AMMAN — Sebuah operasi intelijen kemanusiaan yang senyap berhasil menyelamatkan memori kolektif bangsa Palestina dari ambisi pemusnahan sejarah oleh Israel. Sumber-sumber diplomatik Yordania mengungkapkan kepada Al Jazeera, ada sekitar 30 juta dokumen sejarah penting yang berhasil dilarikan. Dokumen-dokumen inilah yang menjadi bukti hukum paling otentik atas hak kepemilikan tanah dan sejarah pengungsian warga Palestina sejak peristiwa pembantaian massal dan pengusiran paksa (Nakba) tahun 1948.
Sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu menyebutkan, puluhan juta dokumen tersebut berhasil diselundupkan keluar dari Jalur Gaza dan Yerusalem yang diduduki, sebelum akhirnya diamankan di ibu kota Yordania, Amman. Langkah ekstrem ini diambil karena adanya kekhawatiran nyata bahwa militer Israel akan menyita, membakar, atau menghancurkan seluruh dokumen tersebut guna menghapus jejak sejarah eksistensi Palestina.
Yordania dilaporkan mengambil peran “besar dan bersejarah” dalam melindungi, merestorasi, serta mendigitalisasi arsip-arsip emas tersebut—sebuah proyek raksasa yang masih terus berjalan hingga hari ini dengan menggunakan teknologi mutakhir.
Operasi Intelijen Sipil: Melarikan Sejarah dari Garis Depan
Misi penyelamatan ini sengaja dirancang sangat rahasia. Pihak otoritas tahu betul jika militer pendudukan Israel mengendus pergerakan ini, mereka akan melakukan segala cara untuk menjegal dan menyitanya. Bagi bangsa Palestina, dokumen-dokumen ini bukan sekadar tumpukan kertas usang, melainkan akta kelahiran peradaban mereka yang mendokumentasikan sejarah pengungsian sejak 1948 sekaligus benteng memori nasional.
Informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa 30 juta dokumen yang berhasil diselamatkan ini mencakup kartu registrasi resmi pengungsi Palestina, sertifikat kelahiran, akta pernikahan, surat kematian, serta dokumen-dokumen tanah kepemilikan keluarga yang merekam fase demi fase pengusiran yang dialami bangsa Palestina selama lebih dari 78 tahun.
Kekhawatiran bahwa dokumen-dokumen ini akan lenyap meroket tajam tak lama setelah Israel meluncurkan perang genosida di Gaza. Mengingat situs-situs bersejarah, perpustakaan, dan gedung arsip di Gaza sengaja dibom oleh Israel, keputusan kilat pun diambil: evakuasi seluruh arsip keluar dari zona bahaya.
Hari ini, seluruh lembaran asli dokumen tahun 1948 tersebut telah tersimpan rapat di tempat yang aman di wilayah hukum Yordania. Langkah ini memastikan bahwa hak hukum generasi masa depan Palestina untuk pulang ke tanah air mereka tetap memiliki bukti otentik yang tidak bisa diganggu gugat.
Di Balik Layar: Keberanian Para Pegawai Lapangan
Juru Bicara dan Penasihat Media Badan Pengungsi PBB untuk Palestina (UNRWA), Adnan Abu Hasna, menegaskan bahwa menjaga dan mengamankan catatan registrasi pengungsi adalah mandat mendasar bagi lembaga tersebut. Ia memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para staf lokal yang bertaruh nyawa di lapangan.
“Keberhasilan menyelamatkan dokumen-dokumen krusial ini di Gaza sepenuhnya adalah buah dari keberanian, dedikasi, dan pengorbanan luar biasa para staf UNRWA di garis depan,” ujar Abu Hasna.
Abu Hasna memaparkan bahwa para pegawai UNRWA terus bekerja di bawah ancaman bom dan peluru. Bagi UNRWA, dokumentasi sistematis mengenai kelahiran, pernikahan, hingga kematian di lingkungan pengungsi adalah tugas inti organisasi. Arsip-arsip ini bukan sekadar tanggung jawab birokrasi sebuah lembaga internasional, melainkan warisan sejarah dunia yang mencatat ketidakadilan terbesar pada abad modern.
Drama 10 Bulan: Diselundupkan di Sela Pengosongan Gaza
Laporan mendalam harian Inggris, The Guardian, mengonfirmasi bahwa operasi rahasia ini berlangsung maraton selama hampir 10 bulan. Operasi penyelamatan ini dimulai persis setelah meletusnya perang pada 7 Oktober 2023. Saat itu, dokumen-dokumen penting ini tersebar di berbagai kantor operasional UNRWA, termasuk markas besar mereka di Kota Gaza yang menyimpan dokumen asli para pengungsi gelombang pertama pasca-Nakba.
