Menjelang Ramadan, Kamp Al-Bureij di Jalur Gaza menghadapi kenyataan yang telanjang: masjid berubah menjadi puing, mimbar membisu, dan jamaah berkeliling mencari tempat sekadar untuk bersujud.

Dari halaman Masjid Al-Furqan (dulu salah satu masjid terbesar di kamp itu, kini tinggal reruntuhan) koresponden Al Jazeera Muhammad Washah melaporkan pengurus bahkan tak sempat mengevakuasi mushaf maupun pengeras suara sebelum bangunan dihantam bom. Pemandangan serupa, katanya, berulang di hampir seluruh masjid kamp.

Syekh Nasser Abu Ghargoud menegaskan hampir semua masjid di Kamp Al-Bureij menjadi sasaran. Sebanyak 14 masjid di dalam kamp dan 10 lainnya di luar “garis kuning” hancur total. Bersama bangunan, ikut lenyap perpustakaan, mimbar, dan seluruh perlengkapan ibadah. “Tak ada yang tersisa,” ujarnya.

Awal perang membuat salat dipindahkan ke sekolah-sekolah UNRWA. Ketika sekolah tak lagi memadai, warga mendirikan musala dari terpal, lalu kayu, dan kini memanfaatkan rumah kaca pertanian.

Namun tempat darurat itu nyaris tak layak: panas menyengat saat musim panas, dingin menusuk di musim dingin, atap berlubang bocor saat hujan, tanpa listrik, dan minim pengeras suara. Para imam terpaksa mempersingkat khutbah Jumat demi menghindari jamaah jatuh sakit. Pada hari-hari hujan, khutbah bahkan kerap dibatalkan karena tak ada tempat kering.

Krisis juga menyentuh hal paling dasar: mushaf. Pengurus membagikan Al-Qur’an sobek yang digali dari bawah puing agar para santri tetap bisa menghafal. Lansia membawa kursi dari rumah masing-masing karena tak tersedia tempat duduk. Sementara perempuan praktis kehilangan ruang ibadah sejak perang dimulai, sebab lantai khusus perempuan yang dulu ada kini tak lagi berdiri.

Menurut Abu Ghargoud, masa depan masjid di kamp tampak suram. Terpal dan rumah kaca cepat rusak oleh cuaca dan harus diganti terus-menerus, sementara rekonstruksi tak memiliki kepastian.

Meski demikian, warga tetap menyambut Ramadan dengan apa yang tersisa. Azan masih berkumandang (kadang dari dalam rumah kaca, kadang dari tenda darurat) sebuah potret ibadah yang bertahan di tengah pengepungan dan kehancuran.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here