Musim drama Ramadhan 2026 menghadirkan satu karya yang terasa berbeda. Serial “Sahab al-Ard” (Pemilik Tanah) tidak sekadar menyajikan cerita tentang perang, melainkan berusaha merekamnya, seolah kamera drama berubah menjadi mata saksi yang menatap langsung kehidupan warga Gaza di tengah kehancuran.

Sejak episode-episode awal, serial ini tidak membangun kisah dengan cara yang biasa. Perang tidak ditempatkan sebagai latar belakang semata, tetapi sebagai kenyataan yang menembus setiap sudut kehidupan manusia.

Beberapa adegan yang tampak sederhana justru memuat makna yang dalam: sebuah album foto lama yang diselamatkan keluarga dari bawah reruntuhan lalu dibawa ke tenda pengungsian, sisa rumah yang hanya menyisakan dinding-dinding pecah akibat pemboman Israel, hingga seorang anak yang sudah terluka namun kembali menjadi sasaran ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit. Seolah jalan menuju keselamatan pun berubah menjadi jalan yang penuh bahaya.

Luka Psikologis Perang

Serial ini tidak berhenti pada penggambaran tragedi. Ia masuk lebih jauh ke dalam dampak psikologis perang, terutama melalui sudut pandang seorang dokter perempuan asal Mesir yang belum terbiasa menghadapi kekejaman konflik.

Berbeda dengan para dokter Palestina yang bekerja bersamanya. Mereka tampak lebih siap menghadapi kehilangan, meski bukan berarti mereka kebal terhadap rasa sakit. Bagi mereka, kabar satu keluarga yang gugur sekaligus bukan lagi sesuatu yang mengejutkan.

Kesedihan seperti ditunda (disimpan sementara) hingga perang benar-benar berakhir.

Ketegangan yang Dibangun dari Detik-detik

Salah satu kekuatan utama serial ini terletak pada cara ia membangun ketegangan dramatis.

Banyak adegan berlangsung di dalam rumah sakit, ruang yang secara fisik sempit namun dipenuhi puluhan kisah pilu yang bersinggungan di antara dindingnya.

Di sana waktu terasa berjalan dalam hitungan detik. Beberapa menit saja bisa menjadi batas antara sebuah rumah yang tiba-tiba lenyap akibat serangan Israel, atau antara hidup dan mati di meja operasi di rumah sakit yang sewaktu-waktu bisa menjadi target berikutnya.

Peringatan serangan udara dalam serial ini tidak hadir seperti kabar singkat dalam berita televisi. Ia datang sebagai guncangan psikologis yang mengacaukan suasana seluruh tempat.

Menariknya, ketegangan bukan justru dibangun dari ledakan. Yang terasa paling menekan adalah momen-momen menunggu: suara sirene, langkah tergesa tenaga medis, tangan-tangan gemetar yang mencoba menyelamatkan apa saja yang bisa dibawa.

Kamera serial ini tidak mengejar gambar ledakan. Ia justru menangkap detail kecil (ketakutan di wajah manusia, kepanikan yang sunyi) yang memperlihatkan rapuhnya manusia di hadapan keganasan mesin perang Zionis.

Pertanyaan yang mengemuka bukan lagi kapan bom akan jatuh, melainkan bagaimana manusia masih bisa melanjutkan hidup ketika hitungan mundur menuju kematian tidak pernah benar-benar berhenti.

Mengembalikan Wajah Manusia di Balik Angka

Serial ini juga berusaha memulihkan dimensi kemanusiaan yang sering hilang dalam laporan berita.

Di layar berita, korban sering kali tampil sebagai angka. Dalam serial ini, mereka kembali menjadi manusia dengan cerita masing-masing.

Penonton diajak mengikuti kehidupan para tokohnya: Nasser, pemuda yang terus bertanya tentang makna kepahlawanan; Paman Ibrahim yang hidup dengan Alzheimer; hingga Majd, fotografer yang mempertaruhkan nyawanya demi merekam kenyataan.

Setiap karakter menghadirkan bentuk perlawanan kemanusiaan yang berbeda: menolak tunduk pada penghinaan, bertahan di tengah bahaya, menjaga identitas, serta mempertahankan martabat di tengah kepungan dan kekacauan.

