Enam bulan setelah kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, situasi di Jalur Gaza belum menunjukkan tanda-tanda stabil. Di lapangan, realitas yang muncul justru berlawanan: pelanggaran terus berulang, krisis kemanusiaan makin menajam, dan harapan pemulihan kian menjauh.

Data dari sumber resmi dan lembaga hak asasi di Gaza mencatat lebih dari 2.000 pelanggaran sejak awal masa jeda. Serangkaian insiden itu menyebabkan 756 warga Palestina syahid dan lebih dari 2.100 lainnya terluka. Angka ini terus bergerak naik, menambah panjang daftar korban sejak agresi dimulai pada 7 Oktober 2023 yang kini telah menembus lebih dari 72 ribu syuhada, dengan lebih dari 172 ribu korban luka.

Hidup di Bawah Reruntuhan

Di tengah angka-angka itu, kehidupan warga berjalan dalam bayang-bayang ketidakpastian. Abu Muhammad Syarab, warga Khan Younis, masih mencari jasad anak-anaknya yang tertimbun reruntuhan rumah. Upaya evakuasi terhambat karena alat berat tak kunjung diizinkan masuk.

Di wilayah lain, para pengungsi hidup dengan rasa waswas setiap hari. Kawasan yang disebut “zona kuning” menjadi area terlarang yang tetap rawan tembakan, meski gencatan senjata resmi berlaku. Bagi banyak warga, pulang ke rumah bukan lagi pilihan yang realistis.

“Tidak ada yang berubah. Rasa takut masih ada,” kata Faten Al-Fajam, seorang perempuan pengungsi. Ia menyebut kehidupan setelah gencatan senjata tak lebih dari jeda tanpa kepastian, dengan risiko yang tetap mengintai.

Bantuan Tersendat, Krisis Membesar

Masalah lain muncul dari distribusi bantuan. Data lokal menunjukkan, jumlah truk bantuan yang masuk tak sampai 40 persen dari yang disepakati. Sementara pasokan bahan bakar hanya memenuhi sekitar 15 persen kebutuhan riil.

Dampaknya terasa luas. Listrik lumpuh, air bersih langka, dan sistem sanitasi terganggu. Di saat yang sama, bahan bangunan untuk rekonstruksi hampir tidak masuk, membuat ribuan rumah yang hancur tetap tak tersentuh perbaikan.

Sistem Kesehatan di Ujung Tanduk

Sektor kesehatan menghadapi tekanan paling berat. Kekurangan obat, alat medis, dan pembatasan masuknya peralatan mempercepat laju keruntuhan sistem.

Direktur RS Al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, menyebut kondisi saat ini sebagai yang terburuk sepanjang konflik. Organisasi internasional seperti Doctors Without Borders juga memperingatkan bahwa sistem kesehatan Gaza kini “perlahan dicekik”, seiring berlanjutnya pembatasan.

Rumah sakit yang tersisa dipaksa menampung lonjakan pasien, sementara kemampuan mereka terus menyusut.

Akses Terbatas, Harapan Tertahan

Di perbatasan, kondisi tak kalah genting. Penyeberangan Rafah masih dibatasi ketat. Hanya sekitar 25 persen pergerakan yang difasilitasi, membuat ribuan pasien kehilangan kesempatan mendapatkan perawatan di luar Gaza.

Dalam praktiknya, hanya sekitar 70 pasien per bulan yang berhasil keluar. Angka ini jauh dari cukup untuk menampung kebutuhan mendesak.

Salah satu kisah yang menggambarkan situasi ini adalah bayi Luma Abu Rida, berusia lima bulan. Ia mengalami gangguan pernapasan akut dan bergantung pada oksigen. Kesempatan untuk dirujuk ke luar Gaza terhenti setelah penyeberangan ditutup mendadak. Kini, hidupnya menggantung di antara waktu dan ketidakpastian.

Gaza yang Tak Pernah Benar-Benar Tenang

Enam bulan setelah gencatan senjata, Gaza masih terasa seperti wilayah yang belum pernah benar-benar keluar dari perang. Pelanggaran militer terus terjadi, sementara krisis kemanusiaan bergerak tanpa rem.

Di tengah reruntuhan dan keterbatasan, warga bertahan dengan pilihan yang semakin sempit. Gencatan senjata, yang semestinya menjadi awal pemulihan, justru terasa seperti jeda rapuh—tanpa jaminan, tanpa perlindungan nyata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here