Di balik deru mesin perang yang tak kunjung padam sejak Oktober 2023, Israel sebenarnya sedang mempertaruhkan cetak biru masa depannya. Laporan Strategis Tahunan 2026 yang dirilis Pusat Studi Israel Palestina (MADAR) menyingkap satu tesis krusial: rezim Benjamin Netanyahu tidak sekadar sedang berperang, melainkan sedang mencoba memproduksi ulang identitas negara itu sebagai entitas “Super Power” yang kebal terhadap hukum dan batasan internasional.
Laporan yang digawangi peneliti Honida Ghanim ini memotret bagaimana sepanjang 2025 hingga awal 2026, faksi kanan Israel memanfaatkan momentum perang untuk menghapus solusi dua negara dan mengatur ulang tatanan regional sesuai keinginan mereka. Namun, di balik apa yang diklaim sebagai kemenangan militer, Tel Aviv sebenarnya sedang terperosok dalam kebuntuan strategis.
Paradoks Kekuatan di Teheran
Titik kulirminasi dari ambisi ini terjadi pada 28 Februari 2026. Merasa memiliki “surplus kekuatan” setelah rentetan operasi militer setahun sebelumnya, Israel melancarkan serangan besar ke Iran. Tujuannya ambisius: menerjemahkan superioritas udara menjadi hegemoni politik absolut di Timur Tengah. Israel mencoba memanfaatkan apa yang disebut laporan itu sebagai “Momentum Trump” untuk menyapu bersih ancaman regional.
Namun, hasil di lapangan justru berkata lain. Laporan MADAR mencatat adanya jurang lebar antara sasaran yang diumumkan dengan realitas operasi. Perang melawan Iran menunjukkan anomali struktural dalam militer Israel: mereka mampu menghancurkan apa pun secara masif, namun gagal total dalam menciptakan stabilitas politik pasca-serangan. Alih-alih meredam konflik, kekuatan militer yang brutal itu justru memproduksi ulang perlawanan dalam skala yang lebih luas.
Kartu Trump dan Beban Aliansi
Hubungan Netanyahu dengan administrasi Donald Trump memang memberikan ruang gerak luar biasa bagi Israel untuk mengabaikan norma global. Namun, MADAR memberikan peringatan keras. Apa yang terlihat sebagai “kekuatan berlipat ganda” dalam jangka pendek, justru berpotensi menjadi bumerang di masa depan.
Ada pergeseran persepsi yang mulai mengakar di Washington. Israel semakin dilihat sebagai beban (secara keamanan, politik, maupun moral) daripada sekutu strategis. Publik Amerika mulai merasa diseret ke dalam konflik yang tidak sesuai dengan kepentingan nasional mereka. Jika tren ini berlanjut, posisi Israel di peta politik AS bisa berubah dari “aset utama” menjadi “beban sejarah.”
Struktur Politik yang Keropos
Di dalam negeri, kondisi tidak jauh berbeda. Laporan tersebut menemukan bahwa tidak ada alternatif nyata terhadap narasi Netanyahu. Kelompok oposisi pun terjebak dalam logika yang sama: memuja militerisme dan meyakini bahwa kelangsungan hidup hanya bisa dijamin dengan melumat habis musuh.
Sentimen publik telah bergeser ke arah normalisasi kekerasan. Pembersihan etnis di Gaza dan teror di Tepi Barat tidak lagi dianggap sebagai anomali, melainkan instrumen pertahanan negara yang diterima secara luas oleh masyarakat.
Mesin Ekonomi Berbahan Bakar Perang
Yang menarik, laporan ini menyoroti bagaimana Israel bertahan dari kebangkrutan di tengah perang yang melelahkan. Sektor teknologi tinggi (hi-tech) tetap menjadi penyelamat dengan menyumbang 57% dari total ekspor pada paruh pertama 2025.
Israel berhasil mengonversi pengalaman perang menjadi komoditas ekonomi. Ekspor pertahanan mereka mencatat rekor tertinggi senilai US$ 15 miliar pada 2024. Melalui kemitraan strategis dengan raksasa teknologi seperti Google dan Amazon dalam proyek komputasi awan dan kecerdasan buatan (AI) untuk keperluan militer, Israel mempererat ikatan antara kekuatan tempur dan kapitalisme global.










