GAZA — Belum sempat warga Gaza menarik napas lega untuk menikmati ketenangan semu pasca-gencatan senjata, eskalasi militer Israel kembali meremukkan harapan mereka. Gelombang serangan udara, tembakan artileri, hingga perintah evakuasi paksa yang baru, kembali menjerumuskan ribuan warga sipil ke dalam labirin pengungsian dan ketakutan yang tak berujung.
Bagi lebih dari dua juta warga Palestina, klaim tentang “berakhirnya perang” hanyalah ilusi yang sengaja dipelihara di atas meja diplomasi internasional. Di lapangan, reruntuhan bangunan baru terus bertambah, kelangkaan bahan pokok kian mencekik, dan rasa aman tetap menjadi barang mewah yang mustahil digapai.
Melihat kontras yang tajam antara narasi damai di luar sana dan kepedihan riil di dalam kantong pengungsian, para aktivis serta jurnalis warga di Gaza meluncurkan sebuah kampanye digital masif. Menggunakan tagar #TheyLiedToYou (“Mereka Membohongi Kalian”), gerakan ini berupaya menembus sensor algoritma global untuk menyuarakan satu pesan penting: pembantaian di Gaza belum selesai.
Memecah Sunyi, Menggugat Kebohongan Damai
Para penggerak kampanye ini menegaskan bahwa tujuan utama gerakan mereka adalah meruntuhkan persepsi keliru dunia bahwa penderitaan di Gaza telah berakhir seiring diumumkannya gencatan senjata. Berhentinya operasi militer skala besar di beberapa titik tidak serta-merta menghentikan teror bom harian.
Aktivis kemanusiaan Gaza, Ayman al-Hassi, menjelaskan bahwa tagar “Mereka Membohongi Kalian” lahir untuk merespons klaim sepihak bahwa agresi militer telah sepenuhnya berhenti sejak deklarasi gencatan senjata pada 10 Oktober 2024 lalu.
“Dunia luar diberi tahu bahwa Gaza tidak lagi dibom. Kebohongan itu sengaja dipelihara sementara di sini korban jiwa terus berjatuhan, bangunan tempat tinggal diledakkan secara sistematis, bantuan kemanusiaan dihambat masuk, dan jutaan pengungsi dibiarkan membeku serta kelaparan di dalam tenda-tenda plastik,” papar Al-Hassi.
Nada serupa diungkapkan oleh Ahmad al-Majayda, seorang jurnalis warga yang mengunggah rekaman video serangan udara Israel yang menghantam sebuah rumah di Deir al-Balah. Rekaman tersebut menunjukkan bahwa jet tempur Israel masih aktif mengincar pemukiman sipil dan wilayah sekitar kamp pengungsian setiap harinya.
“Setiap hari Gaza masih melepas syuhada, mayoritas adalah anak-anak. Satu keluarga utuh tewas dalam serangan baru-baru ini. Ini membuktikan betapa rapuh dan tidak berfungsinya kesepakatan gencatan senjata tersebut,” tambah Al-Majayda.
Menolak Terlupakan oleh Dunia
Para aktivis media sosial dalam kampanye ini sepakat mendesak komunitas internasional agar tidak mengalihkan perhatian dari Gaza. Mereka memperingatkan bahwa jeda pertempuran yang relatif tenang di beberapa wilayah sengaja digunakan sebagai taktik pengalihan isu, sementara militer Israel terus memperluas garis kendali (buffer zone) di dalam Gaza, yang mempersempit ruang gerak warga.
Satu per satu blok pemukiman diratakan hanya dengan menekan satu tombol dari ruang kendali militer, memaksa ribuan keluarga kembali berjalan kaki mencari tempat bernaung tanpa arah yang jelas.
Kampanye ini juga menyerukan kepada para jurnalis internasional untuk terus menyuarakan kondisi riil di lapangan. Mereka mengingatkan bahwa kebenaran dari Gaza harus dibayar mahal dengan darah rekan-rekan jurnalis lokal yang gugur saat bertugas di bawah bayang-bayang moncong senjata.
Teror Satu Menit Melalui Telepon
Analis politik Palestina, Mustafa Ibrahim, menggambarkan bagaimana roda tragedi ini terus berputar dengan pola yang sama mengerikannya. Menurutnya, sebuah panggilan telepon misterius berdurasi kurang dari satu menit dari intelijen Israel sudah cukup untuk mengacaukan hidup puluhan keluarga.
“Telepon singkat itu berisi perintah evakuasi darurat. Dalam hitungan menit, puluhan keluarga harus berlari keluar rumah dengan panik, menyusuri jalanan tanpa arah untuk tidur beralaskan tanah. Beberapa saat kemudian, jet tempur datang meratakan rumah yang baru saja mereka tinggalkan,” kata Ibrahim.
Ia menekankan bahwa durasi beberapa menit yang diberikan Israel sama sekali tidak cukup untuk menyelamatkan harta benda, melindungi harga diri, atau sekadar mencari tempat perlindungan yang layak bagi anak-anak dan lansia.
Kondisi Gaza kini kian sunyi dalam penderitaannya. Berbagai gempuran yang terjadi jauh dari sorotan kamera media internasional memperdalam keyakinan warga setempat bahwa perang ini belum usai, melainkan hanya bergeser ke fase yang lebih sunyi namun jauh lebih mematikan.
Angka statistik dari Kementerian Kesehatan Palestina mempertegas realitas kelam tersebut. Sejak deklarasi gencatan senjata pada 10 Oktober 2024 hingga saat ini, jumlah korban tewas dilaporkan bertambah sebanyak 1.094 jiwa dan 3.507 lainnya luka-luka. Dari jumlah tersebut, sebanyak 799 jasad korban baru berhasil dievakuasi dari balik puing-puing bangunan.
Secara kumulatif, agresi militer Israel di Jalur Gaza sejak meletusnya perang pada 7 October 2023 telah menelan 73.120 korban jiwa dan menyebabkan 173.635 orang terluka. Kerusakan masif ini juga telah melumpuhkan sedikitnya 90 persen infrastruktur sipil di seluruh Jalur Gaza, sebuah catatan hitam kemanusiaan terburuk di abad ini yang coba ditutupi dengan narasi perdamaian palsu.










