Di jantung Kamp Al-Shati, barat laut Kota Gaza, berdiri sebuah bangunan tanpa tangga. Dindingnya retak, lantainya terbuka, dan sebagian strukturnya seperti menggantung di udara. Di dalamnya, keluarga Miqdad tetap bertahan, bukan karena aman, tetapi karena tak punya pilihan lain.

Di lantai empat bangunan itu, Jihad Miqdad (Abu Muhammad) tinggal bersama istrinya, Fatima, dan anak-anak mereka. Akses ke lantai tersebut hanya melalui tangga kayu darurat. Setiap langkah ke atas adalah risiko. Setiap malam, kemungkinan runtuh menjadi bayangan yang tak pernah benar-benar pergi.

Beberapa bulan lalu, saat agresi memuncak, keluarga ini sempat mendapat perintah evakuasi dari tentara Israel. Mereka keluar tanpa membawa apa-apa, tanpa makanan, tanpa perlindungan. Setengah jam kemudian, ketika kembali, mereka mendapati rumah tetangga sudah rata dengan tanah.

Bangunan mereka masih berdiri. Tapi sekadar berdiri.

“Rumah ini seperti hidup di antara dua keadaan,” kata Abu Muhammad. “Tidak benar-benar aman, tapi belum sepenuhnya hancur.”

Bertahan di Ambang Runtuh

Bangunan empat lantai itu mengalami kerusakan berat. Tangga utama hilang. Lift hancur. Tak ada listrik. Air harus diangkut dari tangki di jalan, dibawa naik secara manual. Setiap hari menjadi rutinitas yang melelahkan sekaligus berbahaya.

Anak-anak lebih banyak diam daripada bermain. Di ruang sempit yang nyaris tak layak huni, pertanyaan tentang masa depan menggantung tanpa jawaban.

“Naik turun saja sudah berisiko,” ujar Abu Muhammad. “Kami takut anak-anak jatuh, bahkan orang dewasa pun bisa terpeleset kapan saja.”

Ia mengaku istrinya beberapa kali hampir terjatuh dari balkon saat menjemur pakaian. “Semua terasa rapuh,” katanya.

Namun ketika ditanya mengapa tetap bertahan, jawabannya sederhana: “Apa alternatifnya? Tidur di jalan? Reruntuhan ini masih sedikit lebih baik.”

Nyaris Terjatuh, Tapi Tetap Bertahan

Fatima Miqdad masih mengingat satu momen yang nyaris merenggut nyawanya. Saat memasang tali jemuran di balkon, kakinya tergelincir. Ia hampir jatuh ke ruang kosong di bawah.

“Saat itu saya merasa semuanya selesai,” katanya. “Seolah hidup saya hilang begitu saja.”

Ia tak meminta banyak. “Kami hanya butuh satu karavan, tempat tinggal sementara yang aman,” ujarnya. Namun bantuan semacam itu sulit masuk ke Gaza.

Banyak unit tempat tinggal darurat tertahan di perbatasan. Pembatasan yang diberlakukan otoritas Israel membuat distribusi bantuan berjalan tersendat, bahkan untuk kebutuhan paling mendasar seperti tempat tinggal.

“Harapan kami berkurang setiap hari,” kata Fatima. “Tapi kami tetap bertahan.”

Rumah yang Tak Lagi Melindungi

Bangunan tempat keluarga Miqdad tinggal bukan lagi rumah dalam pengertian biasa. Ia hanyalah struktur beton yang kelelahan. Dinding retak, balkon tanpa pengaman, instalasi air dan listrik tak berfungsi.

Di atas mereka, sisa mesin lift dari bangunan tetangga menggantung di lantai atas, sewaktu-waktu bisa jatuh.

“Kami tidur dengan rasa waspada,” kata Abu Muhammad. “Bukan karena suara ledakan, tapi karena takut atap runtuh.”

Untuk mendapatkan air, ia harus membawa jeriken berat menaiki tangga kayu hingga empat lantai. Aktivitas yang bagi banyak orang sederhana, di sini berubah menjadi pekerjaan berisiko.

“Rumah ini berdiri di antara gravitasi dan ketidakpastian,” ujarnya.

Krisis Hunian yang Meluas

Kisah keluarga Miqdad bukan pengecualian. Data PBB hingga awal 2026 menunjukkan sekitar 92 persen rumah di Gaza (sekitar 436 ribu unit) hancur atau rusak berat akibat perang. Sebagian besar warga kini hidup tanpa tempat tinggal layak.

Meski kesepakatan gencatan senjata telah berjalan sejak Oktober tahun lalu, distribusi bantuan, termasuk hunian darurat, masih menghadapi hambatan serius.

Laporan sejumlah lembaga kemanusiaan menyebut puluhan truk pembawa karavan dan bahan bangunan kerap tertahan berjam-jam hingga berhari-hari di perbatasan. Dalam beberapa kasus, pengiriman bahkan dibatalkan dengan alasan keamanan atau ketidaksesuaian teknis.

Akibatnya, ribuan keluarga terjebak dalam situasi serupa: memilih antara tinggal di bangunan yang bisa runtuh kapan saja, atau hidup di ruang terbuka tanpa perlindungan.

Bagi keluarga Miqdad, pilihan itu sudah jelas, meski sama-sama berisiko.

Di dalam bangunan yang nyaris runtuh itu, mereka tidur dengan mata setengah terjaga. Bukan untuk menatap langit, tetapi untuk memastikan atap masih ada saat pagi tiba.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here