Sepuluh kali dalam dua bulan, sel-sel di Penjara Damon berguncang oleh operasi “penertiban” yang brutal. Dari balik tembok itu, mengalir kesaksian tentang perempuan yang dipaksa telentang dengan tangan terikat ke belakang, ibu hamil yang kelaparan, hingga penggeledahan telanjang yang meruntuhkan martabat.

Kabar yang tersaring dari Penjara Damon bukan lagi sekadar laporan rutin tentang penahanan. Nadi al-Asir (Klub Tahanan Palestina) baru saja merilis catatan merah: sepanjang Maret dan April 2024, setidaknya terjadi sepuluh kali aksi represif sistematis terhadap para tahanan perempuan Palestina.

Di sana, 88 perempuan disekap. Ada dua anak di bawah umur dan tiga ibu hamil yang sedang berjuang melewati trimester pertama mereka.

Kesaksian dari mereka yang baru bebas melukiskan pemandangan yang mencekam. Operasi penggeledahan sering kali berakhir dengan kekerasan fisik. Para tahanan perempuan dipaksa tengkurap atau telentang di lantai sel yang dingin, tangan mereka diborgol ke belakang, sementara petugas (baik sipir pria maupun wanita) melakukan intimidasi fisik yang meninggalkan lebam di sekujur tubuh.

Isolasi, Kerumunan, dan Kelaparan

Sejak perang di Gaza meletus pada Oktober 2023, standar perlakuan di penjara-penjara Israel merosot tajam. Isolasi mandiri kini menjadi “senjata” favorit otoritas penjara. Setidaknya enam perempuan dikabarkan mendekam di sel isolasi selama berminggu-minggu tanpa akses komunikasi.

Namun, di sel-sel umum, masalahnya justru sebaliknya: kelebihan muatan. Satu sel kecil dipaksa menampung sepuluh orang. Akibatnya, sebagian besar dari mereka terpaksa tidur di lantai tanpa alas yang memadai.

Krisis pangan juga menjadi horor tersendiri. Kebijakan pengurangan jatah makan secara drastis—yang disebut-sebut sebagai salah satu bentuk hukuman kolektif—membuat kondisi fisik para tahanan merosot tajam.

“Salah satu tahanan perempuan kehilangan berat badan hingga 30 kilogram hanya dalam beberapa bulan setelah ditangkap,” tulis pernyataan Nadi al-Asir.

Penggeledahan Telanjang: Luka Tersembunyi

Satu praktik yang paling menghancurkan mental para tahanan adalah penggeledahan telanjang (strip search). Prosedur ini dilaporkan menjadi kewajiban rutin, terutama saat pemindahan ke Penjara HaSharon atau saat pertama kali masuk ke Damon.

Bagi para penyintas, ini bukan sekadar prosedur keamanan; ini adalah bentuk pelecehan seksual yang dilegalkan oleh sistem. Di bawah todongan ancaman, martabat mereka dikuliti satu per satu di ruang-ruang gelap penjara.

Daftar Penyakit Tanpa Obat

Kondisi kesehatan di Damon juga berada pada titik nadir. Di antara 88 perempuan itu, terdapat penderita penyakit kronis yang butuh penanganan serius, termasuk dua tahanan yang mengidap kanker. Alih-alih mendapatkan perawatan medis yang layak, mereka justru diabaikan.

Mayoritas dari para perempuan ini ditangkap dengan tuduhan “provokasi” di media sosial atau ditahan melalui skema Administrative Detention—sebuah sistem warisan kolonial yang mengizinkan Israel memenjara seseorang tanpa dakwaan dan tanpa pengadilan berdasarkan “berkas rahasia”.

Desakan Internasional yang Mandul

Hingga hari ini, lebih dari 9.400 warga Palestina mendekam di penjara-penjara Israel. Berbagai lembaga hak asasi manusia, baik dari Palestina maupun internal Israel sendiri, telah berulang kali meneriakkan peringatan tentang penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis yang telah merenggut nyawa puluhan tahanan.

Nadi al-Asir kembali melayangkan tuntutan lama yang kian mendesak: bebaskan mereka yang ditahan secara sewenang-wenang, terutama anak-anak, orang sakit, dan ibu hamil. Tanpa tekanan internasional yang nyata, tembok Damon akan tetap menjadi bisu bagi jeritan perempuan-perempuan yang sedang “dilenyapkan” secara perlahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here