RAMALLAH — Gelombang eskalasi di Tepi Barat kembali mencapai titik nadir. Rangkaian serangan anarkis pemukim ilegal Yahudi kini bergerak berkelindan dengan operasi militer intensif tentara Israel. Warga Palestina menyebut fenomena ini sebagai praktik “pembagian peran” yang makin sistematis untuk merebut tanah pendudukan, mengancam keberadaan kamp-kamp pengungsi, hingga melumpuhkan institusi kemanusiaan internasional.
Koresponden Al Jazeera di Tepi Barat, Jivara al-Budeiri, melaporkan bahwa dalam beberapa jam terakhir, sekelompok pemukim Yahudi menghadang dan menganiaya seorang pemuda Palestina di kawasan Masafer Yatta, sebelah selatan Hebron.
Pada saat yang sama, kelompok pemukim radikal juga menggempur Desa Madama di selatan Nablus, sementara geng ekstremis Hilltop Youth (Pemuda Bukit) melancarkan aksi provokasi di sekitar pemukiman Bedouin al-Mahtoush, timur Kudus terduksi.
Eskalasi lapangan ini berjalan seirama dengan perluasan permukiman ilegal. Para pemukim mengumumkan berdirinya pos terdepan (outpost) baru di wilayah Sa’ir, selatan Hebron. Langkah ini menambah panjang daftar ratusan pos liar yang sengaja disebar di seluruh pelosok Tepi Barat sebagai taktik perampasan tanah secara bertahan.
Pengusiran Paksa dan Penggebukan Tanpa Henti
Di saat pemukim bermanuver, militer Israel memperkuat penetrasi melalui penggerebekan massal di berbagai kota dan desa. Di dekat Kamp Al-Jalazoun, utara Ramallah, seorang pemuda Palestina berada dalam kondisi kritis setelah ditangkap dan dihajar secara brutal oleh tentara Zionis saat berusaha mempertahankan bangunan komersial warga dari eksekusi pembongkaran.
Operasi pembersihan juga meluas ke Tubas dan Al-Bireh. Sementara itu, Kota Nablus menyaksikan penggerebekan terbesar pada hari ini, di mana puluhan kendaraan tempur dan lapis baja mengepung permukiman warga serta mengepung pinggiran Kamp Al-Ain.
Eskalasi ini memicu ketakutan mendalam di kalangan warga pengungsi. Wacana yang dilontarkan pejabat Israel mengenai pembongkaran dan pengusiran kamp pengungsi baru kian nyata, mengingat warga Kamp Jenin, Tulkarm, dan Nur Shams telah terusir dari rumah mereka selama lebih dari satu setengah tahun terakhir.
Warga khawatir pola pembersihan etnis ini akan diperluas ke kamp-kamp pengungsi lainnya di Tepi Barat.
Cengkraman terhadap UNRWA dan Kritisnya Tahanan Anak
Di ranah kelembagaan, tekanan terhadap Badan Bantuan dan Kerja Sama UNRWA untuk Pengungsi Palestina terus memuncak. Selain insiden penerobosan ke sejumlah kantor dan fasilitas UNRWA, publik kini menantikan putusan persidangan di pengadilan Israel yang memproses tuntutan pelarangan total operasional UNRWA di wilayah Palestina.
Langkah hukum ini mengancam jutaan pengungsi yang menggantungkan hidup pada layanan mendasar lembaga tersebut.
Tragedi tak kalah memilukan terjadi di balik jeruji besi. Perkumpulan Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Club) menerbitkan peringatan keras atas memburuknya krisis kesehatan di dalam penjara Israel. Seorang anak Palestina berusia 15 tahun dilaporkan mengalami komplikasi parah akibat infeksi kulit menular yang sengaja dibiarkan tanpa pengobatan.
“Kondisi kesehatan anak tersebut terus merosot hingga mengalami kelumpuhan parsial pada tangan dan kelainan fungsi jantung akibat penolakan pihak penjara untuk memberikan perawatan medis yang mendesak,” tulis lembaga tersebut dalam laporan resminya.
Atas krisis kemanusiaan ini, lembaga-lembaga advokasi tahanan kembali mendesak Komite Internasional Palang Merah (ICRC) untuk segera mengakses fasilitas penahanan Israel dan memeriksa kondisi para Tahanan.
Antara gempuran pemukim liar, invasi militer, ekspansi tanah pendudukan, hingga perampasan hak-hak pengungsi, Tepi Barat kini berdiri di ambang babak paling krusial. Warga Palestina tidak hanya menghadapi ancaman keamanan, tetapi juga perang eksistensial atas tanah air mereka sendiri.










