Kubah Batu dan pelataran suci Al-Aksa kini tak lagi sekadar medan gesekan politik. Di bawah kendali kelompok ultra-nasionalis religius di kabinet Israel, Al-Quds sedang digiring masuk ke fase paling berbahaya: pembongkaran identitas Islam secara total menuju perwujudan narasi teologis ekstrem.
AL-QUDS – Udara di Kota Tua Al-Quds belakangan ini terasa lebih pekat oleh kecemasan. Di pelataran Masjid Al-Aqsa, pemandangan yang dulu dianggap tabu kini jamak tersaji, kelompok-kelompok pemukim Yahudi masuk secara masif, menggelar ritual doa Talmud, bersujud di atas batu, hingga mengibarkan bendera bintang Israel di bawah kawalan ketat laras senapan polisi.
Bagi warga Palestina, ini bukan lagi sekadar provokasi musiman. Ini adalah deklarasi bahwa Israel telah melompat dari era “mengelola konflik” menuju pemaksaan kedaulatan religius secara mutlak.
Pakar studi Al-Quds, Jamal Amr, menilai situasi hari ini telah melewati ambang batas bahaya dari tahun-tahun sebelumnya. “Apa yang kita saksikan bukan lagi prosedur keamanan atau manuver politik biasa. Ini adalah proyek utuh untuk merombak total wajah kota ini, memaksakan pembagian ruang dan waktu di Al-Aksa, dan mematangkan cetak biru pembangunan kuil di atas reruntuhannya,” ujar Amr dalam wawancara bersama The Palestinian Information Center.
Dari Pinggiran ke Pusat Kekuasaan
Menurut Amr, kiblat politik di Tel Aviv telah bergeser radikal. Kelompok-kelompok Yahudi ortodoks-mesianik yang beberapa dekade lalu dianggap sebagai sekte pinggiran yang eksentrik dan radikal, kini justru duduk di kursi kemudi pemerintahan.
“Dulu, ritual joget, doa Talmud, dan pengibaran bendera di dalam Al-Aksa hanyalah mimpi di siang bolong bagi rabi ekstremis Meir Kahane. Hari ini, para muridnya yang duduk di kabinet mewujudkan mimpi itu menjadi kebijakan resmi negara,” kata Amr.
Kelompok sayap kanan ini sukses menyeret seluruh proyek zionisme ke arah fundamentalisme agama yang agresif, tanpa memedulikan sensitivitas dunia Islam maupun mandat perwalian yurisdiksi Yordania.
Ironisnya, pergeseran ini terjadi di tengah pembelahan internal masyarakat Israel sendiri. Kaum kiri dan sekuler tradisional yang dulu membidani lahirnya negara itu kini nyaris punah dari peta politik. Namun, kubu kanan yang berkuasa pun sebetulnya saling sikut.
Amr menceritakan adanya faksi-faksi agama yang masih mengharamkan penganutnya menginjakkan kaki di Al-Aksa karena alasan kesucian prasyarat teologis, seperti sekte yang menunggu ritual “Sapi Betina Merah”.
Namun, faksi nasionalis-religius yang disokong Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir telah mendobrak tabu tersebut. Para rabi mereka kini terang-terangan menghalalkan pengikutnya merangsek hingga ke area krusial seperti Kubah Batu (Dome of the Rock), Mushola Al-Qibli, dan Mushola Al-Marwani.
Meniru Cetak Biru Hebron
Amr mengingatkan, Israel tengah menduplikasi taktik yang mereka gunakan di Masjid Ibrahimi, Hebron. Metode “pengeratan perlahan” ini terbukti efektif di masa lalu.
[ MODEL REKAYASA RUANG HEBRON UNTUK AL-AQSA ]
Tahap 1: Provokasi & Insiden Kekerasan (Memicu Ketegangan)
│
▼
Tahap 2: Pengambilalihan Kendali Keamanan (Alasan Sterilisasi)
│
▼
Tahap 3: Pemaksaan Pembagian Waktu Jemaah (Islam & Yahudi)
│
▼
Tahap 4: Pembagian Fisik Area Suci (Klaim Warisan Sejarah Yahudi)
“Apa yang terjadi di Hebron setelah pembantaian oleh Baruch Goldstein pada 1994 adalah cetak biru yang kini sedang dijiplak di Al-Aksa,” papar Amr. Di Hebron, Israel mula-mula membagi waktu ibadah, lalu memisahkan ruang fisik, hingga akhirnya mengklaim situs tersebut sebagai bagian dari “warisan budaya Yahudi”.
Hari ini, kelompok ekstremis di Yerusalem tak lagi malu-malu berdiskusi di ruang publik tentang rencana meruntuhkan Al-Aksa untuk mendirikan HaHeikal (Bait Suci ketiga) tepat di titik Kubah Batu berdiri. Proyek ini menggelinding mulus karena Tel Aviv merasa tidak ada ongkos politik yang harus dibayar; protes dari ibu kota negara-negara Arab dan Islam hanya mentok di atas kertas rilis pers yang klise.
Al-Quds dalam Cengkeraman Kecerdasan Buatan
Di luar tembok kompleks Al-Aksa, Kota Tua Al-Quds telah diubah dari ruang publik bersejarah yang hidup menjadi barak militer yang dingin. Labirin kuno yang dulu dipenuhi aroma rempah dan keriuhan pedagang kini sesak oleh laras senapan dan menara pengawas.
Israel memanfaatkan momentum ketegangan regional untuk menetapkan status darurat permanen. Kota Tua kini dipasangi jejaring kamera pengawas bersensor canggih yang terintegrasi dengan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Setiap gerak-gerik, wajah, dan langkah warga Palestina dipindai, dicatat, dan diprogram. Tujuannya satu, menciptakan tekanan psikologis yang konstan agar warga lokal merasa tak nyaman dan memilih angkat kaki secara “sukarela”.
Pembersihan senyap ini dibarengi dengan agresivitas penyitaan aset-aset properti milik warga Arab di sekitar Tembok Ratapan (Buraq Wall) dan Gerbang Silsilah (Bab al-Silsilah), demi memperluas kawasan pemukiman Yahudi (Jewish Quarter).
Parade Bendera: Pesta Pora di Atas Luka
Simbol penundukan paling vulgar yang dirasakan warga kota adalah “Parade Bendera” (Flag March). Acara tahunan untuk merayakan pendudukan Yerusalem Timur itu kini murni menjadi instrumen intimidasi massal.
Di hari itu, ribuan pemuda nasionalis Yahudi berparade melintasi kawasan Arab, menggedor pintu-pintu toko, merusak barang dagangan, dan meneriakkan yel-yel rasis di bawah perlindungan penuh polisi. Bagi warga luar, itu mungkin festival budaya; namun bagi warga Arab Yerusalem, hari itu adalah neraka tahunan di mana mereka dipaksa bersembunyi di dalam rumah, terisolasi secara ekonomi, dan dihancurkan harga dirinya.
Al-Quds secara historis selalu menjadi sumbu pendek yang menentukan perang dan damai di Timur Tengah, mulai dari Revolusi Buraq 1929 hingga Intifada. Hari ini, warga Al-Quds berada di titik nadir tekanan psikologis dan militer. Mereka terkepung di dalam benteng teknologi perang Israel. Jika dunia internasional tetap memilih pura-pura pingsan, sumbu pendek itu sedang terbakar menuju ledakan yang jauh lebih masif dari yang pernah dibayangkan.
Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari The Palestinian Information Center










