GAZA — Ketika ibu kota-ibu kota dunia sibuk memperbincangkan “rencana perdamaian” Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan “fase baru” penataan politik serta keamanan, warga Palestina di Jalur Gaza justru tetap tersandera dalam kungkungan puing, pengungsian, ketakutan, dan ketidakpastian.
Wacana mengenai masa depan Gaza kerap kali terasa berjarak dan bertolak belakang dengan realitas kasatmata yang dihidupi warga hari demi hari di bawah gempuran rudal Israel.
Fenomena ini terekam jelas dalam kampanye digital yang digalang para aktivis Gaza melalui tagar “Mereka Membohongi Kalian”, sebuah gerakan untuk membeberkan fakta dari kacamata warga lokal. Para penggagasnya menegaskan bahwa kampanye ini bertujuan “mematahkan ilusi seolah-olah tragedi kemanusiaan di Gaza telah usai.”
“Bagaimana Gaza Bisa Dibangun Kembali?”
Melalui laporan surat kabar Inggris The Times, sejumlah kesaksian warga Palestina mengungkap mengganganya jurang antara janji-janji manis panggung politik dan realitas pahit di lapangan. Reem Abu Jazzar menuturkan duka mendalam saat kehilangan putranya, Walid (10 tahun).
Sejak sang ayah syahid, Walid menjadi tulang punggung keluarga yang berjuang mencari makanan dan air, sebelum akhirnya syahid dihantam serpihan rudal Israel dalam perjalanan kembali ke tenda pengungsian bersama adiknya.
Di bagian selatan Gaza, Duaa Bassem (26 tahun), seorang warga yang terus berpindah tempat mengungsi, menegaskan bahwa tidak ada yang berubah dalam hidup mereka meski retorika perdamaian terus berdengung.
Sementara itu, Muhammad Suhail (67 tahun), seorang apoteker, mengatakan, “Bagaimana mungkin Gaza bisa dibangun kembali setelah kehancuran yang begitu masif ini?”
Perdamaian Tanpa Bekas
Di saat gelombang optimisme sempat menyeruak pasca-pengumuman peta jalan oleh Dewan Perdamaian (Peace Council) terkait pelaksanaan fase kedua perjanjian penghentian perang, militer Israel justru mengintensifkan gempuran udara dan tembakan artileri ke berbagai penjuru Gaza.
Rangkaian serangan ini menelan sedikitnya 34 korban jiwa dan melukai 134 warga (termasuk perempuan dan anak-anak) sejak Sabtu lalu.
Kesaksian warga Palestina tersebut menjadi sorotan utama laporan The Times berjudul “Trump Bicara Perjanjian Damai, namun Harapan Terasa Hampa di Gaza”. Laporan tersebut menilai bahwa obral rencana dan skenario masa depan Gaza acap kali hanya menjadi instrumen pengalih perhatian dari penderitaan berat yang dialami warga setiap harinya.
Senada dengan hal itu, majalah Amerika Serikat Newsweek, dalam laporan bertajuk “Israel Disodorkan Rencana Perdamaian di Gaza… Lalu Membombardirnya Keesokan Hari”, menilai bahwa gempuran yang mengekor tepat setelah pengumuman tersebut telah mengikis habis harapan akan terwujudnya kesepakatan nyata di lapangan.
Newsweek menggarisbawahi bahwa kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak Oktober 2025 di bawah naungan AS, Qatar, Mesir, dan Turki, sejauh ini gagal menghentikan gempuran militer Israel secara penuh.
Serangan Terus Berlanjut
Newsweek mengutip juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, yang menyatakan bahwa Israel “mengintensifkan serangan udara ke Jalur Gaza dengan eskalasi yang tak tertandingi.” Merespons kondisi ini, Qatar, Mesir, dan Turki merilis pernyataan bersama yang mendesak Israel menghentikan pemboman dan mematuhi komitmennya di bawah perjanjian gencatan senjata.
Sebagai upaya menyelamatkan kesepakatan yang berada di ambang kehancuran, Perwakilan Tinggi untuk Gaza di Dewan Perdamaian, Nickolay Mladenov, menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Mladenov mendesak penghentian serangan militer dan memperingatkan bahwa keberlanjutan aksi kekerasan telah merenggut nyawa sipil serta menghancurkan pasokan medis.
Mladenov menegaskan bahwa penyerangan berulang ini merusak upaya pelaksanaan fase berikutnya dari kesepakatan, yang mensyaratkan pelucutan senjata gerakan Perlawanan Islam (Hamas) dengan imbalan penarikan mundur pasukan Israel ke kawasan yang dikenal sebagai “Garis Kuning”.
Namun, Israel menolak mundur sebelum pelucutan senjata Hamas dan pembongkaran jaringan terowongan selesai sepenuhnya. Sebaliknya, Hamas menegaskan tidak akan menyerahkan senjatanya sebelum pasukan Israel ditarik keluar secara total.
Peneliti dari lembaga pemikir asal Inggris Chatham House, Yossi Mekelberg, menilai bahwa keberhasilan kesepakatan apa pun membutuhkan “tingkat kepercayaan minimum antara kedua belah pihak.”
Dia melempar refleksi kritis: “Jika fase pelucutan senjata dan penarikan pasukan ini gagal, ke mana kita akan melangkah setelah ini?”
Di Antara Keputusasaan dan Harapan
The Times menambahkan bahwa potret kemanusiaan di Gaza kian memprihatinkan seiring berjalannya waktu. Pekan ini, Gaza menyaksikan pemakaman massal bagi 112 anggota keluarga Abu Sharia dan Al-Hasaynah.
Jasad mereka baru berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan tiga bangunan kediaman di lingkungan Al-Sabra, Kota Gaza, yang dihantam serangan udara Israel pada akhir 2023, setelah tim penyelamat terhalang selama berbulan-bulan akibat dahsyatnya skala kerusakan.
Pemakaman massal ini menjadi bukti nyata betapa agenda rekonstruksi masih sangat jauh dari kenyataan. Mayoritas warga Gaza kini bertahan hidup di dalam tenda-tenda lapuk atau di antara puing bangunan rumah mereka yang hancur, bergantung sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan demi mengamankan ketersediaan pangan dan air bersih.
Suhu udara yang melonjak tinggi, dipadu dengan kelangkaan air dan obat-obatan, kian memperberat penderitaan ratusan ribu pengungsi yang telah berulang kali dipaksa berpindah tempat sejak konflik pecah.
Bagi keluarga yang kehilangan buah hati dan kerabat tercinta, bagi anak-anak yang tak mengenal dunia selain kehidupan di tenda pengungsian, serta bagi warga sipil yang merindukan berakhirnya perang, peluang perdamaian tidak diukur dari banyaknya retorika dan dokumen politik, melainkan dari kemampuan nyatanya untuk menghentikan bom-bom Israel, mengembalikan warga ke rumah dan tanah kelahiran mereka, serta membuka jalan menuju kehidupan yang bermartabat.










