Sepak terjang militer Israel di Jalur Gaza tak menunjukkan tanda-tanda melambat. Di tengah klaim jeda pertempuran, mesin perang Tel Aviv justru giat beroperasi, merontokkan sasaran dari udara, membantai belasan nyawa, dan membiarkan jutaan manusia perlahan mati kelaparan akibat blokade bantuan.


GAZA – Di bawah langit Gaza, “gencatan senjata” tampaknya hanya menjadi sebaris kalimat tanpa nyawa di atas meja perundingan. Di lapangan, realitas yang dihadapi warga adalah kepulan asap hitam yang membubung bergantian, deru artileri yang memekakkan telinga, dan mesin-mesin jagal udara yang terus berputar mencari mangsa.

Hanya dalam hitungan jam terakhir, ruang darurat rumah sakit kembali dibanjiri darah. Sedikitnya 13 nyawa melayang dalam gelombang serangan teranyar. Delapan di antaranya tewas seketika dalam satu hantaman presisi yang menyasar Ezzedine al-Haddad—komandan lapangan papan atas Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas.

Hari Minggu ini, alih-alih menjadi hari istirahat, fajar di Gaza justru dibuka dengan dentum bom. Lima warga sipil tewas bergelimpangan di beberapa titik, berkelindan dengan rentetan tembakan senapan mesin berat yang menyalak di selatan Khan Younis dan kawasan Al-Tuffah di sisi timur.

Dari koridor Rumah Sakit Syuhada Al-Aksa, dilaporkan tiga jenazah dievakuasi dari puing-puing di Deir al-Balah, korban dari peluru kendali yang dilepaskan drone intai Israel. Pola yang sama berulang di jantung Khan Younis; Kompleks Medis Nasser mengonfirmasi satu ambulansnya kembali membawa jenazah dan belasan korban luka akibat amukan drone. Bergeser ke utara, Kamp Jabalia yang padat mampat tak luput dari teror fajar; satu nyawa melayang saat warga baru saja hendak memejamkan mata.

Ritual Harian Pelanggaran Jeda Perang

Poros selatan kini mendidih. Mesin militer Israel memusatkan pukulannya di sekitar Khan Younis dan Rafah. Skemanya tak lagi berupa invasi konvensional skala besar, melainkan taktik pengurasan stamina: jet tempur melepas bom paruh waktu, meriam artileri menyalak dari perbatasan, sementara kapal perang yang bersandar di perairan Mediterania sesekali melepaskan tembakan ke arah daratan. Bagi warga lokal, riuh rendah mesiu ini bukan lagi insiden luar biasa, melainkan ritual harian yang mengoyak kesepakatan jeda perang.

Laporan lapangan dari pinggiran Kota Gaza hingga sektor selatan mengonfirmasi taktik ofensif ini. Di sepanjang garis demarkasi, militer Israel kerap melakukan pembukaan api (buka tembakan) tanpa provokasi yang jelas, memicu kepanikan massal di zona-zona yang seharusnya dinyatakan aman untuk warga sipil.

Imbasnya, grafik krisis kemanusiaan menanjak secara eksponensial. Otoritas Kesehatan di Gaza kehabisan ruang untuk mencatat korban baru yang terus berdatangan sejak perang pecah Oktober 2023. Skala kehancuran infrastruktur sipil telah berada di titik di mana upaya pencarian korban di bawah reruntuhan beton tak lagi menggunakan alat berat, melainkan dengan tangan kosong para relawan.

Di dalam bangunan rumah sakit yang tersisa, situasinya tak kalah horor. Para dokter bekerja di bawah temaram lampu darurat karena kelangkaan bahan bakar generator. Stok obat bius habis, antibiotik menipis, membuat ruang perawatan intensif (ICU) dan instalasi gawat darurat lebih mirip seperti ruang jagal daripada fasilitas penyembuhan.

Bantuan yang Disaring Ketat: Siasat Kelaparan Berstruktur

Keluar dari ancaman bom, warga Gaza dihadang oleh hantu kelaparan. Di kamp-kamp pengungsian darurat (tempat ratusan ribu jiwa berjejal di dalam tenda terpal) air bersih dan listrik telah menjadi barang mewah yang mustahil diakses. Inflasi meroket gila-gilaan untuk bahan makanan pokok yang jumlahnya amat terbatas.

Mengapa logistik begitu seret? Kantor Media Pemerintah di Gaza membongkar biang keladinya. Sejak kesepakatan jeda senjata diteken pada 10 Oktober lalu, jumlah truk bantuan yang diizinkan melintasi pintu perbatasan tidak pernah melebihi 38 persen dari kuota yang seharusnya.

Israel menerapkan sistem penyaringan yang luar biasa birokratis dan cenderung tak masuk akal. Puluhan item esensial (mulai dari tabung oksigen, alat bedah, hingga bahan pangan berserat) ditolak masuk dengan dalih “keamanan ganda” (dual-use). Alih-alih menyalurkan bantuan kemanusiaan, koridor perbatasan justru berfungsi sebagai alat pemeras diplomatik.

Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here