RAMALLAH — Eskalasi penyerangan oleh militer Israel di Tepi Barat kian meluas dan mulai menyasar sektor fundamental publik. Dalam serangkaian operasi terpisah, pasukan penjajah menginvasi sebuah institut pendidikan milik PBB di Qalandia, menyegel lembaga amal legendaris di Nablus, serta menggusur lapangan olahraga sekolah di Bethlehem.

Siasat ini dinilai sebagai bagian dari kampanye sistematis Tel Aviv untuk melumpuhkan institusi pendidikan dan sosial kemanusiaan Palestina.

Invasi Institut UNRWA di Qalandia

Di sebelah utara Al-Quds yang diduduki, pasukan Israel menyerbu Institut Pelatihan Kerja Qalandia yang dikelola oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Militer memblokade seluruh gerbang utama kompleks pendidikan tersebut serta menutup akses jalan raya di sekitarnya.

Saksi mata melaporkan bahwa tentara Israel menembakkan gas air mata secara masif ke arah fasilitas pendidikan dan terus menyiagakan personel di dalam serta sekitar area institut.

Invasi ini terjadi kurang dari tiga minggu setelah Pemerintah Provinsi Al-Quds (otoritas Palestina) merilis peringatan pada 11 Juni terkait adanya blueprint rahasia Israel untuk menggusur total pusat pelatihan tersebut.

Fasilitas kejuruan di Qalandia ini menampung sekitar 350 siswa-siswi Palestina berusia 15 hingga 19 tahun. Institut ini berdiri di atas lahan yang dialokasikan oleh Pemerintah Yordania kepada UNRWA sebelum Israel menduduki Tepi Barat dalam Perang Enam Hari tahun 1967.

Bagi otoritas Palestina, serangan ini adalah kelanjutan dari regulasi sepihak Israel yang bertujuan memberangus eksistensi UNRWA di Yerusalem Timur guna mengubah demografi serta identitas kultural kota suci tersebut.

Penyegelan Lembaga Amal Pendukung Anak Yatim

Bergerak ke wilayah utara, militer Israel menyegel paksa kantor pusat Komunitas Amal Al-Tadamun (Al-Tadamun Charitable Society) di Kota Nablus dengan tuduhan klise: “mendukung terorisme.”

Pasukan Israel merangsek masuk ke kota pada waktu subuh menggunakan kendaraan taktis dan truk militer. Mereka menggeledah seisi kantor, lalu menyita seluruh inventaris termasuk perangkat komputer, meja kerja, hingga paket bantuan logistik yang siap didistribusikan kepada keluarga miskin dan anak yatim.

Lembaga Amal Al-Tadamun di Nablus merupakan salah satu organisasi sosial tertua di Palestina. Lembaga ini mulai diarsiteki sejak 1956 dan memperoleh pembaruan izin resmi di bawah Otoritas Palestina pada 1997.

Dalam operasionalnya, Al-Tadamun mengelola sejumlah sekolah swasta sekaligus memberikan santunan kepada ribuan anak yatim dan keluarga dhuafa di wilayah Nablus.

Namun, lembaga tersebut menjadi sasaran operasi militer Israel. Pasukan Israel melakukan penggerebekan pada dini hari, menyita berbagai logistik bantuan sosial, serta menyegel kantor lembaga secara paksa.

Gubernur Nablus, Ghassan Daghlas, menegaskan bahwa kebijakan tangan besi Israel untuk memerangi lembaga-lembaga kemanusiaan yang menyokong fakir miskin dan anak yatim ini dipastikan akan menemui kegagalan.

Sementara itu, Direktur Relief Medis di Nablus, Ghassan Hamdan, mengingatkan bahwa pemberangusan Al-Tadamun bukan insiden tunggal. Satu bulan lalu, Israel menyegel lembaga amal “Madeed” di Nablus, dan pada Oktober 2025 melakukan hal serupa terhadap Asosiasi Islam di Hebron dengan dalih yang sama.

Lapangan Sekolah Berusia Enam Dekade Diratakan

Di wilayah barat Bethlehem, buldozer militer Israel meruntuhkan lapangan olahraga milik Sekolah Menengah Atas Putra Battir di kota kecil Battir. Lembaga Advokasi Hak-Hak Suku Badui (Al-Baidar) melaporkan, tentara mengepung area sekolah yang bersebelahan dengan jalur kereta api sebelum akhirnya merobohkan pagar pembatas dan meratakan seluruh permukaan lapangan.

Padahal, fasilitas olahraga tersebut telah berdiri selama lebih dari enam dekade dan menjadi infrastruktur vital bagi para siswa dan warga lokal. Penghancuran fasilitas olahraga sekolah ini dinilai sebagai bagian dari pola teror psikologis untuk mengganggu stabilitas psikis anak-anak dalam menuntut ilmu.

Cetak Biru Aneksasi Total Tepi Barat

Agresi militer ini berjalan beriringan dengan meningkatnya aksi teror dari para pemukim ilegal Yahudi yang membakar serta menggusur lahan-lahan pertanian milik warga Palestina.

Data resmi pemerintah Palestina menunjukkan skala kekerasan yang mengerikan di Tepi Barat sejak Oktober 2023:

  • Syuhada Gugur: 1.173 jiwa Palestina meninggal akibat peluru militer dan serangan pemukim.
  • Korban Luka: 12.666 warga mengalami cedera fisik.
  • Penahanan Massal: Sekitar 23.000 orang telah dijebloskan ke dalam tahanan Israel.

Otoritas Palestina memperingatkan panggung internasional bahwa masifnya eskalasi penyerangan terhadap institusi publik, sosial, dan infrastruktur sipil ini adalah batu loncatan bagi Tel Aviv sebelum mengumumkan aneksasi formal atas seluruh wilayah Tepi Barat. Langkah sepihak ini secara otomatis akan mengubur resolusi PBB terkait pendirian negara Palestina merdeka yang berdaulat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here