April kembali datang, tapi bagi keluarga bocah Palestina Walid Khaled Ahmad, bulan ini tak lagi sekadar penanda waktu. Ia berubah menjadi ruang ingatan yang berat, tempat ulang tahun yang seharusnya dirayakan, kini digantikan oleh kabar kematian yang tak pernah benar-benar selesai.

Walid, remaja 17 tahun asal Silwad, timur Ramallah, syahid di penjara Israel pada 24 Maret 2025. Laporan medis pasca-autopsi menyebutkan ia meninggal akibat kelaparan yang disengaja, sebuah praktik yang bukan kasus tunggal di balik tembok penjara Israel.

Bagi keluarganya, April dulunya identik dengan perayaan. Hari Anak Palestina yang diperingati setiap bulan ini selalu beriringan dengan ulang tahun Walid. Kini, tanggal yang sama menjadi luka yang terus diulang, tahun kedua mereka memperingatinya dengan satu tuntutan sederhana: memulangkan jasad anak mereka.

“Walid anak pertama saya. Lahir April 2007. Selama 17 tahun, dia selalu istimewa,” kata ayahnya, Khaled Ahmad.

Nada suaranya tak perlu ditinggikan untuk menunjukkan kehilangan. Ia menceritakan anaknya sebagai sosok yang dicintai keluarga dan lingkungan, unggul di sekolah, dan tengah menempuh tahun terakhir sebelum ujian akhir. Guru-gurunya bahkan memperkirakan ia akan menjadi salah satu siswa terbaik di wilayah Ramallah dan Al-Bireh.

Semua itu berhenti saat penangkapan terjadi.

“Penjajah tidak hanya menahannya. Mereka membunuhnya perlahan, dengan kelaparan,” ujar Khaled.

Di luar catatan akademik, Walid dikenal sebagai penjaga gawang berbakat. Sejak kecil, ia berlatih di Akademi Al-Asour di kampungnya. Bakatnya tak luput dari perhatian, ia sempat direkomendasikan oleh Joseph Blatter Academy untuk memperkuat tim nasional Palestina usia muda.

Beberapa waktu sebelum ditangkap, sebuah klub lokal bahkan ingin merekrutnya. Namun Walid menolak. Ia memilih tetap bersama pelatih yang telah membesarkan kemampuannya sejak kecil.

“Dia tidak ingin meninggalkan orang yang sudah membimbingnya,” kata sang ayah. “Dia tahu bagaimana membalas kebaikan.”

Mimpi itu, seperti banyak hal lain, berhenti di dalam sel.

Keluarga Walid mencoba menempuh jalur diplomatik. Ia memiliki kewarganegaraan Brasil, dan ayahnya telah berulang kali menghubungi kedutaan Brasil agar memberikan tekanan kepada Israel untuk mengembalikan jasad anaknya.

Namun setahun berlalu tanpa hasil. Kini, harapan mereka menyusut menjadi sesuatu yang paling dasar: sebuah makam.

“Kami hanya ingin menguburkannya. Supaya kami bisa datang ketika rindu,” ujar Khaled.

Ia juga menyerukan perhatian dunia internasional terhadap kondisi anak-anak di penjara Israel. Menurutnya, banyak mantan tahanan anak yang keluar dengan cerita serupa—dipukul, diperlakukan kasar, dan hidup dalam tekanan.

“Tidak ada penjara di dunia yang memperlakukan anak-anak seperti ini,” katanya, merujuk pada kebijakan yang berada di bawah otoritas Itamar Ben-Gvir.

Data yang dirilis bertepatan dengan Hari Anak Palestina memperlihatkan gambaran yang lebih luas. Lebih dari 350 anak Palestina saat ini masih berada di penjara Israel.

Sejak perang di Gaza dimulai pada 2023, sedikitnya 1.700 anak ditangkap di Tepi Barat, disertai puluhan lainnya dari Gaza. Laporan gabungan sejumlah lembaga (termasuk Komisi Urusan Tahanan, Klub Tahanan Palestina, dan Addameer) menyebut adanya pelanggaran serius yang bersifat sistematis.

Praktik itu meliputi penghilangan paksa, larangan kunjungan keluarga, pemutusan komunikasi, hingga kekerasan fisik dan penggeledahan yang merendahkan martabat.

Dalam banyak kasus, keluarga bahkan tidak mengetahui secara pasti jumlah maupun kondisi anak-anak mereka.

Salah satu yang paling disorot adalah praktik “penahanan administratif”, penahanan tanpa dakwaan berdasarkan berkas rahasia. Saat ini, lebih dari 180 anak berada dalam status tersebut, angka tertinggi sepanjang sejarah gerakan tahanan Palestina.

Bagi anak-anak ini, tekanan bukan hanya datang dari kurungan fisik, tetapi juga dari ketidakpastian. Masa tahanan bisa diperpanjang sewaktu-waktu, bahkan menjelang hari pembebasan, membuat mereka dan keluarga terjebak dalam siklus kecemasan yang tak berujung.

Di tengah perang, situasi itu makin memburuk. Anak-anak tahanan hampir sepenuhnya terisolasi, tanpa kunjungan keluarga, tanpa akses komunikasi, dan dengan pembatasan ketat terhadap kunjungan pengacara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here