam menyelimuti kediaman keluarga tahanan anak Palestina, Muhammad Sulaiman (15 tahun). Remaja yang semula dalam kondisi sehat bugar saat ditangkap kini terbaring tak sadarkan diri dalam kondisi kritis di ruang perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Shaare Zedek, Israel.

Kondisi kritis Muhammad dipicu oleh komplikasi infeksi berat yang dialaminya selama berada di dalam tahanan. Sejumlah lembaga hak asasi manusia (HAM) mengecam keras tragedi ini dan mengategorikannya sebagai “kejahatan medis disengaja yang bersumber dari buruknya kondisi penahanan serta pembiaran medis yang sistematis.”

Menurut laporan Perhimpunan Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Society), otoritas pendudukan Israel secara sepihak mengeluarkan keputusan pembebasan Muhammad pada akhir Juli lalu, persis ketika bocah tersebut dalam kondisi koma di rumah sakit. Langkah ini disinyalir kuat sebagai bentuk “lepas tangan” otoritas Israel dari tanggung jawab atas keselamatan jiwanya.

Surat Persetujuan Darurat

Pahitnya kenyataan ini dikenang sang kakak, Israa Sulaiman. Ia menceritakan detik-detik mencekam saat keluarga menerima panggilan telepon darurat dari pengacara Muhammad yang meminta pihak keluarga segera menandatangani surat persetujuan operasi jantung terbuka (open-heart surgery).

Israa menuturkan, informasi medis yang diterima pihak keluarga belakangan mengungkapkan bahwa Muhammad telah menjalani operasi penggantian katup jantung. Operasi tersebut disertai pembekuan darah yang menyebar hingga ke otak serta penumpukan cairan di sekitarnya.

Tak berhenti di situ, tim medis mengindikasikan risiko tinggi yang mengharuskan amputasi pada kaki kanan Muhammad. Di saat bersamaan, tim medis RS Shaare Zedek hanya memberikan informasi singkat yang kian menambah kecemasan keluarga.

Tragedi ini menghantam psikologis keluarga secara beruntun. Sebelum kabar duka ini datang, pihak keluarga tengah bersiap menyambut kepulangan Muhammad (anak bungsu kesayangan mereka) dengan merenovasi kamarnya serta merencanakan ibadah umrah bersama. Begitu mendengar kabar kritis sang buah hati, sang ayah langsung syok hebat hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

“Kehadiran Muhammad yang merupakan anak bungsu kami sangat dinantikan. Kini rumah kami yang tadinya bersiap menyambut kemerdekaannya berubah menjadi tempat penuh kecemasan dan doa yang tak putus-putus,” ujar Israa.

Kejahatan Medis Terhadap Tahanan Anak

Tragedi yang menimpa Muhammad Sulaiman menyingkap tabir penderitaan para tahanan anak Palestina di dalam penjara-penjara Israel. Lembaga-lembaga HAM menyoroti bagaimana penolakan akses pengobatan dan pembiaran medis kerap dijadikan alat yang mengancam keselamatan jiwa para tahanan.

Ketua Perhimpunan Tahanan Palestina, Abdullah Al-Zaghari, menegaskan bahwa Muhammad adalah korban nyata dari kejahatan sistemik tersebut.

“Muhammad Sulaiman kini bergantung penuh pada alat bantu pernapasan (ventilator) dalam kondisi yang amat kritis. Ini adalah kejahatan yang dilanggengkan oleh sistem pendudukan di dalam penjara, di tengah tiadanya pengawasan hukum dan HAM internasional,” tegas Al-Zaghari.

Dalam pernyataan resminya, Perhimpunan Tahanan Palestina menjelaskan bahwa Muhammad awalnya terinfeksi penyakit kulit (scabies/kudis) akibat kondisi sel yang tidak higienis. Penyakit yang tak ditangani tersebut memicu infeksi komplikasi parah yang merambat hingga ke organ jantung dan otak. Begitu kondisinya memasuki fase kritis, otoritas penjara mendadak membebaskannya demi menghindari jerat hukum dan moral.

Data Perhimpunan Tahanan Palestina mencatat, hingga awal Agustus 2026, otoritas pendudukan Israel menahan sekitar 370 anak-anak Palestina dari total hampir 9.400 tahanan yang mendekam di berbagai penjara Israel.

*Diterjemahkan dan diolah dari Al-Jazeera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here