RAMALLAH — Sektor kesehatan di Tepi Barat terancam lumpuh total (total systemic collapse). Krisis kemanusiaan ini bukan dipicu oleh kehancuran fisik akibat bombardir vertikal seperti di Jalur Gaza, melainkan akibat asfiksiasi finansial (penyumbatan aliran dana) secara sengaja oleh penjajah Israel.

Langkah penjajah Israel membekukan dana kliring pajak (proportional tax/maqasa), yang menyumbang 68% dari total pendapatan domestik Otoritas Nasional Palestina (PA), telah memicu efek domino yang mengosongkan rak-rak obat di gudang pusat maupun jaringan rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta.

Laporan investigasi mendalam yang disusun oleh jurnalis Mohammad Al-Atrash dari Al Jazeera memperlihatkan bahwa ruang perawatan kini telah berubah menjadi koridor keputusasaan, di mana para dokter terpaksa menunda prosedur bedah paling dasar akibat ketiadaan alat medis dan pasokan obat-obatan esensial.

Anatomi Utang Pembeku Nadi Kesehatan

Hingga pertengahan tahun 2026, akumulasi dana kliring milik Palestina yang ditahan secara sepihak oleh Israel diestimasi telah menembus angka USD 3 miliar (sekitar Rp48 triliun). Kehilangan instrumen pendapatan utama ini membuat kas negara lumpuh, memicu pembengkakan utang internal massal pada sektor kesehatan.

Data Kementerian Kesehatan Palestina menunjukkan bahwa krisis keuangan yang melanda sektor kesehatan telah berkembang menjadi beban utang berskala besar. Total kewajiban yang harus ditanggung sektor ini diperkirakan mencapai USD 1,3 miliar.

Sebagian besar utang tersebut, sekitar USD 900 juta atau hampir 70 persen dari total kewajiban, tertuju kepada rumah sakit swasta dan lembaga kesehatan filantropi yang selama ini menjadi penopang layanan medis di Tepi Barat. Sementara itu, sekitar USD 400 juta sisanya merupakan tunggakan kepada perusahaan farmasi, pemasok alat kesehatan, dan jaringan logistik medis yang bertanggung jawab atas distribusi obat-obatan serta perlengkapan kesehatan ke berbagai fasilitas layanan kesehatan di Palestina.

Kondisi ini memukul telak rumah sakit swasta dan lembaga filantropi (charity hospitals) yang selama dekade terakhir bertindak sebagai katup pengaman (safety net) saat rumah sakit pemerintah kewalahan. Dengan utang kementerian yang mencapai USD 900 juta kepada sektor swasta, rumah sakit non-pemerintah kini kehabisan modal kerja untuk membeli obat dari pihak ketiga. Akibatnya, banyak rumah sakit swasta yang terpaksa memotong gaji staf medis mereka dan hanya mampu membayar sebagian kecil upah selama 18 bulan terakhir.

Sensus Defisit Obat: Kanker Tanpa Terapi

Kementerian Kesehatan Palestina merilis data defisit logistik medis dengan angka yang sangat mengkhawatirkan. Stok strategis nasional yang biasanya disimpan oleh perusahaan vendor farmasi untuk kondisi darurat kini telah terserap 100% tanpa ada kemampuan untuk melakukan impor ulang (re-stocking).

Data Kementerian Kesehatan Palestina menunjukkan bahwa kelangkaan obat dan perlengkapan medis telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dari 97 jenis obat kanker esensial yang seharusnya tersedia secara nasional, sebanyak 50 varian atau sekitar 51 persen dilaporkan telah habis dari stok. Kondisi ini secara langsung mengancam keberlangsungan terapi ribuan pasien kanker yang bergantung pada pengobatan rutin.

Krisis juga melanda sektor layanan medis spesialis. Sedikitnya 265 jenis produk medis khusus dilaporkan habis total dari persediaan nasional, mengganggu berbagai layanan diagnostik maupun tindakan medis lanjutan di rumah sakit.

Sementara itu, kelangkaan paling luas terjadi pada kelompok obat umum. Data resmi menunjukkan sebanyak 726 item obat dalam formularium nasional tidak lagi tersedia di gudang pusat Kementerian Kesehatan. Kekosongan stok tersebut mempersempit kemampuan fasilitas kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pengobatan dasar masyarakat dan meningkatkan risiko terganggunya pelayanan medis di seluruh wilayah Tepi Barat.

Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta dan Filantropi, Dr. Youssef Al-Takruri, mengonfirmasi bahwa manajemen rumah sakit di seluruh Tepi Barat dengan berat hati mulai menolak pasien rujukan baru, terutama untuk tindakan medis tingkat lanjut (advanced care) dan penderita tumor atau kanker (onkologi).

“Kami terpaksa meminta maaf kepada para pasien karena kami tidak lagi memiliki obat kemoterapi maupun alat pelengkap bedah yang dibutuhkan untuk merawat mereka,” ujar Al-Takruri.

Konsekuensi Kemanusiaan: 11 Ribu Operasi Dibatalkan

Dampak langsung dari krisis anggaran dan kelangkaan logistik medis ini menciptakan situasi darurat di ruang operasi:

  • Pembedahan Massal Ditunda: Sedikitnya 11.000 jadwal operasi bedah di seluruh Tepi Barat terpaksa dibatalkan atau ditunda tanpa batas waktu yang jelas sejak awal tahun. Rumah sakit bahkan kehabisan benang bedah (surgical sutures) khusus untuk menutup luka operasi.
  • Krisis Pasien Onkologi: Sebanyak 4.000 pasien kanker di Tepi Barat kini menghadapi ancaman kematian dini yang nyata akibat hilangnya akses ke regimen obat tatalaksana khusus kanker.
  • Likuidasi Vendor Farmasi: Ketua Serikat Pemasok Obat Tepi Barat, Muhannad Habash, mengungkapkan bahwa dalam enam bulan terakhir, perusahaan vendor farmasi rata-rata baru menerima pembayaran piutang sebesar kurang dari 1% dari nilai tagihan yang tertahan di kementerian.

Runtuhnya Proyek Kemandirian Medis

Direktur Jenderal Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Palestina, dr. Mustafa Al-Qawasmi, mengeluarkan seruan darurat (distress call) kepada komunitas internasional. Ia menegaskan bahwa krisis finansial ini secara otomatis menghancurkan program jangka panjang otoritas untuk melakukan lokalisasi layanan kesehatan (localization of medical services).

“Selama bertahun-tahun kami berupaya membangun kemandirian medis di Tepi Barat agar masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada rujukan ke luar negeri atau rumah sakit Israel. Namun hari ini, penahanan dana kliring memaksa kami mundur ke titik nol. Sektor kesehatan kita sedang sekarat,” ujar dr. Mustafa Al-Qawasmi, Dirjen Rumah Sakit Kemenkes Palestina.

Secara psikologis dan kemanusiaan, krisis ini menempatkan warga sipil Palestina dalam posisi paling rentan. Ketika jatuh sakit, mereka harus berhadapan dengan sistem kesehatan yang lumpuh, koridor-koridor rumah sakit yang dipadati pasien kritis, dan ketidakpastian absolut mengenai ketersediaan obat esensial untuk sekadar bertahan hidup.

Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari laporan Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here