PALESTINA – Tindakan sewenang-wenang otoritas penjara Israel kembali memakan korban. Dr. Hussam Abu Safiya, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza Utara yang diculik militer Israel, kini dipindahkan secara paksa dari Kamp Tahanan Negev ke sel isolasi (sel tikus) di Penjara Gurun Nafha. Di sana, ia ditahan dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi, tanpa akses medis, dan dirampas hak-hak dasarnya yang dijamin oleh hukum internasional.

​Nasser Odeh, pengacara yang mendampingi Dr. Abu Safiya, membongkar motif kotor di balik pemindahan mendadak ini. Menurutnya, hukuman kurungan isolasi ini adalah bentuk balas dendam langsung karena pihak pengacara mengajukan banding atas perpanjangan masa penahanan kliennya yang dinilai ilegal.

​”Langkah (isolasi) ini diambil setelah serangkaian ancaman dan tekanan psikologis berulang kali dilayangkan oleh perwira intelijen serta sipir penjara Israel kepada Dr. Abu Safiya,” ungkap Odeh saat berbicara kepada Al Jazeera, Jumat (5/6/2026).

​Odeh membeberkan, intelijen Israel frustrasi karena Dr. Abu Safiya menolak bungkam. Isolasi ketat ini sengaja dirancang agar sang dokter tidak bisa berinteraksi dengan tahanan lain, memutus kontak total dengan pengacaranya, dan mencegahnya menceritakan kekejaman sistematis yang dialami oleh ribuan tahanan Palestina di dalam penjara-penjara Israel kepada dunia luar.

​Satu Setengah Tahun Siksaan Tanpa Bukti Hukum

​Kisah Dr. Abu Safiya adalah potret nyata bagaimana hukum dipelintir demi melegitimasi kekejaman. Sudah satu setengah tahun lamanya dokter spesialis anak ini menghadapi penyiksaan fisik dan mental yang terstruktur. Ia mengalami pengabaian medis yang parah meski kondisi kesehatannya terus memburuk akibat interogasi.

​Ironisnya, Israel menahan Direktur RS Kamal Adwan ini menggunakan payung hukum kontroversial bernama “Undang-Undang Pejuang Ilegal” (قانون المقاتل غير الشرعي)—sebuah aturan karet yang membuat militer bisa menahan seseorang tanpa batas waktu dan tanpa perlu repot-repot menyodorkan bukti di pengadilan.

​Rekam jejak penahanannya penuh dengan kejanggalan:

  • 27 Desember 2024: Dr. Abu Safiya diculik tentara Israel saat pasukan infanteri menyerbu dan mengacak-acak RS Kamal Adwan.
  • Februari 2025: Israel sengaja menyebarkan video Dr. Abu Safiya dalam kondisi tangan terborgol dan berpakaian tahanan. Langkah ini dikecam luas sebagai bentuk teror psikologis untuk menjatuhkan mental warga Palestina.
  • 16 Oktober 2025: Masa penahanannya diperpanjang lagi secara sewenang-wenang selama 6 bulan tanpa pengadilan yang adil.

​Odeh menegaskan, nasib tragis kliennya bukanlah kasus tunggal. Saat ini, setidaknya ada 14 dokter spesialis Palestina yang diculik langsung dari ruang perawatan rumah sakit.

​”Ini adalah kebijakan sistematis untuk menghancurkan total sistem kesehatan di Jalur Gaza. Mereka menghukum para dokter hanya karena menjalankan sumpah profesinya untuk merawat warga yang terluka akibat perang,” seru Odeh.

​Menembus Dinding Ego Pengadilan Israel

​Menghadapi tembok tebal keadilan di Israel, Nasser Odeh mengaku telah melayangkan banding ke Mahkamah Agung Israel untuk menuntut pembebasan segera Dr. Abu Safiya. Dalam draf gugatannya, ia menegaskan penahanan ini melanggar Hukum Domestik Israel sendiri, Hukum Internasional, dan Konvensi Jenewa yang secara eksplisit memberikan perlindungan mutlak bagi petugas medis di masa perang.

​Jadwal sidang sedianya akan digelar dalam beberapa hari ke depan. Namun, pihak kuasa hukum justru dikejutkan dengan manuver licik sipir penjara yang langsung memindahkan dan mengisolasi Dr. Abu Safiya ke Penjara Nafha agar tidak bisa menghadiri persiapan sidang.

​Hingga detik ini, Odeh mengaku sangat mencemaskan kondisi fisik dan psikologis kliennya di dalam sel isolasi yang gelap gulita tersebut.

​Berdasarkan data yang dihimpun Al Jazeera, Dr. Abu Safiya hanyalah satu dari 737 tenaga medis—termasuk dokter, perawat, dan sopir ambulans—yang ditangkap dan disiksa Israel sejak perang meletus. Mereka yang dulunya bertaruh nyawa menyelamatkan pasien di ruang operasi, kini justru harus bertaruh nyawa di balik jeruji besi yang dingin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here