Harapan ribuan warga Gaza untuk mengakses layanan medis kembali pupus. Pembukaan kembali Perlintasan Rafah yang semestinya menjadi jalan keluar bagi pasien dan korban luka justru berubah menjadi lorong penuh ketidakpastian. Sejak Selasa kemarin (3/2/2026), Israel kembali memberlakukan serangkaian hambatan yang membuat perjalanan medis warga Gaza tersendat, bahkan dibatalkan tanpa penjelasan.
Penundaan terbaru menimpa keberangkatan gelombang ketiga pasien dan korban luka, sekaligus kepulangan warga dari Mesir ke Jalur Gaza melalui jalur darat Rafah. Proses yang diharapkan menjadi rutinitas kemanusiaan berubah menjadi mekanisme seleksi yang kaku dan berlarut.
Juru bicara Bulan Sabit Merah Palestina di Gaza, Raed Al-Nams, menyatakan pihaknya menerima pemberitahuan resmi pembatalan koordinasi perjalanan pasien dan korban luka, tanpa disertai alasan apa pun. Padahal, tim medis telah bersiap memberangkatkan kasus-kasus kritis yang kondisinya tak memungkinkan lagi untuk menunggu.
Koresponden Al Jazeera di Rafah Barat, Ghazi Al-Alloul, menilai penundaan yang diberlakukan Israel merupakan pelanggaran baru terhadap kesepakatan yang ada. Dampaknya nyata: penderitaan warga Gaza kian bertambah, terutama bagi pasien yang namanya tercantum dalam daftar tunggu—daftar yang, menurutnya, dikendalikan sepenuhnya oleh militer Israel.
Pengalaman pahit juga dialami pasien yang berhasil melintas sehari sebelumnya. Bus yang mengangkut mereka tertahan berjam-jam akibat pemeriksaan ketat dan prosedur keamanan Israel. Warga yang kembali ke Gaza pun tak luput dari perlakuan serupa. Mereka baru tiba pada dini hari setelah melalui rangkaian pemeriksaan panjang.
Menurut laporan Al Jazeera, satu kali perjalanan keluar atau masuk Gaza melalui Rafah dapat memakan waktu 16 hingga 24 jam. Beban ini terasa amat berat bagi pasien dan pendampingnya, begitu pula bagi warga yang kembali, yang kerap harus menjalani interogasi berjam-jam di pos pemeriksaan.
Pada hari pertama pembukaan, seharusnya 50 pasien beserta pendamping diberangkatkan. Namun realitas berkata lain: hanya lima pasien dan tujuh pendamping yang diizinkan keluar. Jumlah yang sama diberlakukan bagi warga yang kembali ke Gaza. Pola ini terulang sehari setelahnya—40 orang diizinkan keluar, dan 40 lainnya masuk—menunjukkan pembatasan yang ketat dan serba dihitung.
Intimidasi dan Perlakuan Merendahkan
Seorang perempuan Palestina yang baru kembali ke Gaza mengaku mengalami perlakuan merendahkan dari pasukan Israel. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, ia menyebut adanya keterlibatan kelompok milisi Abu Shabab yang membantu Israel memeriksa warga dan membawa sebagian dari mereka ke sesi interogasi intelijen.
Menurut kesaksiannya, praktik intimidasi itu sengaja dilakukan untuk menakut-nakuti warga Palestina di luar Gaza agar enggan kembali ke wilayah tersebut.
Di sisi lain, Israel juga masih menutup akses masuk bantuan kemanusiaan melalui Rafah. Hingga kini, tak ada kejelasan jadwal pembukaan, meski ribuan truk milik lembaga kemanusiaan internasional tertahan di perbatasan akibat pembatasan Israel.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres kembali menyerukan agar jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza dibuka secara luas, termasuk melalui Perlintasan Rafah, demi mencegah krisis kemanusiaan yang kian memburuk.
Sumber: Al Jazeera










