Ritual yang seharusnya khusyuk berubah menjadi sunyi yang dipaksakan. Tahun ini, musim ibadah di Al-Quds berjalan di bawah bayang-bayang pembatasan ketat, menyentuh dua situs paling sakral: Masjid Al-Aqsa dan Gereja Makam Kudus.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, Gereja Makam Kudus ditutup oleh otoritas Israel, sebuah langkah yang melampaui tradisi panjang yang selama ini memberikan kewenangan buka-tutup gereja kepada pemimpin gereja sendiri.

Penutupan ini terjadi bersamaan dengan berlanjutnya pembatasan akses ke Masjid Al-Aqsa, menjadikan musim keagamaan terasa hampa, bukan karena sepi alami, tetapi karena ruang yang dikosongkan secara paksa.

Dari dalam Kota Tua, suasana yang biasanya riuh oleh ratusan ribu peziarah kini berubah drastis. Pekan Suci dan Paskah, yang lazimnya dipenuhi arus umat, tahun ini nyaris tanpa denyut. Lorong-lorong tua yang dulu padat, kini lengang.

Data yang dihimpun menunjukkan, penutupan Gereja Makam Kudus merupakan yang pertama dalam skala seperti ini sejak puluhan tahun terakhir. Langkah tersebut juga dinilai mengabaikan status historis pengelolaan situs-situs suci yang berada di bawah pengawasan Yordania.

Setelah tekanan dari berbagai pihak internasional, otoritas Israel akhirnya mengizinkan sejumlah kecil rohaniwan untuk masuk. Namun jumlahnya dibatasi, tidak lebih dari 15 orang dari tiap denominasi, dan mereka tidak diperbolehkan berkumpul. Bagi banyak pihak, aturan ini bukan sekadar pembatasan teknis, melainkan pengosongan makna dari perayaan itu sendiri.

Sudah lebih dari 37 hari gereja itu tertutup. Pasar-pasar di sekitarnya ikut sunyi. Kawasan yang biasanya menjadi pusat kehidupan spiritual sekaligus ekonomi mendadak kehilangan napasnya.

Seorang peziarah asing menggambarkan hari itu sebagai “sedih dan berat”. Ia berhasil mencapai Al-Quds, namun tak diizinkan memasuki gereja. “Biasanya penuh ribuan orang. Sekarang tertutup sepenuhnya,” katanya.

Tradisi tahunan seperti arak-arakan Minggu Palma dan Sabtu Suci yang biasanya mengarah ke gereja, tahun ini tak terlihat. Umat Kristen terpaksa menggelar ibadah di gereja-gereja lokal, jauh dari pusat ritual yang selama ini menjadi jantung perayaan.

Sejumlah pemuka agama menilai, apa yang terjadi melampaui alasan keamanan. Pastor Elias Awad menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap status quo historis, sekaligus upaya mengubah wajah kota dan ritus keagamaannya.

Di sisi lain, pembatasan tidak berhenti di gereja. Di sekitar Masjid Al-Aqsa, puluhan ribu warga Palestina yang biasanya memadati kawasan itu tertahan di pos-pos militer. Akses yang dulunya sudah terbatas, kini diperketat hingga titik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebelum perang, warga Palestina memang harus mengantongi izin khusus untuk masuk ke Al-Quds. Namun kondisi darurat yang diberlakukan saat ini memperluas pembatasan itu secara signifikan.

Di lorong-lorong sempit Kota Tua, sejumlah kecil jamaah tetap mencoba menjalankan ibadah. Mereka berbicara tentang standar ganda—tentang bagaimana pembatasan diberlakukan berbeda terhadap komunitas yang berbeda.

Seorang perempuan Palestina menyebut larangan itu sebagai bagian dari upaya sistematis untuk menjauhkan mereka dari tempat-tempat suci. “Kami mampu menjaga keberadaan kami di kota ini,” katanya, “tetapi tahun ini kami bahkan tidak diizinkan sampai ke tempat ibadah.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here