Satu tahun mendekam dalam gelapnya sel tanpa dakwaan, jurnalis kawakan Ali al-Samoudi akhirnya menghirup udara bebas. Namun, ia pulang sebagai raga yang ringkih: kehilangan separuh berat badan dan membawa sepuluh jenis penyakit sebagai “oleh-oleh” dari tindakan pengabaian medis sistematis Israel.
Ali al-Samoudi tidak pernah menyangka bahwa profesinya sebagai mata dan telinga dunia di Tepi Barat akan dibayar dengan harga yang begitu mahal. Akhir April lalu, jurnalis berusia 60 tahun ini dibebaskan setelah setahun penuh menjadi penghuni penjara Israel lewat skema “penahanan administratif”, sebuah istilah halus untuk pemenjaraan tanpa tuduhan, tanpa bukti, dan tanpa pengadilan.
Samoudi, yang dikenal sebagai saksi kunci sekaligus korban dalam tragedi pembunuhan jurnalis Shireen Abu Akleh, berbagi kisah getirnya kepada Al Jazeera. Ia bukan sekadar ditahan; ia dikeler untuk menyaksikan “pertunjukan” kekuasaan yang sadis.
Sandiwara di Bawah Todongan Senjata
Malam penangkapannya di Jenin setahun lalu adalah awal dari drama absurd. Samoudi tak langsung dibawa ke sel, melainkan diseret ke sebuah rumah di kamp pengungsi Jenin yang telah disulap menjadi barak militer. Di sana, ia disekap selama 80 jam tanpa makan, minum, maupun akses medis, dengan tangan dan kaki terbelenggu.
“Karena kamu menyoroti pelanggaran di sini, sekarang kami hukum kamu untuk merasakannya langsung,” kenang Samoudi menirukan pesan tersirat dari para serdadu.
Puncaknya adalah sebuah pelecehan profesi yang ganjil. Di tengah malam buta, seorang serdadu menurunkan Samoudi dari kendaraan patroli, bertepuk tangan, dan berteriak, “Mikhabil min Al Jazeera!” (Teroris dari Al Jazeera).
Sekitar 20 tentara mengepungnya. Sang serdadu kemudian berlagak menjadi pembawa acara berita, “Kita sedang bersama koresponden Ali al-Samoudi di Jenin. Apa perasaanmu setelah ditangkap?”
Di bawah ancaman pukulan jika bungkam, Samoudi menjawab dengan getir: “Saya ditahan tanpa tahu apa sebabnya, dibelenggu di tengah cuaca sedingin ini, dan tak tahu akan dibawa ke mana.” Bukannya marah, para serdadu justru bertepuk tangan dan berfoto di depan Samoudi yang terhina, sebelum menyeretnya ke penjara.
Dendam Shireen Abu Akleh
Selama interogasi, motif kebencian militer Israel makin terang benderang. “Kami akan biarkan kamu membusuk di penjara. Silakan minta Al Jazeera untuk membebaskanmu,” ujar seorang penyidik.
Samoudi meyakini bahwa penahanannya adalah aksi balas dendam. Israel gerah dengan liputan luas Al Jazeera dan peran aktif Samoudi dalam membongkar fakta penembakan Shireen Abu Akleh. Upaya Samoudi membawa kasus tersebut ke PBB rupanya menjadi duri dalam daging bagi otoritas pendudukan.
Tanpa bukti yang sah, militer Israel menggunakan jurus pamungkas: menuduhnya berafiliasi dengan gerakan Jihad Islam dan terlibat pencucian uang. Tuduhan yang, menurut Samoudi, tak pernah bisa mereka buktikan di meja hijau mana pun.
Raga yang Menyusut
Potret fisik Samoudi saat ini adalah bukti bisu betapa biadabnya kondisi di balik jeruji. Ia masuk penjara dengan berat badan 120 kilogram, namun keluar sebagai lelaki ringkih seberat 60 kilogram.
“Makanan yang diberikan bahkan tidak cukup untuk membuat seekor kucing kenyang,” tuturnya.
Bukan hanya lapar, Samoudi harus berhadapan dengan kebijakan “pengabaian medis”. Ia mengaku menderita sepuluh jenis penyakit yang menyerang sekujur tubuhnya, akibat ketiadaan obat-obatan dan sanitasi yang layak. Baginya, ini bukan sekadar kelalaian, melainkan kebijakan penghancuran perlahan terhadap tahanan Palestina.
Data dari Klub Tahanan Palestina mencatat bahwa Samoudi hanyalah satu dari 3.530 warga Palestina yang bernasib serupa dalam status penahanan administratif. Selain dia, masih ada sekitar 40 jurnalis lainnya (termasuk empat perempuan) yang masih mendekam di sel Israel.
Sumber: Diterjemahkan dan disusun ulang dari laporan Al Jazeera










