AL-MAGHAZI — Warga Palestina di bagian timur kamp pengungsian Al-Maghazi, Gaza Tengah, dikejutkan oleh kemunculan material misterius yang membanjiri jalanan permukiman mereka. Cairan kental menyerupai semen tersebut dilaporkan mulai merembes ke rumah-rumah warga setelah militer Israel memompanya dalam jumlah besar ke dalam jaringan terowongan bawah tanah yang berada di dekat kawasan tersebut.
Sejumlah penduduk Al-Maghazi menuturkan kepada jurnalis lapangan bahwa mereka sempat mendengar deru mesin pompa bawah tanah yang bising sebelum akhirnya cairan asing itu meluap ke jalan-jalan dan gang perumahan. Akibatnya, akses mobilitas warga lumpuh total, dan beberapa rumah yang berada di dekat garis perbatasan yang disebut Israel sebagai “Zona Kuning” mulai terendam.
Mahmoud Abu Shahadah, salah seorang warga setempat, menceritakan bagaimana situasi mencekam tersebut terjadi.
“Jalanan mendadak penuh dengan cairan itu dalam waktu singkat. Kami kesulitan untuk sekadar bergerak, bahkan untuk mengevakuasi orang sakit pun hampir mustahil, padahal situasi keamanan di sini sedang sangat kritis,” ujarnya.
Menurut Abu Shahadah, dua hari sebelumnya, tank-tank militer Israel sempat merangsek masuk ke wilayah mereka dan melepaskan tembakan membabi buta ke segala arah, memaksa warga mengurung diri di dalam rumah.
Bersamaan dengan pengepungan itu, suara mesin pompa raksasa mulai terdengar. Hanya dalam waktu setengah jam, cairan yang awalnya dikira semen biasa itu mulai meluap dan menenggelamkan jalanan dalam waktu dua jam.
Sempat Dikira Semen Konstruksi
Ketua lingkungan (Miktar) wilayah Ard al-Masdar, Taysir Abdul Jawad, mengungkapkan bahwa kelangkaan ekstrem bahan bangunan di Gaza sempat membuat warga salah sangka. Pada awalnya, beberapa warga mengira cairan itu adalah semen curah yang bisa digunakan untuk memperbaiki rumah mereka yang rusak akibat perang.
“Warga sempat berbondong-bondong menampungnya ke dalam wadah dan ember. Namun, tak lama kemudian kami sadar ada yang aneh. Cairan ini tidak mengeras seperti semen normal dan justru menjadi lumpur pekat yang menyumbat jalanan,” jelas Abdul Jawad.
Anak-Anak Mulai Terserang Ruam Kulit
Pemerintah setempat (Kotamadya Al-Maghazi) langsung mengeluarkan peringatan keras terkait potensi bahaya dari material misterius ini. Kepala Departemen Teknis Kotamadya Al-Maghazi, Insinyur Muhammad Al-Khatib, menyatakan bahwa tim teknis tengah bergerak di lapangan untuk memantau dampak luapan dan memeriksa jaringan saluran pembuangan (sanitasi) agar tidak terjadi penyumbatan total.
Al-Khatib juga mengungkapkan laporan medis awal yang cukup mengkhawatirkan dari warga. “Kami menerima aduan dari para orang tua bahwa anak-anak mereka mulai mengalami gejala alergi, ruam merah, dan gatal-gatal hebat di kulit setelah tidak sengaja bersentuhan dengan material tersebut,” jelasnya.
Kini, rembesan cairan tersebut telah memasuki ruang-ruang tamu dan dapur rumah warga. Di tengah ketidakpastian, masyarakat mendesak lembaga kesehatan dan lingkungan internasional untuk segera melakukan uji laboratorium guna mengetahui kandungan kimia serta dampak jangka panjang zat tersebut terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Penderitaan warga di pinggiran Al-Maghazi ini seolah tak ada habisnya. Selain ancaman zat kimia misterius, mereka yang tinggal menetap di sepanjang perbatasan “Zona Kuning” ini setiap harinya harus bertaruh nyawa di bawah ancaman moncong tank Israel yang kerap melepaskan tembakan acak, yang sejauh ini telah merenggut ratusan korban jiwa dan luka-luka di kawasan tersebut.
Sumber: Diolah dari Laporan Al Jazeera










