Dahulu mereka adalah tulang punggung pembangunan Gaza. Kini, dua setengah tahun sejak agresi pecah, para pekerja profesional ini terlempar ke tenda-tenda pengungsian. Merayakan Hari Buruh dengan antrean panjang di dapur umum.

SHADI Shuweikh berdiri mematung di depan pintu tendanya pada pagi 1 Mei itu. Tak ada deru mesin pengaduk semen atau teriakan instruksi kepada anak buah. Yang ia saksikan hanya pemandangan rutin yang pahit: para tetangga yang berdesakan, berebut jatah makanan gratis dari dapur umum (tekaya).

Sebelum perang meluluhlantakkan Gaza, Shadi adalah seorang kontraktor bangunan yang disegani. Ia memimpin 60 pekerja terampil, menggarap berbagai proyek mercusuar di seantero Kota Gaza. Kantongnya tebal, hidupnya mapan. Namun, agresi yang telah berjalan 30 bulan ini menyapu bersih segalanya.

“Sembilan tukang terbaik saya gugur. Sisanya cacat permanen,” ujarnya getir. Shadi tidak hanya kehilangan rekan kerja. Rumahnya di lingkungan Shuja’iyya rata dengan tanah. Modal senilai 50 ribu shekel (sekitar Rp260 juta) yang ia simpan di apartemen sewaan raib saat pengeboman. Kini, pria yang dulu menggaji puluhan orang itu harus meringkuk di tenda kain bersama tujuh anggota keluarganya.

Shadi adalah satu dari ratusan ribu potret buram klas pekerja Gaza. Bagi mereka, Hari Buruh bukan lagi soal tuntutan upah layak, melainkan soal cara bertahan hidup satu hari lagi.

Puing-Puing yang Menghimpit

Setali tiga uang dengan Shadi, Jamil Arafat, seorang pandai besi yang dikenal mampu “menaklukkan” kerasnya besi, kini harus menyerah pada keadaan. Bengkel dan rumahnya di distrik Az-Zaitun hancur total. Bersama 12 anggota keluarganya, Jamil kini berjejal di pusat pengungsian.

Dulu, Jamil punya penghasilan tetap yang lebih dari cukup. Sekarang, ia bergantung pada belas kasihan saudara-saudaranya atau kerja serabutan yang hasilnya tak sampai 17 dolar AS (sekitar Rp270 ribu) per bulan. Padahal, harga kebutuhan pokok di Gaza telah meroket ke langit.

“Saya sempat mencoba buka lapak kecil jualan makanan. Tapi barang tidak ada, orang-orang pun tak punya uang untuk beli,” kata Jamil.

Di sudut lain Gaza Barat, Abdullah Habib mencoba menyambung nyawa dengan cara yang mengiris hati. Anak-anaknya kini menjadi tumpuan. Saban hari, mereka menjajakan air bersih kepada sesama pengungsi. Hasilnya? Hanya 15 shekel (sekitar Rp80 ribu) sehari. “Hanya cukup untuk beli roti dan mengecas baterai ponsel,” tuturnya. Abdullah sendiri tak bisa lagi bekerja berat karena cedera bahu akibat serangan udara.

Data di Balik Debu Reruntuhan

Statistik yang dikeluarkan Federasi Umum Serikat Buruh Palestina di Gaza memberikan gambaran yang lebih mengerikan dari sekadar testimoni personal. Sami al-Ammasi, sang ketua federasi, menyebut pasar kerja Gaza telah mengalami kolaps total.

“Target agresi Israel bukan hanya militer, tapi infrastruktur ekonomi. Lahan pertanian dibuldozer, perahu nelayan dihancurkan, dan pabrik-pabrik diratakan,” kata Sami kepada Al Jazeera.

Data Sami menunjukkan angka-angka yang brutal:

  • Pengangguran: Melonjak hingga 80-85%.
  • Kemiskinan: Melanda lebih dari 90% kalangan buruh.
  • Angka Pengangguran: Sekitar 400.000 orang kehilangan pekerjaan (naik dua kali lipat dibanding sebelum perang).
  • Sektor Perikanan: Dari 5.000 nelayan, kini hanya tersisa 500 orang yang berani melaut, itu pun hanya diizinkan dalam jarak 500 meter dari bibir pantai.
  • Sektor Pertanian: 95% lahan di zona perbatasan musnah. Pekerja tani menyusut dari 35.000 menjadi hanya 2.000 orang.

Sektor konstruksi, yang dulu menjadi motor ekonomi Gaza dengan menyerap 40.000 pekerja, kini mati suri. Tak ada semen yang masuk, tak ada batu bata yang tersisa.

Syuhada di Garis Produksi

Yang paling menyesakkan tentu saja hilangnya nyawa. Estimasi awal menunjukkan lebih dari 10.000 pekerja Gaza gugur sejak perang dimulai. Mereka tewas di ladang, di bengkel, atau tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri.

Yousef Fattoum, eks pedagang sayur dan ikan di pasar lokal, kini hanya bisa berharap pada bantuan kemanusiaan. Masalah syaraf di leher dan punggungnya membuat pria ini tak berdaya. “Pasar sudah mati. Modal tidak ada, uang tunai tidak beredar,” keluhnya. Ia membutuhkan setidaknya 50 shekel per hari untuk memberi makan keluarganya, sebuah angka yang kini terasa seperti mimpi di siang bolong.

Hari Buruh di Gaza tahun 2026 ini tidak dirayakan dengan pawai atau pidato kesejahteraan. Di sana, para buruh memperingatinya dengan menatap langit, menunggu bantuan jatuh, atau berharap ekskavator segera datang bukan untuk menggali liat lahat, melainkan untuk memulai rekonstruksi yang entah kapan akan tiba.

Bagi Shadi Shuweikh dan ribuan rekan sejawatnya, “bekerja” kini telah menjadi kemewahan yang paling mereka rindukan.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here