Setelah berbulan-bulan gencatan senjata yang ringkih, fajar di Jalur Gaza tak kunjung menyingsing. Analisis terbaru Foreign Policy memotret sebuah kebuntuan total, Washington menyodorkan proposal, namun di lapangan, peluru dan ego politik justru saling mengunci.
Majalah Foreign Policy baru saja menurunkan laporan yang muram. Mereka menyebut situasi di Jalur Gaza saat ini bukan lagi sekadar jeda perang, melainkan sebuah “mampat total”. Kawasan ini terancam kekal dalam ketidakpastian setelah rencana perdamaian yang digadang-gadang Presiden Donald Trump membentur tembok tebal.
John Haltiwanger, dalam analisisnya untuk majalah tersebut, menyoroti satu simpul mati yang membuat proses politik lumpuh, isu pelucutan senjata Hamas. Syarat ini menjadi harga mati yang mustahil dikompromikan, mengubah proses diplomasi menjadi panggung sandiwara yang statis dan berbahaya.
Simpul Mati di Titik Ke-20
Sejak Trump mengumumkan 20 poin rencana damainya pada September lalu, persoalan senjata Hamas telah bermutasi menjadi labirin tanpa pintu keluar. Kondisinya kini absurd, Hamas masih memegang kendali di beberapa titik, sementara militer Israel mencengkeram sebagian besar wilayah lainnya.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sempat mencoba meniupkan nada optimis dengan menyebut adanya “tanda-tanda menjanjikan”. Namun, Rubio sendiri menegaskan posisi Washington yang kaku, “Seluruh kesepakatan ini bergantung pada pelucutan senjata Hamas.”
Di sinilah letak ironinya. Hamas bersikeras tak akan melepas satu pun selongsong peluru sebelum tentara Israel angkat kaki sepenuhnya dari Gaza. Sebaliknya, Tel Aviv bersumpah tak akan menarik satu pun prajurit sebelum Hamas “ompong”. Ini adalah lingkaran setan yang sempurna.
Maju Selangkah, Mundur Dua Langkah
Shira Efron, pakar kebijakan Israel dari RAND Corporation yang berbasis di Tel Aviv, merangkum situasi ini dengan sinis: “Satu langkah maju, dua langkah mundur.”
Menurut Efron, sebenarnya tak ada satu pun aktor utama—baik Israel, Hamas, maupun Otoritas Palestina—yang benar-benar ingin rencana ini sukses. Mereka hanya sedang bermain “lempar martabat”: sibuk mengatur strategi agar tidak dianggap sebagai pihak yang menyebabkan rencana tersebut gagal di mata dunia.
| Fase Rencana Damai | Target (Januari) | Status Saat Ini |
| Pemerintahan Teknorat | Transisi Kekuasaan | Lumpuh/Belum Terbentuk |
| Pelucutan Senjata | Penyerahan Senjata Hamas | Ditolak Mentah-mentah |
| Rekonstruksi | Pembangunan Kembali Gaza | Mandek Total |
Menanti Ledakan Berikutnya
Rencana Trump seharusnya sudah memasuki fase kedua pada Januari lalu. Harapannya muluk: pemerintahan transisi terbentuk, senjata digudangkan, dan alat berat mulai bekerja membangun kembali reruntuhan Gaza. Namun faktanya, nol besar. Kecuali pertukaran tawanan yang sempat terjadi di fase pertama, poin-poin lainnya hanya menjadi tumpukan kertas di meja oval.
Kelompok pegiat hak asasi manusia kini mulai berteriak. Krisis kemanusiaan di Gaza tak bisa menunggu ego para politikus. Sementara itu, para pejabat PBB mulai was-was. Gencatan senjata yang ada sekarang hanyalah “gencatan senjata di atas kertas”. Operasi militer skala kecil masih kerap pecah, dan jika negosiasi soal senjata ini benar-benar buntu, mereka memprediksi perang terbuka jilid baru tinggal menunggu waktu.
John Haltiwanger menutup analisisnya dengan satu kesimpulan pahit: Gaza sedang berdiri di persimpangan jalan yang fatal. Tanpa solusi radikal atas sengketa senjata ini, proses politik akan terus berputar-putar di lubang yang sama, sementara warga sipil tetap menjadi pihak yang membayar biaya paling mahal atas kebuntuan ini.
Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari analisis John Haltiwanger di Foreign Policy