Saat jet-jet tempur Israel membombardir Kota Gaza, para staf UNRWA secara bertahap memindahkan jutaan dokumen tersebut ke sebuah gudang logistik di Rafah, wilayah selatan yang berbatasan dengan Mesir. Dari Rafah, dokumen-dokumen ini diselundupkan secara mencicil ke wilayah Mesir dengan memanfaatkan jaringan staf internasional yang memiliki akses keluar-masuk perbatasan.
Dari Mesir, dokumen-dokumen berharga ini kemudian diterbangkan ke Yordania menggunakan pesawat-pesawat militer Angkatan Udara Yordania—memanfaatkan momentum penerbangan logistik militer yang baru kembali setelah menjatuhkan bantuan kemanusiaan di Gaza. Operasi udara ini juga mendapat sokongan penuh dari lembaga nirlaba kerajaan Yordania.
Tak hanya di Gaza, operasi serupa juga dilakukan untuk menyedot keluar arsip-arsip UNRWA di Yerusalem Timur. Langkah ini diambil menyusul peningkatan represi militer Israel, demonstrasi kelompok sayap kanan yang menyerang markas UNRWA, serta ambisi politik Tel Aviv untuk mengusir badan PBB tersebut dari tanah suci.
The Guardian menyebutkan, penyelamatan dokumen ini berpacu dengan waktu sebelum undang-undang baru Israel yang melarang total seluruh aktivitas UNRWA di wilayah pendudukan resmi ketok palu pada awal tahun 2025 lalu.
Restorasi di Laboratorium Kerajaan
Yordania sendiri bukan negara amatir dalam urusan penyelamatan dokumen bersejarah. Negara ini memiliki Royal Jordanian Hashemite Documentation Center (Pusat Dokumentasi Kerajaan), sebuah lembaga ahli yang didirikan sejak 2005 melalui Dekrit Kerajaan. Lembaga ini memiliki spesialisasi merestorasi, mendigitalisasi, dan merawat manuskrip serta dokumen kuno dengan standar sains tertinggi.
Secara teknis, pusat dokumentasi ini menerjunkan teknologi mutakhir untuk menyelamatkan lembaran-lembaran kertas Palestina yang mulai rapuh. Prosesnya meliputi pembersihan kering dari sisa debu mesiu, sterilisasi bakteri dan jamur, restorasi serat kertas baik secara manual maupun mekanis, laminasi termal, hingga penjilidan ulang dan pemindaian elektronik ke dalam format mikrofilm serta arsip digital.
Di Amman, UNRWA langsung membuka proyek digitalisasi skala masif dengan sokongan dana utama dari pemerintah Luksemburg. Lebih dari 50 tenaga ahli dikerahkan siang malam untuk memindai lembar demi lembar kartu registrasi asli pengungsi demi mengamankan basis data elektronik yang tidak bisa dihancurkan oleh bom.
Tameng Hukum Membuktikan Eksistensi Palestina
Para pejabat tinggi PBB menyatakan kepada The Guardian bahwa dokumen-dokumen ini merupakan bukti hukum yang tak ternilai harganya. Di masa depan, lembaran-lembaran kertas inilah yang akan menjadi satu-satunya bukti sah di pengadilan internasional untuk membuktikan bahwa tanah, rumah, dan desa-desa yang kini diklaim sepihak dan diduduki oleh Israel sejak 1948 adalah milik sah keluarga-keluarga Palestina.
Para akademisi dan sejarawan dunia menyebut arsip UNRWA ini berfungsi sebagai “Arsip Nasional Pengganti” bagi bangsa Palestina. Hal ini dikarenakan Palestina belum memiliki lembaga arsip nasional tunggal yang terpusat akibat penjajahan yang terus berlangsung.
Upaya heroik penyelamatan arsip ini sekaligus mengingatkan publik pada memori kelam tahun 1982. Saat militer Israel menginvasi Beirut, Lebanon, pasukan komando Israel secara sengaja menjarah dan merampas pusat dokumentasi serta arsip resmi milik Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) guna memutus mata rantai sejarah perjuangan mereka. Namun kali ini, lewat operasi senyap di Gaza dan Yerusalem, Israel dipastikan gagal total menghapus bukti sejarah tanah Palestina.
Sumber: Al Jazeera, The Guardian










