Insiden penyerangan terhadap seorang biarawati Prancis di Kota Tua Al-Quds kembali menyulut alarm bahaya. Di balik tembok kuno, komunitas Kristen kini menghadapi terjangan rasisme sistematis yang berkelindan dengan politik dominasi. Uskup Agung Atallah Hanna bicara blak-blakan tentang masa depan yang kian abu-abu.

Di sela-sela riuhnya peziarah dunia, sebuah video amatir yang viral Jumat lalu menyisakan kegetiran. Seorang biarawati asal Prancis tampak terhuyung setelah diserang secara brutal oleh seorang pemukim ekstremis Yahudi di jantung Kota Tua. Insiden ini bukan kasus tunggal, melainkan puncak gunung es dari rentetan pelecehan yang dialami rohaniwan Kristen di Al-Quds.

Uskup Agung Sebastia dari Gereja Ortodoks Yunani, Atallah Hanna, menyebut fenomena ini bukan sekadar kriminalitas biasa. “Ini adalah rasisme yang sistematis,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera Net. Menurutnya, ada upaya terstruktur untuk menghapus jejak Arab (baik Muslim maupun Kristen) di Kota Suci tersebut.

Impunitas yang Dipelihara

Hanna menunjuk hidung sejumlah politikus ekstrem sayap kanan Israel sebagai bahan bakar di balik kekerasan ini. Ia merujuk pada pernyataan seorang menteri yang menyebut aksi “meludah” pada orang Kristen sebagai “tradisi kuno” yang bukan kejahatan.

“Ketika pejabat negara melegitimasi penghinaan, maka setiap rohaniwan di jalanan menjadi target empuk,” kata Hanna. Di Al-Quds hari ini, pemandangan pastor atau suster yang diludahi, dicaci, hingga dilecehkan simbol agamanya saat melintas, telah menjadi menu harian yang pahit.

Bagi sang Uskup, narasi yang dibangun “Pemerintah” Israel (khususnya PM Benjamin Netanyahu) bahwa Kristen di Israel hidup sejahtera, hanyalah isapan jempol di tengah bayang-bayang genosida yang juga berlangsung di Gaza.

Eksodus Sunyi

Angka-angka tak bisa berbohong. Al-Quds kini hanya menyisakan sekitar 9.900 jiwa umat Kristen yang tersebar di 13 gereja resmi. Mayoritas (87%) didominasi oleh Gereja Latin dan Ortodoks Yunani. Angka ini terus merosot sejak pendudukan 1967.

Penyebabnya bukan tunggal. Selain kekerasan fisik, “cekikan” ekonomi dan tembok pemisah menjadi faktor kunci. Bayangkan, warga Bethlehem hanya butuh 15 menit berkendara ke Al-Quds untuk beribadah di Gereja Makam Kudus (Holy Sepulchre), namun blokade militer membuat perjalanan itu mustahil dilakukan.

“Orang dari belahan dunia lain bisa datang dengan pesawat, tapi orang Palestina yang bertetangga dengan Al-Quds justru dilarang masuk,” tutur Hanna dengan nada masygul.

Kelompok GerejaPerkiraan Jumlah JiwaPersentase
Gereja Latin5.50055,5%
Gereja Ortodoks Yunani2.30023,2%
Lainnya (11 Gereja)2.10021,3%

Dua Identitas, Satu Nasib

Pesan kuat yang dibawa Hanna adalah solidaritas lintas iman. Baginya, penindasan terhadap Kristen adalah penindasan terhadap Islam, dan sebaliknya. “Masjid Al-Aqsa dan Gereja Makam Kudus adalah saudara kembar yang tak bisa dipisahkan di Al-Quds,” tegasnya.

Ia pun meminta para pemimpin Gereja dunia tidak hanya menonton. Melalui inisiatif Kairos Palestine, Hanna terus mengetuk pintu nurani komunitas Kristen internasional agar melihat pendudukan sebagai dosa teologis dan kemanusiaan.


Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari wawancara eksklusif Al Jazeera Net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here