Israel mengusir dua aktivis internasional yang berupaya menembus blokade laut Gaza, sementara sisa kapal Armada Global Sumud Flotilla (GSF) kini memilih merapat ke pantai Turki untuk mengatur ulang strategi. Di tengah gencatan senjata yang rapuh, laut kembali menjadi panggung adu urat syaraf antara aktivis kemanusiaan dan militer Tel Aviv.

Teroris Israel tidak memberi ruang bagi “diplomasi laut”. Ahad (10/5), Kementerian Luar Negeri Israel resmi mendeportasi dua aktivis Global Freedom Flotilla, Tiago Avila dan Saif Abu Kishk. Pengusiran ini dilakukan setelah keduanya menjalani pemeriksaan intensif pasca-penangkapan di perairan internasional.

Lewat pernyataan di platform X, Tel Aviv melabeli keduanya sebagai bagian dari “armada provokasi”.

Lubna Touma, pengacara dari Pusat Advokasi Adalah yang mendampingi kedua aktivis tersebut, mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa proses deportasi telah tuntas. Saif Abu Kishk, aktivis berdarah Spanyol-Palestina, telah diterbangkan ke Athena melalui Bandara Ben Gurion sebelum melanjutkan perjalanan ke Madrid. Sementara Tiago Avila, aktivis asal Brasil, memilih jalur darat melalui perbatasan Taba menuju Mesir untuk kemudian dipulangkan ke Kairo dan Brasilia.

Deportasi ini sempat memicu ketegangan diplomatik. Pemerintah Spanyol dan Brasil mengecam penahanan warga negara mereka sebagai tindakan “ilegal”. Padahal, Pengadilan Ashkelon sebelumnya sempat memperpanjang masa penahanan mereka hingga 10 Mei.

Reorganisasi di Marmaris

Saat dua rekan mereka dipulangkan, sisa-sisa Armada Global Sumud Flotilla (GSF) tidak lantas bubar. Setelah dibajak oleh militer Israel di perairan internasional, kapal-kapal yang mengangkut bantuan kemanusiaan itu kini merapat di pelabuhan Marmaris, Turkiye.

Rekaman video yang beredar menunjukkan iring-iringan kapal mulai berkumpul di lepas pantai Turkiye untuk melakukan perbaikan teknis dan pemulihan logistik. Sebelumnya, armada ini sempat tertahan di lepas pantai Kreta, Yunani.

Tara O’Grady, anggota komite pengarah armada, menyatakan bahwa fokus mereka saat ini bukan hanya soal mesin kapal. “Kami sedang mengevaluasi dampak fisik dan psikologis para aktivis setelah konfrontasi dengan pihak Israel. Tim penanganan trauma dan perwakilan hukum sudah dikerahkan,” ujarnya.

Armada kali ini terdiri dari 50 kapal yang membawa 345 peserta dari 39 negara. Namun, militer Israel dilaporkan telah menahan 21 kapal dengan sekitar 175 aktivis di dalamnya. Inisiatif ini merupakan upaya besar kedua setelah tragedi September 2025 lalu, yang juga berakhir dengan penangkapan massal oleh otoritas Israel.

Gema di Jalanan Tunisia

Efek domino dari pencegatan di laut ini merembet hingga ke daratan Afrika Utara. Di pusat kota Tunis, Sabtu malam lalu, puluhan aktivis berkumpul di depan Teater Nasional. Mereka mengibarkan bendera Tunisia dan Palestina, meneriakkan kecaman terhadap blokade Gaza yang telah berlangsung sejak 2007.

Mourad Yaacoubi, Ketua Asosiasi Ansar Palestine, menyebut aksi ini sebagai aksi ke-127 sejak perang meletus pada Oktober 2023. “Isu Palestina kini telah melampaui batas agama dan bangsa; ini adalah isu kemanusiaan universal,” tegasnya.

Yaacoubi juga melontarkan kritik pedas kepada pemerintah negara-negara Barat. Ia menilai ada “keberpihakan yang telanjang” karena negara-negara tersebut gagal melindungi warga negara mereka sendiri yang menjadi aktivis kemanusiaan di perairan internasional.

Di Gaza, blokade ini bukan sekadar urusan kedaulatan laut, melainkan soal hidup dan mati. Sejak Oktober 2023, krisis kemanusiaan telah mencapai titik nadir, dengan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Bagi mereka, “Armada Ketabahan” yang kini sedang memperbaiki mesin di Marmaris adalah simbol bahwa dunia belum sepenuhnya melupakan mereka, meski laut kini dijaga ketat oleh moncong senjata.


Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here