JAKARTA — Sepak terjang Presiden Amerika Serikat Donald Trump di kawasan Timur Tengah sejak kembali menduduki kursi Gedung Putih menuai sorotan tajam. Media ternama Prancis, Le Monde, dalam artikel editorialnya memberikan penilaian yang amat negatif.
Tinjauan tersebut mengaitkan perkembangan dalam beberapa bulan terakhir dengan makin terlihatnya ketidakmampuan politik maupun strategis dari pemerintah AS.
Dalam tajuk rencananya, Le Monde menggarisbawahi bahwa dinamika Timur Tengah selalu menjadi tolok ukur paling nyata untuk menguji kapasitas seorang Presiden Amerika Serikat. Bagi Trump, kawasan ini justru menelanjangi ketidakcakapannya yang dipadu dengan manuver tak terarah serta tanpa kalkulasi matang.
Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, penghuni Gedung Putih itu dinilai telah mengumpulkan sederet kegagalan.
Sorotan utama editorial tersebut tertuju pada keterlibatan AS bersama Israel dalam menghadapi Iran. Alih-alih menjadi panggung pamer kekuatan (show of force), perang tersebut justru berujung pada krisis di Selat Hormuz. Keadaan ini memaksa Washington mengambil langkah mundur hingga akhirnya terdesak untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran.
Le Monde mengulas bahwa tekanan dari negara-negara Teluk, ditambah kekhawatiran atas makin menipisnya stok amunisi militer AS, menjadi faktor utama yang memaksa Trump membatalkan ancamannya untuk melanjutkan operasi militer.
Keputusan untuk mundur ini dinilai meruntuhkan reputasi AS sebagai penjamin keamanan kawasan. Dampaknya langsung terasa: Arab Saudi, Pakistan, dan Turki bergerak cepat menandatangani kesepakatan pertahanan trilateral, sebuah langkah yang dipandang Le Monde sebagai sinyal kuat memudarnya kepercayaan terhadap perlindungan tradisional AS di kawasan Teluk.
Di panggung Palestina, krisis kepemimpinan Trump makin kentara. Ia dinilai gagal menekan Israel agar mematuhi ketentuan terkait perlucutan senjata Hamas serta penarikan pasukan dari sebagian besar wilayah Jalur Gaza. Sikap bebal Israel ini otomatis menyumbat rencana rekonstruksi Gaza yang sebelumnya kerap dikampanyekan oleh Trump sendiri.
Kritik pedas juga diarahkan pada lambatnya respon Washington terhadap aksi pemukim ilegal ekstremis Israel di Tepi Barat. Gedung Putih dinilai menutup mata terlalu lama atas bahaya gerakan tersebut, sembari terus mengalirkan dukungan politik dan militer tanpa batas bagi Israel.
Kebijakan Trump yang sempat mencabut sanksi terhadap para pemukim Israel pelaku kekerasan kian mempertegas kontradiksi politik luar negerinya. Le Monde menyimpulkan bahwa di tengah segala ketidakpastian itu, hanya ada satu hal yang paling konsisten dari penampilan Trump di Timur Tengah: keberlanjutannya dalam mengambil keputusan-keputusan yang salah.










