GAZA — Ketika Hala Labad membuka matanya, hal pertama yang ia rasakan bukan sentuhan hangat ibu, melainkan sunyi yang pekat dan mencekat. Di sekeliling bocah perempuan kecil itu, hanya ada kepulan asap kelabu dan pecahan beton yang masih panas. Apartemen keluarganya di lingkungan Al-Karamah, tepat di Jalan Al-Mukhabarat, barat laut Kota Gaza, baru saja dihantam rudal Israel.
Hala selamat. Namun, di Gaza hari ini, selamat sering kali berarti dikutuk untuk menanggung ingatan sendirian. Bocah kecil itu menjadi satu-satunya nama yang tersisa dari garis silsilah keluarganya yang habis disapu bersih dalam hitungan detik.
Rumah yang beberapa menit sebelumnya riuh oleh tawa itu runtuh, berubah menjadi kuburan instan. Sang ayah, Hassan Rabah Labad, dan sang ibu, Manar Ibrahim Labad, tewas di tempat. Bersama mereka, tiga saudara kandung Hala (Muhammad, Rahaf, dan Tamim) turut melepas napas terakhir. Mereka semua pergi, meninggalkan Hala yang tubuh mungilnya dipenuhi luka bakar dan serpihan material tajam, bertarung sendirian melawan trauma yang belum mampu dicerna oleh kepalanya.
Mimpi-Mimpi yang Menguap dari Kursi Roda
Tragedi yang menimpa keluarga Labad seperti luka lama yang terus dibongkar paksa oleh mesin perang. Sebelum rumahnya diratakan, Hassan sang ayah sudah berulang kali mendatangi pemakaman; ia kehilangan dua saudaranya, Jihad dan Samir, dalam serangan udara beberapa bulan sebelumnya. Perang ini tidak pernah memberikan jeda sedikit pun bagi mereka untuk sekadar menarik napas atau berkabung dengan layak.
Ada kepedihan yang lebih menyayat di balik manifes korban tewas keluarga ini. Dua dari anak-anak Hassan yang ikut tewas malam itu adalah penyandang disabilitas. Di tengah blokade dan keterbatasan fisik, keduanya menghabiskan hari-hari di Gaza dengan merajut mimpi-mimpi sederhana, mimpi yang akhirnya terbang ke langit bersama tubuh mereka yang hangus, hancur oleh ledakan bom seberat ratusan pon.
“Kami terbangun karena ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh lingkungan. Saat itu, kami tidak pernah mengira bahwa maut baru saja merenggut saudara laki-laki saya dan seluruh hidupnya,” ujar Haneen Labad, bibi dari Hala, dengan suara yang berkali-kali patah oleh tangis saat ditemui di lokasi kejadian.
Haneen mengenang momen ketika ia dan para tetangga mencoba menggali puing-puing dengan tangan kosong. “Guncangannya luar biasa saat kami tiba di sana. Kami terenyak ketika menyadari bahwa hanya Hala, si kecil Hala, yang berhasil ditarik keluar dalam keadaan bernyawa dari bawah reruntuhan pembantaian yang memusnahkan satu keluarga utuh ini.”
Pertanyaan di Balik Perban Putih
Kini, Hala terbaring di atas ranjang rumah sakit yang dingin. Tubuhnya yang ringkih dibalut perban putih guna menutupi luka bakar akibat paparan mesiu. Dokter di lapangan bergerak cepat mengobati kulitnya yang melepuh, namun mereka tahu, luka paling berbahaya dari bocah ini justru tersembunyi di balik matanya.
Hala terus menatap langit-langit bangsal perawatan dengan pandangan kosong. Hingga laporan ini diturunkan, tim medis dan kerabat sengaja menyembunyikan kenyataan pahit darinya. Bocah sekecil itu belum diberi tahu bahwa ayah, ibu, dan seluruh saudaranya sudah dikuburkan di dalam tanah kelabu Gaza. Ia masih berpikir bahwa mereka hanya terpisah di ruang perawatan sebelah, menunggu untuk menjemputnya pulang ke rumah, sebuah rumah yang sebenarnya sudah tidak ada lagi di peta dunia.