Hidup sebagai Bentuk Perlawanan

Di tengah kehancuran, serial ini menunjukkan sesuatu yang sering luput dari perhatian: kemampuan rakyat Palestina untuk terus memegang kehidupan.

Bukan sebagai kemewahan, melainkan sebagai bentuk perlawanan sehari-hari.

Tokoh-tokoh asal Mesir (seperti dokter dan sopir ambulans) ditampilkan memberi dukungan tulus tanpa syarat kepada warga Gaza. Sementara itu, seorang pemuda bernama Ali yang bekerja sebagai relawan medis memilih tetap menjalankan tugasnya bahkan pada hari pernikahannya.

Namun pada saat yang sama, ia bersikeras untuk tetap menikah. Bukan sekadar pesta, tetapi sebagai cara menghadirkan secercah kebahagiaan bagi tunangannya yang telah kehilangan seluruh keluarganya.

Di tengah reruntuhan, orang-orang berkumpul memberi ucapan selamat. Sebuah momen kecil yang seakan menyatakan bahwa kehidupan masih ada, meski perang, kehancuran, dan kematian terus mengelilinginya.

Kepahlawanan yang Memiliki Harga

Meski demikian, serial ini tidak menggambarkan kepahlawanan sebagai slogan kosong.

Majd, sang fotografer, gugur saat mendokumentasikan kejadian dengan kameranya. Rekaman yang ia tinggalkan menjadi saksi atas kebrutalan pendudukan.

Sementara itu, Nidal (pemuda yang mencintai seorang gadis dan pernah melindunginya dari seorang pemukim Zionis) juga gugur ketika mencoba menyelamatkannya sekali lagi.

Gadis itu, Karma, akhirnya ditangkap pasukan penjajah Israel karena ayahnya masuk dalam daftar buronan. Seorang perwira Israel bahkan mengancamnya dengan memperlihatkan dua adik perempuannya sebagai alat tekanan psikologis yang kejam.

Semua peristiwa itu seakan menjawab pertanyaan yang pernah dilontarkan Nasser kepada dokter asal Mesir:

“Apakah kami benar-benar pahlawan?”

Dalam serial ini, kepahlawanan tidak terasa dibuat-buat. Ia hadir sebagai kenyataan pahit, sebuah pilihan untuk mempertahankan tanah dan martabat meski risikonya adalah kehilangan nyawa.

Retak di Tubuh Tentara Israel

Salah satu adegan yang paling membekas adalah kemunculan seorang perwira perempuan Israel yang berbicara dalam siaran langsung.

Dalam adegan tersebut, ia membongkar kebohongan para petinggi militer yang selama ini mengklaim melindungi warga sipil dan lansia. Ia mengaku menerima perintah yang justru bertentangan dengan pernyataan resmi mereka.

Dengan suara bergetar, ia mengatakan tidak lagi mampu tidur karena bayangan dari apa yang telah ia lakukan.

Adegan ini memang bagian dari drama, tetapi ia bersinggungan dengan kenyataan yang lebih luas.

Sejumlah laporan menunjukkan meningkatnya tekanan psikologis di tubuh militer Israel sejak perang Gaza dimulai. Dalam periode 2024 hingga 2025, ratusan tentara Israel dilaporkan mengakhiri hidupnya sendiri, sementara banyak lainnya mengalami gangguan serius seperti stres pascatrauma dan kecemasan berat akibat paparan kekerasan yang terus-menerus.

Lebih dari Sekadar Drama

Pada akhirnya, “Sahab al-Ard” tidak sekadar menjadi serial drama.

Ia berubah menjadi kesaksian kemanusiaan tentang perang, tentang bagaimana kehidupan sehari-hari, hal-hal kecil yang sering dianggap remeh, justru menjadi cermin paling jujur dari penderitaan sekaligus keteguhan manusia yang hidup di tengah konflik.

Di antara tenda pengungsian, ruang operasi rumah sakit, dan reruntuhan rumah, serial ini menunjukkan satu hal yang sederhana namun kuat: di tengah perang yang mencoba merenggut segalanya, manusia tetap berusaha mempertahankan hidupnya, dan itu sendiri sudah menjadi bentuk perlawanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here