PALESTINA – Operasi militer sepihak yang dilancarkan Israel terhadap armada Global Sumud Flotilla (GSF) kian beringas. Hingga Selasa (19/5), sumber keamanan Tel Aviv mengonfirmasi bahwa angkatan laut Israel telah membajak lebih dari 40 kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla dan menculik ratusan relawan internasional di tengah perairan lepas.

Situs berita Israel, Walla, melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, telah menerima laporan berkala mengenai jalannya operasi ini. Dari total sekitar 500 aktivis kemanusiaan yang berlayar menuju Jalur Gaza, lebih dari 300 orang di antaranya kini telah diculik oleh militer Israel.

Sementara, Abdul Rahman al-Kahlout, anggota tim Freedom Flotilla, menyebut teroris Israel telah mencuik 345 aktivis.

Hingga saat ini, proses pembajakan atas seluruh unit kapal belum sepenuhnya rampung. Garis kebijakan politik Tel Aviv pun sudah bulat; para aktivis yang diculik ini akan segera dipindahkan, entah dideportasi paksa ke daratan Israel atau dilemparkan ke negara ketiga di kawasan Timur Tengah. Sementara itu, sisa-sisa kapal yang belum tersentuh moncong meriam Israel dilaporkan masih terombang-ambing di tengah luasnya Laut Mediterania.

Harian Israel Hayom bahkan mengklaim bahwa kepolisian dan angkatan laut mereka telah menyelesaikan 95 persen pembajakan kapal-kapal sipil asal Turki tersebut. Mereka melabeli aksi solidaritas kemanusiaan ini sebagai “Armada Provokasi”. Media tersebut menambahkan bahwa fase paling rumit dari operasi pembajakan yang dimulai sejak Senin kemarin kini telah berhasil mereka lalui.

Kemarahan Global: 10 Negara Kutuk Aksi Pembajakan

Tindakan premanisme laut yang dipertontonkan Israel memicu gelombang perlawanan diplomatik yang sengit. Sepuluh negara (Turki, Indonesia, Bangladesh, Brasil, Spanyol, Kolombia, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Yordania) merilis pernyataan sikap bersama. Mereka mengutuk keras serangan berulang yang dilancarkan militer Israel terhadap Global Sumud Flotilla.

Perwakilan dari sepuluh negara tersebut menegaskan bahwa penyerangan terhadap kapal-kapal sipil di perairan internasional, disusul penahanan para aktivis, merupakan pelanggaran telanjang terhadap Hukum Internasional serta Hukum Humaniter Internasional.

Para menteri luar negeri dari lintas benua ini menyatakan kecemasan mendalam atas keselamatan fisik warga sipil yang berada di dalam kapal. Mereka mendesak pembebasan segera tanpa syarat bagi seluruh relawan yang disandera, serta menuntut Israel untuk menghormati hak asasi dan martabat mereka.

“Komunitas internasional harus memikul tanggung jawab hukum dan moralnya. Amankan para warga sipil dan misi kemanusiaan ini. Harus ada langkah nyata untuk menghentikan budaya impunitas (kebal hukum) yang dinikmati Israel dan memastikan adanya pertanggungjawaban atas segala pelanggaran ini,” bunyi tuntutan keras dalam manifesto bersama tersebut.

Nada kekhawatiran serupa juga diembuskan oleh Istana Kaca PBB di New York. Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Farhan Haq, menegaskan bahwa organisasi dunia tersebut menuntut jaminan penuh agar seluruh relawan di atas kapal tidak mengalami kekerasan fisik atau dilukai oleh militer Israel.

Ikhtiar Menembus Genosida yang Tak Pernah Padam

Misi pelayaran berani mati ini dimulai sejak Kamis pekan lalu, ketika 54 kapal bantuan bertolak dari kota pelabuhan Marmaris, Turki. Ini adalah ikhtiar terbaru dunia sipil internasional untuk meruntuhkan tembok blokade zalim yang telah mengunci 2,4 juta warga Gaza sejak tahun 2007 silam.

Pengadangan berdarah ini bukan yang pertama kalinya dialami oleh para relawan. Pada 29 April lalu, militer Israel juga meluncurkan serangan serupa di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, yang menyasar kapal-kapal kelompok tersebut saat membawa 345 aktivis dari 39 negara. Kala itu, Israel menyita 21 kapal dan menahan 175 relawan sebelum akhirnya melepaskan mereka, menyisakan dua aktivis asal Spanyol dan Brasil yang sempat diseret ke pusat penahanan domestik Israel sebelum dideportasi.

Agresi maritim yang dipraktikkan Israel ini terjadi di tengah kepedihan luar biasa yang dirasakan warga Gaza. Lebih dari 1,5 juta jiwa kini hidup luntang-lantung sebagai pengungsi di atas tanahnya sendiri akibat perang pemusnahan massal (genosida) yang dilancarkan Israel, yang telah menggugurkan lebih dari 72 ribu jiwa dan melukai 172 ribu lainnya—yang mayoritasnya adalah anak-anak dan kaum perempuan.

Ironisnya, meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan sejak 10 Oktober tahun lalu, di lapangan kesepakatan itu tak lebih dari sekadar macan kertas. Israel terus melanjutkan kekejamannya dengan memperketat pasokan makanan dan obat-obatan, dibarengi dengan aksi pengeboman harian. Data lokal mencatat, sejak pengumuman gencatan senjata yang diklaim damai itu, sebanyak 877 warga Palestina justru gugur dan 2.602 lainnya luka-luka.

Bagi dunia, penangkapan 300 aktivis ini membuktikan satu hal: di mata Israel, bantuan kemanusiaan dan obat-obatan untuk bayi yang kelaparan di Gaza adalah musuh yang harus dihancurkan dengan senapan perang.


Sumber: Al Jazeera / Walla / Israel Hayom

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here