Pengumuman World Central Kitchen (WCK) untuk menghentikan seluruh operasi memasak di Jalur Gaza mulai Jumat mendatang memicu gelombang kecemasan di tengah ribuan keluarga. Sejak perang meletus, dapur ini bukan sekadar penyedia makanan, ia menjadi penopang harian yang nyaris pasti bagi mereka yang kehilangan segalanya.

Angkanya berbicara lantang: lebih dari 272 juta porsi makanan telah didistribusikan sejak November 2023. Namun keputusan penghentian ini membuka pertanyaan yang jauh lebih sunyi dan tajam, ke mana warga Gaza akan mencari kepastian pangan berikutnya?

Dalam laporan yang dihimpun Pusat Informasi Palestina, suara-suara keluarga terdengar gamang. Bagi mereka, berhentinya operasi dapur berarti ancaman langsung terhadap kemampuan memenuhi kebutuhan paling dasar: makan.

Hambatan di Lapangan

Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan penghentian layanan WCK tak bisa dilepaskan dari pembatasan berat yang diberlakukan Israel. Jumlah truk bantuan yang diizinkan masuk disebut menyusut drastis, dari 25 truk per hari menjadi hanya lima.

Selain itu, dapur kemanusiaan ini dilaporkan menghadapi tekanan untuk membeli bahan baku dari dalam Israel, menggantikan jalur pasokan sebelumnya dari Mesir. Perubahan ini tak hanya menggeser pola distribusi bantuan, tetapi juga menaikkan biaya dan mempersempit ruang gerak kemanusiaan.

Pemerintah Gaza memperingatkan, jika pembatasan arus bantuan terus berlangsung, wilayah tersebut berada di ambang krisis kemanusiaan yang lebih dalam. Mereka menegaskan tanggung jawab pencegahan krisis berada pada pihak yang mengendalikan akses bantuan.

Di saat yang sama, para jurnalis diminta memberitakan isu ini secara profesional dan proporsional, tanpa membesar-besarkan, namun juga tanpa menutupi dimensi kemanusiaannya.

“Itu Bukan Sekadar Makanan”

Di sebuah tenda pengungsian di barat Kota Gaza, Ummu Muhammad Miqdad (42), ibu lima anak, menuturkan dengan mata yang menyimpan letih panjang, “Porsi yang datang setiap hari bukan hanya makanan. Itu tanda bahwa masih ada yang mengingat kami. Saat makanan tiba, saya tahu anak-anak saya bisa tidur tanpa menangis karena lapar.”

Suaminya kehilangan pekerjaan. Harga bahan pokok melambung. “Kalau dapur berhenti, apa yang harus kami lakukan? Kembali membagi satu roti untuk lima anak?” ujarnya lirih. “Lapar itu dimulai dari rasa takut akan hari esok, bahkan sebelum perut benar-benar kosong.”

Menghitung Pekan dari Jumlah Porsi

Dari utara Gaza, Abu Alaa Al-Deeb (55), ayah tujuh anak, mengaku keluarganya sepenuhnya bergantung pada makanan siap saji dari dapur bantuan.

“Kami menghitung pekan berdasarkan tujuh porsi. Jika satu hari hilang, kami berutang di warung. Jika berhenti total, kami masuk lingkaran utang dan kelaparan.”

Pasar memang ada, katanya, tetapi harga melampaui daya beli. Tepung menjadi beban, minyak goreng terasa seperti kemewahan. “Makanan siap saji menutup celah besar. Sekarang kami tak tahu bagaimana menambalnya.”

Ketakutan Seorang Ibu

Di Khan Younis, Hanaa Abu Nasr (29), ibu dari seorang bayi, menyuarakan kecemasan berbeda.
“Anak saya butuh gizi seimbang. Kadang ada sayur atau protein dalam porsi itu. Itu penting untuk tumbuh kembangnya. Jika distribusi berhenti, kami kembali ke nasi dan roti saja, kalau tersedia.”

Ia terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Saya takut anak-anak kami tumbuh dengan keyakinan bahwa menunggu bantuan adalah hal yang normal.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here