Pagi Idul Fitri di Jalur Gaza tidak datang dengan kemewahan, tetapi dengan gema yang bertahan. Dari atas puing-puing masjid yang hancur hingga lapangan terbuka di samping tenda pengungsian, puluhan ribu warga Palestina tetap menunaikan salat Id, Jumat pagi (20/3/2026).
Takbir berkumandang, lantang, berlapis, saling menyahut. Di tengah lanskap yang dipenuhi reruntuhan, suara itu seperti menolak tunduk. Sebuah upaya menjaga yang tersisa: keyakinan, dan ingatan tentang hari raya.
Di banyak titik, salat digelar di lokasi darurat. Ada yang berdiri di atas sisa-sisa bangunan masjid, ada pula yang menggelar sajadah di tanah lapang dekat tenda. Sebagian besar masjid di Gaza telah hancur akibat serangan Israel, memaksa warga menciptakan ruang ibadah sendiri dari apa yang masih ada.
Namun suasana itu tak sepenuhnya utuh. Di wajah para jamaah, kesedihan sulit disembunyikan. Banyak di antara mereka kehilangan anggota keluarga, rumah, atau keduanya sekaligus dalam perang yang belum lama berlalu.
Hari Raya di Tengah Krisis
Idul Fitri tahun ini datang di tengah situasi kemanusiaan yang belum pulih. Blokade masih berlangsung, pengungsian belum berakhir, dan ratusan ribu warga tetap bertahan di tenda atau pusat penampungan dengan keterbatasan pangan, air, dan layanan dasar.
Meski demikian, ada satu hal yang sedikit berbeda. Selama beberapa jam di pagi hari raya, suasana relatif lebih tenang dibandingkan Idul Fitri dalam dua tahun terakhir, yang kerap diiringi eskalasi militer dan serangan udara.
Ruang tenang itu, meski sempit, dimanfaatkan warga untuk menjalankan ibadah—sesuatu yang sebelumnya tak selalu mungkin dilakukan.
Bayang-bayang Kehilangan
Di hari yang semestinya penuh sukacita, ingatan tentang kehilangan justru terasa dekat. Lebih dari 72 ribu warga Palestina telah syahid sejak agresi dimulai, sementara sekitar 8 ribu lainnya masih dinyatakan hilang, banyak di antaranya diyakini tertimbun di bawah reruntuhan.
Pencarian korban masih berlangsung di sejumlah lokasi. Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia hadir dalam percakapan, dalam doa, dan dalam tatapan yang kosong.
Khotbah Idul Fitri yang disampaikan para khatib mengarah pada satu pesan: pentingnya solidaritas. Mereka menyerukan agar warga saling menguatkan, menjaga hubungan keluarga, dan tetap bersatu menghadapi tekanan yang terus berlangsung.
Merawat yang Tersisa
Di antara barisan jamaah, terlihat keluarga membawa anak-anak mereka. Sebagian menggenggam tangan kecil itu erat, seolah memastikan mereka tetap berada di tengah keramaian yang tak sepenuhnya aman.
Ucapan selamat Idul Fitri terdengar singkat, tanpa banyak perayaan. Tapi kehadirannya menjadi penanda bahwa hari raya belum sepenuhnya hilang dari kehidupan mereka.
Di Gaza, Idul Fitri tahun ini mungkin tak datang dengan pakaian baru atau hidangan melimpah. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, suara takbir di atas puing, sajadah di tanah terbuka, dan tekad untuk tetap merayakan, meski luka belum benar-benar reda.










