GAZA — Aliih-alih menghadirkan ketenangan, riuh narasi politik internasional mengenai kesepakatan akhir perang justru direspon oleh militer Israel dengan eskalasi gempuran yang kian brutal di Jalur Gaza. Jet-jet tempur dan artileri berat Zionis menghempaskan bom ke pemukiman padat serta kerumunan warga sipil, memupuskan asa akan fajar perdamaian yang dijanjikan.

Padahal, Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat lalu baru saja mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai kesepakatan “bersejarah” untuk mengimplementasikan fase berikutnya dari gencatan senjata.

Skema tersebut mencakup penarikan mundur pasukan Israel serta pengaturan bertahap terkait pengerahan dan penyerahan senjata kelompok perlawanan Palestina.

Hamas beserta faksi-faksi perlawanan Palestina di Gaza dilaporkan telah menyetujui draf kesepakatan di Kairo mengenai tata kelola senjata perlawanan secara bertahap dan terstruktur sebagai bagian dari koridor menuju perdamaian menyeluruh.

Namun, realitas di lapangan membanting keras optimisme panggung diplomasi tersebut. Malam-malam di Gaza kembali diwarnai hujan api, pemboman rumah-rumah warga, dan gelombang pengusiran paksa.

Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Bassal, menegaskan bahwa narasi media luar yang dipenuhi nada optimistis tentang berhentinya perang sama sekali tidak mencerminkan kenyataan pahit di atas tanah Gaza.

“Pengboman dan penargetan warga sipil terus berlangsung tanpa henti. Situasi kemanusiaan berada di titik paling krusial, dan warga sipil Palestina adalah pihak yang terus membayar harga termahal dari narasi kosong tersebut,” ujar Bassal.

Kesaksian Malam Mencekam di Bawah Hujan Api

Aktivis dan jurnalis lapangan di Gaza meluapkan kemarahan atas kontradiksi ini. Mereka menilai intensifikasi serangan Israel sengaja dirancang untuk merusak potensi terobosan politik apa pun.

Aktivis kemanusiaan Tamer Qudaih melaporkan bahwa dalam satu malam saja, Gaza dihantam sedikitnya tujuh gelombang serangan udara mematikan yang menyasar pemukiman dan pusat kerumunan warga, berbarengan dengan dentuman artileri.

Melalui akun media sosial miliknya, Qudaih menulis: “Israel menginginkan pemusnahan total Gaza; mereka tidak peduli pada persoalan senjata atau apa pun.”

Dia menyoroti salah satu sasaran bom yang menghancurkan gudang penyimpanan obat-obatan milik Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Gaza tengah. “Genosida ini masih berlangsung penuh,” tegasnya.

Aktivis Al-Hakim menggambarkan kondisi Gaza sebagai “pemboman tanpa jeda”. Menurutnya, ledakan dahsyat terdengar sepanjang malam menghancurkan lingkungan tempat tinggal warga. “Malam-malam di Gaza masih tertimbun oleh puing dan puing bangunan yang membara,” tuturnya.

Sementara itu, aktivis Mahmoud Farahat menyoroti teror perintah pengusiran (evacuation orders). Ia menceritakan bagaimana satu instruksi militer Israel sanggup memilah ribuan warga dari rumah mereka dalam hitungan menit.

Israel tidak lagi mengancam satu rumah, melainkan memaksa pengosongan seluruh blok pemukiman, membiarkan keluarga-keluarga terlunta-lunta di jalanan menanti bom jatuh.

“Saya menyaksikan sendiri satu blok pemukiman penuh di kamp tempat saya mengungsi dikosongkan secara mendadak. Pemandangan anak-anak, wanita, dan lansia yang berlarian ke area terbuka di tengah kegelapan malam sungguh meremukkan hati,” ungkap Farahat.

Jeritan serupa disampaikan jurnalis Youssef Abu Kouaik: “Di siang hari ada pembunuhan terget (assassinations), di malam hari ada pengusiran dan serangan udara. Lalu ada orang-orang di luar sana yang sibuk bicara soal terobosan dan evaluasi politik. Lantas, setelah ini apa?!”

Menghancurkan Tumpuan Hidup Terakhir

Pengamat dan analis politik Palestina, Yassin Izz el-Din, menilai bahwa penghancuran sengaja atas gudang obat-obatan dan pasokan medis RS Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah merupakan pesan balasan terselubung atas persetujuan faksi Palestina terhadap usulan kesepakatan di Kairo.

“Israel ingin memusnahkan rakyat kami beserta seluruh sarana yang memungkinkan mereka untuk tetap bertahan hidup di tanah ini,” tegas Izz el-Din.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata teknis telah berlaku sejak 10 Oktober 2025, militer Israel tercatat melancarkan pelanggaran harian tanpa henti. Sejak tanggal tersebut, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 1.214 warga Palestina dan melukai 3.977 orang lainnya, yang mayoritasnya adalah anak-anak dan perempuan.

Secara keseluruhan, agresi militer Israel ke Gaza telah merenggut lebih dari 73 ribu nyawa rakyat Palestina, membakar habis infrastruktur kota, dan meninggalkan luka kemanusiaan paling dalam di era modern.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here